Di Kampus Unisba, Pakar dan Praktisi Keuangan Ingatkan Bahaya Doom Spending

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Di Kampus Unisba, Pakar dan Praktisi Keuangan Ingatkan Bahaya Doom Spending Sejumlah narasumber pada Diskusi Literasi Keuangan Mahasiswa dan Pelajar di Kampus Unisba mengingatkan pentingnya mempunyai literasi finansial nan baik untuk masyarakat.(MI/SUMARIYADI)

BAHAYA doom spending disuarakan dari Kampus Universitas Islam Bandung. Upaya untuk menangkal kerawanan itu diinisiasi Republika, Otoritas Jasa Keuangan Jawa Barat dan Rektorat Unisba dengan menggelar Diskusi Literasi Keuangan Mahasiswa dan Pelajar, Jumat (12/6)

Doom spending merupakan perilaku shopping impulsif. Seseorang melakukan pengeluaran duit secara berlebihan untuk barang-barang nan sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

"Doom spending merupakan salah satu perilaku konsumtif nan berbahaya. Ke depan, ini bakal menimbulkan akibat sosial nan besar," ungkap Kepala OJK Jawa Barat Darwisman.

Dia mengakui perilaku konsumtif rawan terjadi di kalangan Gen Z, pelajar dan mahasiswa. Mereka tidak mempunyai perencanaan finansial nan baik.

Penyebabnya, lanjutnya, lantaran literasi finansial nan rendah. Akibatnya, seseorang tidak mempunyai pemahaman antara kebutuhan dan keinginan.

"Jika kemauan nan menonjol, mereka bakal memaksamakan diri untuk meminjam, tanpa berpikir panjang," tandas Darwisman.

Diskusi literasi di Kampus Unisba itu juga menampilkan sejumlah narasumber nan mempunyai kepakaran di bagian literasi keuangan. Di antaranya, Kepala Direktorat Pengawasan PEPK dan LMS OJK Jawa Barat Yuzirwan, Pemimpin Divisi Jaringan dan Layanan bank bjb Iwan Prastyo.
Satgas Anti Rentenir Saji Sonjaya, dan psikolog Ilmi Hatta.

Lebih jauh Darwisman mengakui banyak generasi Z nan aktif meminjam duit ke pinjaman online lantaran takut tertinggal tren alias berpikir hidup hanya sekali.

"Literasi finansial soal fenomana doom spending ini memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang punya perilaku nan konsumtif. Mereka memaksakan meminjam duit untuk membeli sesuatu, lantaran tidak punya duit sendiri," tandas Darwisman.

Dia mengimbau penduduk agar menahan diri mengeluarkan duit untuk nan tidak perlu.  

Sementara itu, Pemimpin Divisi Jaringan dan Layanan bank bjb Iwan Prastyo mengaku bjb berbareng OJK terus melakukan literasi finansial kepada masyarakat. Mereka konsentrasi pada usia dini, ialah siswa SD, SMP, dan SMA.

"Kami selalu mengingatkan tentang ancaman Doom Spending," tambahnya.

Dia menambahkan dalam sejumlah obrolan literasi finansial mahasiswa dan pelajar, pihaknya menyuarakan soal doom spending, pandai finansial, dan bijak digital.


Kampus membutuhkan


Sementara itu, Rektor Unisba Prof Harits Numan mengakui era digitalisasi memudahkan masyarakat untuk melakukan transaksi keuangan. Sayangnya, banyak nan belum memahami tentang akibat transaksi nan dilakukan.  

Tanpa literasi finansial nan baik, tuturnya, masyarakat susah membedakan mana kebutuhan dan mana nan sekadar keinginan.

Di sisi lain, juga terjadi kejadian banyak masyarakat nan FOMO (Fear of Missing Out) alias rasa takut tertinggal tren. Perilaku itu memberikan akibat negatif, khususnya untuk generasi Z nan melek teknologi.

"Dengan melakukan literasi di kampus, mahasiswa bisa mempunyai wawasan tentang membeli sesuai kebutuhan alias keinginan. Mereka juga bakal berpikir panjang dan tidak mudah melakukan proses peminjaman nan bakal berakibat ke depan," tandasnya.

Harits berambisi obrolan nan dilaksanakan Republika berbareng OJK Jabar ini tidak hanya menambah wawasan. Para master diharapkan bisa mengubah langkah pandang dan perilaku mahasiswa dalam mengelola keuangan.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia