Harga obat kanker di Indonesia bukan sekadar mahal dia bisa terasa seperti balasan kedua bagi pasien nan sudah divonis penyakit berat. Seorang pasien kanker hati alias ginjal bisa memerlukan hingga Rp50 juta hanya untuk menebus obat sorafenib dalam satu bulan di luar biaya kemoterapi nan bisa mencapai Rp2–6 juta per sesi. Yayasan Kanker Indonesia apalagi mencatat satu pasien bisa memerlukan sekitar Rp102 juta per bulan hanya untuk mempertahankan hidupnya.
Pertanyaannya kenapa bisa sepanjang itu? Dan siapa nan sebenarnya duduk nyaman di kembali angka-angka tersebut?
Untuk bersikap adil, kita perlu memahami sisi lain cerita ini terlebih dahulu. Mengembangkan satu obat kanker baru bukan pekerjaan semalam. Industri farmasi mempunyai karakter unik biaya penelitian sangat tinggi, waktu pengembangan sangat panjang, dan tingkat kegagalan sangat besar. Pengembangan satu obat baru bisa menyantap waktu bertahun-tahun, melibatkan uji praklinis, uji klinis multifase, serta proses registrasi dan pengawasan pascapemasaran.
Kalau obat itu kandas di tengah jalan dan banyak nan kandas duit nan sudah dikeluarkan lenyap begitu saja. Investasi nan kandas ini kemudian "disubsidi" oleh obat-obat nan sukses lolos ke pasaran. Itulah salah satu argumen nan selalu dipakai industri farmasi untuk membenarkan nilai tinggi mereka.
Paten Tiket Monopoli Selama 20 Tahun
Di sinilah inti permasalahannya. Hak paten memberikan perusahaan farmasi monopoli atas produksi dan penjualan obat selama periode tertentu. Monopoli ini dapat menyebabkan nilai obat lebih tinggi dari nan semestinya jika tidak ada perlindungan paten.
Perusahaan farmasi biasanya memegang kewenangan paten untuk obat baru selama 20 tahun. Selama masa ini, mereka bisa menjual obat dengan nilai tinggi lantaran tidak ada pesaing. Baru setelah patennya habis, obat generik bisa muncul dengan nilai nan jauh lebih murah.
Masalahnya, banyak perusahaan tidak mau melepas monopoli itu begitu saja. Praktik patent evergreening strategi perusahaan farmasi untuk memperpanjang perlindungan paten demi mempertahankan monopoli dan meraih untung sebanyak-banyaknya membikin obat generik tidak bisa masuk ke pasar dan nilai obat tetap tinggi. Kondisi ini memberatkan pasien sekaligus menambah beban negara nan menanggung biaya pengobatan melalui JKN.
Ironi Riset Dibiayai Rakyat, Obatnya Dijual Mahal ke Rakyat
Ini bagian nan paling mengganjal. Inovasi obat oleh sektor swasta sering kali ditopang oleh riset dasar nan dilakukan pemerintah nan dibiayai oleh pajak rakyat. Tapi kemudian, masyarakat kudu bayar mahal untuk membeli obat hasil riset tersebut.
Hak paten tidak hanya memberikan keleluasaan bagi perusahaan farmasi untuk memonopoli harga, tapi juga memprioritaskan produksi obat nan memberikan untung terbesar. Mereka condong memprioritaskan pasar di negara maju nan lebih stabil dan menguntungkan, lampau menganaktirikan pasar di negara berkembang seperti Indonesia.
Bukti Nyata Saat Paten Dipatahkan, Harga Pun Jatuh
Thailand pernah membuktikan bahwa nilai bisa ditekan drastis jika ada kemauan politik. Pada 2008, Thailand menerbitkan lisensi nan mengabaikan paten untuk beberapa jenis obat kanker. Hasilnya, nilai docetaxel dan letrozol turun 24 kali lipat dari nilai normal. India apalagi lebih garang dengan mengabaikan paten atas sorafenib, nilai obat kanker itu turun dari nyaris Rp 50 juta menjadi hanya sekitar Rp 1,7 juta.
Angka itu bicara keras. Harga obat kanker nan selangit bukan sepenuhnya lantaran biaya produksi sebagian besar adalah hasil dari kekuatan monopoli nan dibiarkan melangkah tanpa kontrol.
Lalu Siapa nan Diuntungkan?
Keytruda, obat kanker buatan Merck, mencatatkan penjualan tertinggi di bumi dengan nilai mencapai 29,5 miliar dolar AS hanya pada tahun 2024. Angka itu bukan gambaran biaya produksi dia adalah gambaran dari kekuatan pasar nan tidak terbendung.
Harga obat di tingkat pasien tidak hanya ditentukan oleh nilai pabrik. Ada rantai pasok panjang nan mencakup distributor, pedagang besar farmasi, apotek, hingga akomodasi kesehatan masing-masing menambahkan margin untung mereka sendiri. Pasien berada di ujung rantai ini, menanggung semua lapisan biaya tersebut.
Apakah Ada Jalan Keluar?
Kehadiran biosimilar jenis "generik" dari obat biologis nan kompleks bisa menjadi pengganti lebih terjangkau. Jika dikelola dengan baik, biosimilar berpotensi menurunkan biaya terapi penyakit berat seperti kanker secara signifikan.
Selain itu, negosiasi nilai obat antara pemerintah dan produsen, pengadaan terpusat, dan dorongan produksi bahan baku dalam negeri adalah langkah-langkah nan bisa mulai diambil jika ada kemauan politik nan cukup kuat.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·