Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat Darwisman(MI/BAYU ANGGORO)
PENYALURAN kredit di Jawa Barat tetap meningkat meski berada di tengah tekanan perekonomian nan cukup tinggi. Total angsuran pada awal tahun ini menjadi nan kedua terbesar setelah DKI Jakarta.
Hal ini disampaikan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat Darwisman di Bandung, Selasa (2/6).
Dia menjelaskan, hingga triwulan I 2026, realisasi penyaluran angsuran berasas letak proyek di Jawa Barat sudah menembus Rp1.047 triliun, alias tumbuh 1,39% dibanding periode nan sama tahun lalu.
Dengan jumlah tersebut, penyaluran angsuran di Jawa Barat mencapai 11,85% dari total angsuran nasional.
"Jabar menjadi provinsi dengan market share angsuran terbesar kedua setelah DKI Jakarta," katanya.
Ia melanjutkan, tingginya penyaluran angsuran ini diikuti dengan rasio loan to deposit (LDR) Jawa Barat nan menyentuh nomor 135,27%.
"Artinya, porsi angsuran nan disalurkan perbankan kepada masyarakat jauh lebih besar daripada biaya pihak ketiga (DPK) nan sukses dihimpun," katanya.
Meski penyaluran angsuran meningkat, Darwisman memastikan tingkat akibat angsuran tetap terjaga dengan baik. Ini terlihat rasio non performing loan (NPL) nan tetap berada dalam pemisah kondusif ialah di level 3,44%.
Adapun penyaluran angsuran tersebut didominasi sektor rumah tangga dan industri. Kondisi ini terjadi lantaran sektor tersebut dianggap mempunyai tingkat akibat nan rendah.
Sektor rumah tangga menyerap angsuran sebesar Rp438,16 triliun (tumbuh 4,82% YoY) dengan NPL 3,18%, sedangkan industri pengolahan merealisasikan Rp170,72 triliun (tumbuh 6,50% YoY) dengan NPL 2,62%.
"Pertumbuhan tertinggi ialah sektor real estate nan melonjak 12,79% (YoY) menjadi Rp38,31 triliun, dengan tingkat akibat nan rendah, 0,75%," katanya.
Selain itu, tambah Darwisman, sektor bukan lapangan upaya lainnya menyumbang penyaluran angsuran sebesar Rp43,24 triliun (tumbuh 5,42% YoY) dengan NPL 1,64%, lampau sektor pengangkutan dan pergudangan Rp30,54 triliun (tumbuh 0,62% YoY) dengan NPL 0,62%.
Dengan beragam catatan positif tersebut, stabilitas sektor jasa finansial di wilayah Jawa Barat tetap terjaga dengan baik.
"Ini menjadi gambaran kuatnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan," tandasnya.
Ada penurunan
Meski begitu, dia mengakui terjadi penurunan penyaluran angsuran pada sejumlah sektor lainnya. Sektor perdagangan besar dan satuan mengalami penurunan angsuran sebesar Rp4,30 triliun.
Tren serupa juga diikuti sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan nan menyusut Rp3,67 triliun, serta sektor bangunan nan turun Rp2,09 triliun.
Ia menilai, penurunan penyaluran angsuran ini terjadi akibat adanya kenaikan akibat angsuran di sektor-sektor tersebut. Menyikapi perihal tersebut, OJK Jawa Barat berkomitmen untuk terus mengawal dan menyeimbangkan ritme pertumbuhan ini agar tidak kehilangan momentum.
"Kami di OJK Jabar bakal terus berupaya mendorong industri perbankan agar tetap garang menyalurkan angsuran ke sektor-sektor produktif. Namun, tentu saja dengan prinsip kehati-hatian dan akibat nan terukur agar roda pertumbuhan ekonomi wilayah dapat terus bersambung secara berkesinambungan," tegas Darwisman.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·