Di Sarasehan Energi, DEN Mitigasi Risiko Pasokan di Tengah Geopolitik

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Dewan Energi Nasional (DEN) menggelar Sarasehan Energi sebagai ruang strategis untuk memperkuat pemahaman, sekaligus sinergi lintas sektor dalam merespons dinamika daya nan kian kompleks. Kegiatan tersebut menghadirkan unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, serta beragam pemangku kepentingan lainnya.

Rangkaian aktivitas meliputi keynote speech, obrolan panel, hingga sesi interaktif nan mengupas isu-isu krusial, mulai dari kondisi daya nasional, efektivitas subsidi tepat sasaran, hingga tantangan penyediaan daya di tengah tekanan geopolitik global. Anggota DEN Saleh Abdurrahman, menekankan urgensi percepatan transisi daya sebagai respons terhadap ketidakpastian global.

Menurutnya, percepatan transisi daya menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian daya nasional, terutama di tengah akibat bentrok geopolitik nan memengaruhi stabilitas pasokan dan nilai daya dunia. Ia juga menyoroti pentingnya kebijakan daya nan adaptif dan berkelanjutan.

Upaya tersebut mencakup peningkatan pemanfaatan daya baru terbarukan (EBT), penguatan persediaan daya nasional, serta optimasi daya transisi, sejalan dengan arah Kebijakan Energi Nasional dalam PP Nomor 40 Tahun 2025. Sementara itu, Anggota DEN Mohamad Fadhil Hasan mengungkap bahwa sektor daya nasional tetap menghadapi sejumlah tantangan struktural.

Ketergantungan terhadap impor migas, perubahan nilai minyak dunia, hingga tekanan terhadap subsidi daya menjadi rumor nan perlu direspons secara komprehensif.

"Dinamika geopolitik dunia saat ini memberikan tekanan nyata terhadap penyediaan daya nasional. Karena itu, diperlukan strategi menyeluruh baik dari sisi suplai maupun demand untuk menjaga ketahanan energi," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (27/4/2026).

Perspektif akademik turut memperkaya obrolan nan disampaikan oleh Rachmawan Budiarto selaku Tenaga Ahli Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM. Dalam paparannya, disampaikan bahwa gejolak nilai daya akibat bentrok geopolitik tidak hanya berakibat pada sektor energi, tetapi juga menimbulkan pengaruh berantai terhadap biaya produksi industri dan daya saing ekonomi nasional.

Efisiensi daya serta kebijakan nan tepat dinilai menjadi aspek kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi. Dari sisi operasional, Direktur Pemasaran PT Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, memaparkan kondisi terkini penyediaan daya nasional.

Saat ini, pasar daya dunia berada dalam fase supply disruption fear, di mana akibat gangguan pasokan meningkat akibat aspek geopolitik. Untuk mengantisipasi perihal tersebut, Pertamina telah menyiapkan beragam langkah strategis, termasuk diversifikasi sumber impor, penguatan perjanjian jangka menengah dan panjang, serta optimasi produksi kilang domestik guna menjaga keberlanjutan pasokan BBM dan LPG.

Selain itu, penguatan sistem pengedaran dan pengelolaan subsidi daya nan tepat sasaran juga menjadi perhatian utama, guna memastikan daya tetap tersedia secara setara dan berkepanjangan bagi masyarakat. Melalui Sarasehan Energi ini, DEN berambisi dapat menghimpun masukan konstruktif dari beragam pihak dalam rangka memperkuat kebijakan daya nasional nan inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.

Diskusi nan berjalan bergerak mencerminkan tingginya perhatian lintas sektor terhadap rumor ketahanan daya di tengah ketidakpastian global. Forum ini sekaligus menegaskan peran strategis DEN dalam merumuskan dan mengawal kebijakan daya nasional, serta memperkuat koordinasi lintas sektor demi mewujudkan kedaulatan dan kemandirian daya Indonesia. Sebagai informasi, aktivitas ini diadakan Jumat (24/4/2026), di Alumni Corner Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Yogyakarta.

(rah/rah)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News