ilustrasi(Magnific)
JUMLAH anak nan terdiagnosis autism spectrum disorder (ASD) alias gangguan spektrum autisme mengalami peningkatan signifikan. Data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengestimasi sekitar satu dari 31 anak di Amerika Serikat menyandang kondisi neuroperkembangan ini.
Kendati demikian, para mahir menegaskan kenaikan nomor ini bukan berfaedah autisme berkembang lebih sigap dari nan diperkirakan. Peningkatan ini lebih disebabkan meningkatnya kesadaran masyarakat, jangkauan penelitian nan lebih luas, kriteria pemeriksaan nan lebih jelas, serta banyaknya orang dewasa nan baru terdiagnosis di usia lanjut.
"Meskipun kita belum memahami sepenuhnya kenaikan kasus ini secara menyeluruh, peningkatan ini sebagian besar disebabkan oleh kesadaran nan lebih besar, skrining nan ditingkatkan, serta kesediaan nan lebih tinggi di antara orangtua dan ahli untuk mencari dan menerima diagnosis," kata Clain Udy, pendiri First Ascent sekaligus penulis Rebranding Autism.
"Selain itu, lebih banyak orang dewasa nan terdiagnosis seiring mereka mengenali sifat-sifat autistik pada diri mereka sendiri," tambahnya.
Autisme merupakan kondisi neuroperkembangan nan memengaruhi langkah seseorang berinteraksi dan memahami dunia. Dr. Ivy Chong, psikolog berlisensi dan Chief Clinical Officer di Little Leaves Behavioral Services, menjelaskan ASD disebut sebagai spektrum lantaran setiap perseorangan mempunyai kombinasi kekuatan dan tantangan nan unik.
Secara genetis, CDC melaporkan 60% hingga 90% kasus autisme mempunyai komponen genetik nan melibatkan banyak gen. Faktor lingkungan seperti usia orangtua saat konsepsi, komplikasi persalinan, hingga paparan polutan tertentu juga dapat meningkatkan akibat jika bekerja-sama dengan aspek genetik.
Mematahkan Mitos dan Miskonsepsi
Seiring meningkatnya nomor diagnosis, para master menekankan pentingnya meluruskan beragam mitos nan beredar di masyarakat:
- Bukan Disebabkan oleh Vaksin: Mitos bahwa vaksin menyebabkan autisme berasal dari studi tahun 1998 nan telah dicabut dan dibantah oleh setidaknya 20 penelitian berskala besar.
- Tidak Bisa "Disembuhkan" alias "Dicegah": Autisme bukanlah penyakit, melainkan profil otak dan bagian dari ragam neurodiversitas manusia.
- Dapat Dialami Perempuan: Meski anak laki-laki tiga kali lebih sering terdiagnosis, penelitian menunjukkan bahwa wanita kerap tidak terdiagnosis (under-diagnosed) lantaran perbedaan manifestasi gejala.
- Mampu Memiliki Empati dan Hubungan Sosial: Penyandang autisme tetap mempunyai empati serta kemauan kuat untuk menjalin pertemanan dan hidup mandiri.
Pakar neurodiversitas, Dr. Theresa Haskins, menyimpulkan peningkatan nomor ini mencerminkan kemajuan dalam akses dan identifikasi dini, terutama pada golongan masyarakat nan sebelumnya tidak terjangkau.
"Tantangan sebenarnya bukanlah mencegah autisme; melainkan menghentikan stigma, eksklusi, dan kurangnya support nan tetap dihadapi terlalu banyak penyandang autisme," tegas Dr. Haskins. (Parents/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·