Berapa kali Anda menemukan iklan nan berbunyi: "Kuasai coding dalam 3 bulan." "Jadi info scientist tanpa gelar." "Gaji dua digit setelah lulus bootcamp" setiap kali membuka sosial media? Di tengah ketatnya persaingan kerja, tawaran ini sangat menarik. Janjinya terlihat konkret, dengan menampilkan puluhan alumni nan sukses dan kreasi kurikulum nan detail. Selain itu, dari sisi harga—meski tidak murah—terasa sepadan dengan gambaran pekerjaan cemerlang nan dijanjikan.
Bootcamp akhir-akhir ini sangat masif kita temui di beragam sosial media. Di Indonesia, puluhan platform berlomba menawarkan intensif di bagian teknologi, upaya digital, hingga kreatif. Ribuan generasi muda berlomba-lomba untuk mendaftar beragam kelas untuk memenuhi sasaran kualifikasi diri. Sebagian perseorangan mulai memandang bootcamp sebagai pilihan nan lebih berbobot dibandingkan dengan proses belajar secara utuh melalui pendidikan formal.
Pertanyaannya: Apa nan diam-diam dikorbankan ketika menjadikan bootcamp sebagai standar pendidikan baru?
Ketika Pendidikan Dikomersialisasikan
Martha Nussbaum (2009), dalam esainya "Education for Profit, Education for Freedom" memperingatkan bahwa bumi tengah berfokus pada satu model pendidikan nan berbahaya, ialah pendidikan semata untuk untung ekonomi. Model ini hanya peduli pada keahlian nan bisa langsung sesuai dengan permintaan pasar tenaga kerja dan mengabaikan segalanya nan tidak bisa diukur dalam nomor penghasilan alias metrik produktivitas.
Bootcamp adalah wajah paling jujur dari model itu.
Tidak ada salahnya belajar coding, info analytics, ataupun digital marketing. Keterampilan pada bagian tersebut nyata, dibutuhkan, dan dapat mendukung beragam sektor untuk mencapai produktivitas optimal.
Hal nan menjadi persoalan adalah ketika format belajar nan serba sigap dan terukur mulai dianggap sebagai “pengganti pendidikan”, bukan sebagai pelengkapnya. Selain itu, narasi “bisa langsung kerja” menjadi satu-satunya tujuan dalam menjalankan proses tersebut. Ketika logika ini dinormalisasi, seluruh aspek nan tidak berorientasi pada bumi kerja berisiko dipandang tidak relevan.
Dalam artikelnya, Nussbaum menyebut bahwa pendidikan untuk untung tidak memerlukan pikiran nan bebas, dia memerlukan teknisi nan patuh. Kondisi inilah nan tanpa kita sadari sedang kita bentuk.
Hal nan Hilang dari Praktik Pendidikan
Bootcamp mengajarkan apa dan gimana secara efisien untuk dapat mentransfer keahlian spesifik nan terstandarisasi industri dengan sigap dan tepat, tapi terdapat tiga perihal mendasar nan nyaris tidak pernah masuk ke dalam kurikulumnya.
Pertama, keahlian berpikir kritis. Kemampuan untuk mempertanyakan asumsi, menguji logika, dan tidak mudah menyerah pada tekanan otoritas maupun tren pasar merupakan keahlian nan secara utuh dibangun melalui proses pendidikan pada umumnya. Dalam bootcamp, pertanyaan utamanya, "Bagaimana langkah kerjanya?" Sementara itu, pertanyaan nan jarang muncul adalah "Apakah ini semestinya dibuat?" alias "Siapa nan bakal dirugikan oleh produk ini?"
Ironisnya, krisis terbesar teknologi saat ini justru ada pada penyebaran hoaks di platform media sosial hingga algoritma nan memperparah kesenjangan secara masif, bukan dari ketidakmampuan teknis. Kondisi ini datang lantaran kegagalan berpikir kritis dan ketidakmampuan memahami etika nan bertindak dalam kehidupan sosial.
Kedua, keahlian memahami keberagaman manusia. Nussbaum menegaskan bahwa pendidikan nan baik kudu mengajarkan muridnya untuk memahami sejarah, budaya, dan kondisi kelompok-kelompok manusia nan berbeda. Pemahaman bakal hal-hal tersebut dipelajari tidak untuk dihafal, tetapi untuk memahami langkah pandang kehidupan sosial nan beragam. Pengetahuan bukan agunan perilaku baik, melainkan kegoblokan adalah agunan perilaku buruk.
Ketiga, keahlian khayalan naratif. Dalam pendidikan, keahlian untuk membayangkan diri berada di posisi orang lain, merasakan apa nan mereka rasakan, dan memahami bumi dari perspektif pandang nan asing bagi kita merupakan keahlian nan membedakan pendidikan dari sekadar training keterampilan. Aspek inilah nan diasah oleh sastra, seni, dan makulat nan membikin manusia tidak hanya cerdas, tetapi juga manusiawi.
Ketika Pendidikan Direduksi Menjadi Keterampilan
Mengutip penelitian dari seorang psikolog, Stanley Milgram, Nussbaum menjelaskan bahwa perihal nan menunjukkan bahwa orang-orang biasa bersedia menyakiti orang lain adalah lantaran terdapat otoritas nan membenarkannya. Teori dari Asch Conformity Effect membuktikan bahwa perseorangan condong mudah mengikuti pendapat golongan kebanyakan meski bertentangan dengan nan mereka yakini maupun alami sendiri.
Lantas, apa hubungannya dengan bootcamp? Dalam konteks pendidikan nan sangat berorientasi pada hasil, format nan diimplementasikan dalam bootcamp secara struktural melatih kepatuhan.
Terdapat kurikulum nan sudah ditetapkan, standar nan kudu dicapai, serta pembimbing nan otoritasnya jarang dipertanyakan. Murid nan "berhasil" merupakan siswa nan condong lebih sigap menyerap dan mengeksekusi, bukan nan paling banyak bertanya alias paling kritis terhadap materi.
Cara Pandang Seharusnya terhadap Bootcamp
Bootcamp merupakan tempat nan tepat untuk pembelajaran intensif dan berorientasi keahlian dalam ekosistem pendidikan nan sehat. Hal nan menjadi persoalan adalah ketika logika dari konsep bootcamp—yaitu cepat, terukur, dan dapat langsung diterapkan—mulai mendikte langkah kita memandang seluruh pendidikan. Logika ini bakal menumbuhkan pertanyaan setiap kali kita bakal belajar perihal baru: ini kelak berfaedah untuk apa di bumi kerja?
Nussbaum mengingatkan kita bahwa seni, sastra, sejarah, dan makulat bukan ornamen pendidikan. Pembelajaran ini adalah langkah manusia belajar menjadi manusia dalam menjalani kehidupan sosial. Hal nan menjadi persoalan adalah kesadaran diri masing-masing individu, antara hatikecil untuk mengambil jalan tercepat untuk memenuhi ekspektasi dari “keberhasilan” alias keberanian untuk menjadi manusia secara utuh.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·