Di Tengah Ketidakpastian, Tidak Semua Harus Dikendalikan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi menggunakan smartphone. Foto: Jenny Kane/AP Photo

Di layar ponsel nan sama, dalam satu pagi seseorang bisa memandang buletin kecelakaan, kekerasan, bentrok sosial, hingga cerita kehilangan nan terasa begitu dekat, apalagi ketika jarak kejadiannya ratusan kilometer. Di titik ini, banyak orang, termasuk saya, mulai bertanya sebenarnya apa nan tetap bisa kita kendalikan? Dan mungkin bertanya lebih dalam lagi: apakah semua memang kudu kita kendalikan?

Secara psikososial, manusia memang tidak dirancang untuk hidup dalam ketidakpastian nan berkepanjangan. Otak kita menyukai prediktabilitas. Dalam kerangka Uncertainty Reduction Theory, perseorangan condong berupaya mengurangi ketidakpastian untuk merasa kondusif dan stabil.

Namun, ketika bumi menjadi terlalu kompleks dengan arus info nan cepat, tragedi nan berulang, dan tekanan sosial ekonomi nan meningkat, sistem ini justru bisa berbalik menjadi sumber kecemasan. Ketika seseorang merasa semua perihal kudu dikendalikan seperti external events, masa depan, apalagi perilaku orang lain, maka beban mental meningkat drastis. Padahal, realitas hidup bekerja dengan logika nan jauh lebih liar daripada ekspektasi manusia.

Dan di Indonesia saat ini, kondisi ini terasa sangat nyata. Data menunjukkan peningkatan paparan buletin negatif, mulai dari kecelakaan transportasi, kekerasan anak, hingga ketimpangan sosial nan semakin terlihat di ruang digital. Paparan ini tidak hanya menjadi informasi, tetapi juga membentuk persepsi bahwa bumi semakin tidak aman, meskipun pada saat nan sama, banyak parameter pembangunan justru menunjukkan perbaikan.

Di sinilah konsep acceptance alias penerimaan realitas menjadi relevan. Bila merujuk pada beberapa penelitian nan menguji pendekatan ‘menerima realitas’, penerimaan bukan berfaedah menyerah, tapi justru adalah corak keberanian untuk mengakui bahwa tidak semua perihal berada dalam kendali kita, dan itu tidak apa-apa.

Masalahnya, dalam budaya modern kita sekarang nan menuntut kita untuk selalu “kuat”, “produktif”, dan “punya solusi”, menerima sering dianggap sebagai kelemahan. Padahal, justru di sanalah ruang pemulihan dimulai. Karena ketika semua perihal dipaksakan untuk dikendalikan, nan muncul bukan ketenangan, melainkan kelelahan nan tidak terlihat.

Namun, kita sering lupa satu perihal nan sangat sederhana: hidup tidak pernah betul-betul berada dalam genggaman penuh kita. Kita bisa merencanakan hari, tapi tidak bisa menjamin gimana hari itu berjalan.

Kita bisa berangkat kerja lebih pagi untuk menghindari macet, tapi tetap terjebak lantaran kecelakaan di tol. Kita bisa memastikan anak berangkat ke sekolah dengan aman, tapi tetap dihantui buletin kekerasan di daycare alias kasus perundungan nan tiba-tiba viral. Kita bisa bekerja keras bertahun-tahun, tapi satu berita PHK massal bisa mengubah semuanya dalam hitungan hari.

Banyak orang di kota-kota besar seperti Jakarta, Bekasi, alias Surabaya menjalani hari dengan ritme nan nyaris sama: bangun pagi, mengecek berita, memandang berita buruk, lampau tetap kudu berangkat kerja seolah semuanya baik-baik saja. Di jalan, ada rasa waspada. Di kantor, ada tekanan target. Di rumah, ada tanggung jawab keluarga. Dan di sela-sela itu semua, ada pikiran mini nan terus bertanya:

“Sebenarnya hidup ini kondusif tidak sih?”

Pertanyaan itu sah dan sangatlah manusiawi, lantaran ketika ketidakpastian datang dari banyak arah sekaligus, baik dari aspek ekonomi, sosial, dan keamanan, jadinya otak kita mencoba mengimbanginya dengan satu cara: mengendalikan sebanyak mungkin hal.

Kita jadi mau memastikan semuanya aman, kita mau tahu semua informasi, dan berupaya untuk mengantisipasi semua kemungkinan buruk. Tapi di titik tertentu, itu justru membikin kita semakin lelah. Karena semakin banyak nan kita coba kendalikan, semakin terasa bahwa ada terlalu banyak perihal nan berada di luar jangkauan kita.

Dan di sinilah mungkin kita perlu jujur pada diri sendiri: bukan kita nan kurang kuat, tapi beban nan kita coba pegang memang terlalu besar. Kita tidak bisa mengendalikan kondisi lampau lintas di seluruh kota, tidak bisa memastikan semua tempat kondusif seratus persen, dan juga tidak bisa menghentikan semua buletin jelek nan muncul setiap hari.

Tapi kita bisa mulai memilih ulang mana nan betul-betul perlu kita pegang, dan mana nan perlu kita lepaskan. Misalnya, kita tidak bisa menghentikan buletin kecelakaan, tapi kita bisa memilih untuk tidak terus-menerus menonton videonya berulang kali.

Kita tidak bisa menghapus kekhawatiran sebagai orang tua, tapi kita bisa membangun komunikasi nan lebih dekat dengan anak, bukan hanya rasa takut. Kita pun tidak bisa mengontrol ekonomi nasional, tapi kita sangat bisa mengatur ritme hidup kita agar tidak terus-menerus berada dalam mode panik.

Hal-hal mini seperti ini sering dianggap sepele, padahal justru di situlah letak keseimbangan itu dibangun. Karena hidup tidak berubah dari perihal besar nan tiba-tiba sempurna, melainkan hidup berubah dari keputusan-keputusan mini nan lebih jujur. Dan mungkin, salah satu keputusan paling jujur nan bisa kita ambil hari ini adalah ini: tidak semua kudu kita kendalikan.

Di tengah situasi Indonesia nan serba bergerak seperti sekarang, keahlian untuk menerima ini bukan tanda pasrah. Justru ini adalah corak penyesuaian nan sehat. Karena jika kita terus hidup dalam mode siaga, tubuh kita tidak pernah betul-betul beristirahat. Pikiran tidak pernah betul-betul tenang. Dan dalam jangka panjang, itu nan justru membikin kita lebih rentan, secara mental, apalagi secara fisik.

Sebaliknya, ketika kita mulai memberi ruang untuk tidak mengendalikan semuanya, ada sesuatu nan pelan-pelan kembali: rasa cukup. Cukup untuk hari ini, cukup untuk langkah berikutnya, dan cukup untuk tetap menjalani hidup tanpa kudu tahu semuanya. Dan dari situ, kita mulai bisa memandang hal-hal nan selama ini tertutup oleh kecemasan.

Di tengah semua buletin buruk, tetap ada orang-orang nan saling membantu saat kecelakaan terjadi. Bahwa di tengah tekanan ekonomi, tetap ada family nan tetap saling menjaga, dan di tengah ketidakpastian, tetap ada kehidupan nan melangkah pelan, tapi nyata. Mungkin bumi memang tidak sedang baik-baik saja, tapi bukan berfaedah kita kudu ikut hancur bersamanya.

Kita tetap bisa memilih untuk tetap datang dengan utuh, tetap bekerja dengan jujur, tetap pulang ke rumah dengan membawa diri nan tidak sepenuhnya terkuras. Dan itu cukup. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang memastikan semuanya aman. Hidup adalah tentang tetap berjalan, apalagi ketika rasa kondusif itu tidak selalu ada.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan