Di padang pasir Kalahari, Afrika Selatan, tumbuh tanaman dengan buah berduri tajam nan bisa melukai kaki hewan nan menginjaknya. Penduduk lokal sudah ratusan tahun menggunakan akarnya sebagai obat nyeri sendi, rematik, dan demam. Nama populernya sesuai penampilannya nan menakutkan ialah Devil's Claw alias ceker iblis. Tapi di kembali nama seram itu, Devil's Claw pereda nyeri sendi menyimpan senyawa aktif nan sekarang menarik perhatian serius para peneliti pengetahuan obat di Eropa dan Amerika sebagai pengganti alami nan lebih ramah lambung dibanding obat antiinflamasi konvensional.
Devil's Claw Pereda Nyeri Sendi nan Berasal dari Keluarga Wijen
Devil's Claw atau Harpagophytum procumbens adalah personil dari famili wijen alias Pedaliaceae, dan terutama ditemukan di Namibia, Botswana, Zimbabwe, dan Afrika Selatan. Nama tanaman ini berasal dari tonjolan berbentuk kait nan menyerupai ceker nan menghiasi buahnya.
Devil's Claw adalah tanaman obat dari famili wijen nan berasal dari benua Afrika dan digunakan di sana sebagai obat tradisional. Nyeri otot dan sendi kronis memengaruhi banyak orang, dan pilihan pengobatan nan ada saat ini menyimpan akibat reaksi obat nan cukup besar, sehingga pencarian pengganti pengobatan lain terus berkembang. Sebagai hasilnya, penelitian pun mulai berfokus pada produk berbasis tanaman termasuk Devil's Claw.
Di Eropa, Devil's Claw sudah jauh lebih dikenal dibanding di Indonesia. Ia sudah terdaftar sebagai herbal obat di beberapa negara Eropa untuk penanganan nyeri sendi ringan hingga sedang dan nyeri punggung bawah. Tapi akarnya justru berasal dari tradisi pengobatan Afrika nan sudah berumur berabad-abad.
Harpagoside, Senyawa Utama di Balik Khasiatnya
Apa nan membikin Devil's Claw menarik secara farmakologis adalah harpagoside, iridoid glikosida utama nan menjadi standar kualitas semua produk Devil's Claw nan serius.
Tanaman ini telah dipromosikan sebagai suplemen makanan untuk kondisi artritis degeneratif. Mempertimbangkan banyaknya makalah penelitian nan menunjukkan beragam aktivitas biologis Harpagophytum procumbens, langkah logis berikutnya adalah investigasi menggunakan studi hewan dan uji klinis pada manusia dengan parameter kontrol negatif.
Harpagoside bekerja dengan menghalang jalur inflamasi NF-kB dan COX-2 ialah dua jalur nan sama nan menjadi sasaran obat antiinflamasi non-steroid seperti ibuprofen dan diklofenak. Perbedaannya adalah bahwa inhibisi dari harpagoside berkarakter lebih selektif dan tidak menyebabkan iritasi tembok lambung seperti nan kerap terjadi pada NSAID konvensional.
Apa nan Dibuktikan Uji Klinis
Devil's Claw bukan sekadar klaim tradisional tanpa bukti. Jejak uji klinisnya cukup panjang dan konsisten.
Uji klinis pada 75 pasien dengan osteoartritis panggul dan dengkul selama 12 minggu menggunakan ekstrak Devil's Claw 2.400 mg per hari menunjukkan penurunan nyeri nan kuat dan perbaikan indikasi osteoartritis secara keseluruhan. Terjadi peningkatan nan relevan pada setiap subskala WOMAC ialah 23,8 persen untuk subskala nyeri, 22,2 persen untuk subskala kekakuan, dan 23,1 persen untuk keterbatasan fisik.
Studi lain mengevaluasi efek Harpagophytum procumbens pada sistem sensorik, motorik, dan vaskular dari nyeri otot menunjukkan perbaikan nan sangat signifikan pada skala analog visual setelah empat minggu pengobatan dengan dosis 2 kali 480 mg per hari ekstrak Harpagophytum.
Yang membikin info ini menarik adalah komparasi langsung dengan obat farmasi standar. Membandingkan efikasi Devil's Claw dengan meloksikam pada pasien osteoartritis tidak menunjukkan perbedaan nan signifikan secara statistik antara dua golongan tersebut dari waktu ke waktu, termasuk pada skala nyeri. Dengan kata lain, untuk nyeri sendi ringan hingga sedang, Devil's Claw menunjukkan efikasi nan sebanding dengan obat antiinflamasi resep, tapi tanpa akibat pengaruh samping lambung nan sama.
Keunggulan Utama Dibanding NSAID Konvensional
Inilah argumen terbesar kenapa Devil's Claw mendapat perhatian serius dari kalangan medis terutama untuk pasien lansia nan memerlukan penanganan nyeri sendi jangka panjang.
Pengobatan konvensional dengan analgesik dan NSAID berkarakter profilaksis nan bermaksud mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi. Namun penggunaan NSAID jangka panjang dikaitkan dengan insidensi pengaruh samping nan tinggi terutama indikasi pada saluran cerna bagian atas. Alternatif pengobatan nan lebih kondusif tentu sangat dibutuhkan.
Studi pada 259 pasien dengan artritis ringan hingga sedang setidaknya pada satu sendi alias area tubuh mengevaluasi efektivitas dan keamanan tablet Devil's Claw dalam penanganan gangguan rematik. Hasilnya menunjukkan faedah nan berarti dengan profil keamanan nan baik.
Untuk pasien nan sudah punya masalah lambung alias ginjal dan tidak bisa lagi mengonsumsi NSAID dalam jangka panjang, Devil's Claw bisa menjadi pengganti nan layak dipertimbangkan berbareng dokter.
Haruskah Semua Orang dengan Nyeri Sendi Mencobanya
Tidak semua kondisi nyeri sendi cocok untuk Devil's Claw. Ada beberapa catatan krusial nan perlu diperhatikan.
Pertama, bukti terkuat Devil's Claw ada pada nyeri punggung bawah dan osteoartritis ringan hingga sedang, bukan untuk kondisi artritis inflamasi berat seperti artritis reumatoid nan memerlukan penanganan medis nan lebih agresif.
Kedua, Devil's Claw tidak boleh dikonsumsi oleh penderita tukak lambung aktif alias mereka nan sedang mengonsumsi pengencer darah seperti warfarin lantaran ada potensi hubungan nan perlu diwaspadai.
Ketiga, ibu mengandung sebaiknya menghindarinya lantaran ada laporan potensi pengaruh pada kontraksi rahim meski buktinya tetap terbatas.
Relevansinya untuk Indonesia
Indonesia dengan populasi lansia nan terus bertumbuh menghadapi beban penyakit sendi nan makin besar. Osteoartritis dengkul adalah salah satu penyebab disabilitas terbesar pada golongan usia di atas 50 tahun. Sementara penggunaan NSAID jangka panjang pada lansia membawa akibat komplikasi nan sangat nyata terhadap lambung, ginjal, dan jantung.
Devil's Claw menawarkan jendela pilihan nan menarik sebagai terapi komplementer, bukan pengganti, untuk nyeri sendi ringan hingga sedang. Tentu dengan syarat produknya terstandarisasi kadar harpagoside-nya dan dikonsumsi dalam pengawasan tenaga kesehatan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·