Jakarta, CNBC Indonesia - China dilaporkan melakukan pembicaraan langsung dengan golongan Houthi di Yaman untuk memastikan kapal tanker minyaknya tetap dapat melintas dengan kondusif di area Laut Merah bagian selatan. Langkah ini dilakukan setelah golongan nan didukung Iran tersebut mengumumkan blokade terhadap akses ke pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi, nan membuka front baru dalam bentrok Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya.
Mengutip Reuters Rabu (29/7/2026), enam sumber nan mengetahui persoalan tersebut mengatakan Beijing meminta Houthi memberikan agunan keamanan bagi kapal tanker China nan melintas melalui Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis nan menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. China disebut menjadi salah satu negara pertama nan menghubungi Houthi secara langsung mengenai keamanan pelayaran melalui jalur tersebut.
Langkah Beijing bermaksud menjaga kelancaran ekspor minyak dari terminal Saudi di Laut Merah. Ini khususnya untuk wilayah Yanbu, guna menutup potensi kekurangan pasokan akibat terganggunya pengedaran daya setelah Iran secara efektif menutup akses Selat Hormuz di pintu keluar Teluk Persia.
Sayangnya, Kementerian Transportasi China, instansi media Houthi, dan Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut.
Kapal China Dapat Izin Satu per Satu
Data pencarian kapal dari Kpler, LSEG, dan MarineTraffic menunjukkan sedikitnya empat kapal tanker telah memuat minyak mentah dari pelabuhan Saudi menuju China dan sukses melewati Bab el-Mandeb sejak Houthi mengumumkan pembatasan pelayaran. Salah satu sumber mengatakan pejabat China memberikan izin perjalanan kepada setiap kapal secara perseorangan melalui komunikasi dengan Houthi.
Dua pejabat regional nan mendapat info dari pemerintah Iran. Mereka mengatakan kedua pihak juga telah memberi tahu Teheran mengenai pengaturan tersebut.
Sementara itu, Houthi sebelumnya mengirimkan peringatan kepada perusahaan pelayaran internasional bahwa kapal nan melakukan aktivitas bongkar muat di pelabuhan Saudi dapat menjadi sasaran serangan. Kekhawatiran keamanan membikin sejumlah kapal tanker mengubah rute perjalanan.
Dua kapal supertanker minyak, New Champion dan New Prime, dilaporkan kembali berlayar keluar dari Teluk Aden menuju perairan terbuka berasas info Lloyd's List Intelligence dan MarineTraffic. New Champion sebelumnya dijadwalkan singgah di Yanbu untuk mengangkut minyak, sedangkan New Prime sudah membawa muatan minyak.
Pekan lalu, Houthi menyatakan telah melakukan serangan rudal dan drone terhadap dua kapal tanker minyak Saudi, ialah Encelia dan Layla. Sumber keamanan maritim mengonfirmasi serangan terhadap Encelia, meski Reuters belum dapat memverifikasi serangan terhadap Layla.
Ancaman Baru Jalur Energi Dunia
Bab el-Mandeb menjadi salah satu jalur pelayaran daya paling krusial di dunia. Perjalanan kapal dari Yanbu menuju Asia melalui jalur tersebut rata-rata memerlukan waktu sekitar 16 hari.
Namun, jika kapal kudu menghindari area tersebut dan memutar melalui Terusan Suez lampau mengelilingi Afrika, perjalanan dapat membengkak. Lama penmgiriman bisa menjadi sekitar 50 hari.
Houthi selama ini mempunyai hubungan nan relatif dekat dengan China. Dua sumber nan dekat dengan golongan tersebut mengatakan telah terjadi koordinasi erat sebelumnya, terutama mengenai pengiriman minyak Arab Saudi ke China.
Situasi ini membikin Beijing menghadapi tantangan besar. Tantangan itu antara lain menjaga pasokan daya dari Timur Tengah tetap mengalir sembari menghindari terseret lebih jauh dalam bentrok Iran, AS, dan sekutunya.
(sef/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·