Detak Jantung Terlalu Lambat Bisa Berbahaya, Kenali Gejala Bradikardia dan Peran Alat Pacu

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Detak Jantung Terlalu Lambat Bisa Berbahaya, Kenali Gejala Bradikardia dan Peran Alat Pacu Ilustrasi bradikardia.(Dok. Magnific)

DETAK jantung nan terlalu lambat kerap dianggap sebagai tanda kelelahan alias kurang istirahat. Padahal, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi bradikardia, salah satu gangguan irama jantung (aritmia) nan berpotensi mengganggu aliran darah ke seluruh tubuh.

Pada kondisi normal, jantung berdebar secara teratur untuk memompa darah nan membawa oksigen dan nutrisi ke beragam organ. Namun, ketika irama jantung menjadi terlalu lambat, terlalu cepat, alias tidak teratur, keahlian jantung dalam memenuhi kebutuhan tubuh dapat terganggu.

Bradikardia umumnya ditandai dengan debar jantung nan lebih lambat dari normal. Kondisi ini tidak selalu berbahaya, tetapi jika disertai keluhan seperti pusing, mudah lelah, sesak napas, nyeri dada, hingga pingsan, penderita sebaiknya segera menjalani pemeriksaan medis.

Gejala tersebut muncul lantaran jantung tidak bisa memompa darah secara optimal sehingga pasokan oksigen ke organ tubuh, termasuk otak, berkurang.

Untuk mengetahui penyebab gangguan irama jantung, master biasanya bakal melakukan serangkaian pemeriksaan, seperti elektrokardiogram (EKG), Holter monitor, maupun pemeriksaan penunjang lainnya. Hasil pemeriksaan bakal menentukan apakah pasien memerlukan pengobatan, tindakan medis, alias hanya pemantauan berkala.

Salah satu terapi nan dapat diberikan pada kasus tertentu adalah pemasangan perangkat pacu jantung (pacemaker). Perangkat berukuran mini ini ditanam di bawah kulit di area dada dan berfaedah mengirimkan impuls listrik ketika debar jantung melambat alias iramanya tidak teratur sehingga ritme jantung tetap stabil.

Pemasangan perangkat pacu jantung umumnya direkomendasikan pada pasien nan mengalami bradikardia bergejala, blok jantung (heart block), sindrom sinus sakit (sick sinus syndrome), alias pingsan berulang akibat gangguan irama jantung.

Prosedur pemasangannya tergolong minimal invasif dan biasanya berjalan sekitar satu hingga dua jam. Dokter bakal memasukkan kabel mini melalui pembuluh darah menuju jantung, kemudian menghubungkannya dengan perangkat pacu jantung nan ditanam di bawah kulit.

Setelah prosedur, pasien tetap perlu menjalani kontrol rutin untuk memastikan perangkat bekerja dengan baik. Meski demikian, sebagian besar pasien dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman lantaran indikasi seperti pusing dan mudah capek berangsur membaik.

Pengguna perangkat pacu jantung juga dianjurkan menghindari paparan medan magnet nan kuat serta selalu memberi tahu tenaga kesehatan mengenai perangkat nan digunakan sebelum menjalani tindakan medis tertentu.

Dokter mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan indikasi gangguan irama jantung, meskipun awalnya hanya berupa rasa capek alias pusing nan muncul sesekali. Penanganan sejak awal dapat membantu mencegah komplikasi nan lebih serius sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien.

Seiring berkembangnya teknologi medis, pemasangan perangkat pacu jantung sekarang menjadi salah satu terapi nan kondusif dan efektif bagi pasien dengan gangguan irama jantung tertentu. Sejumlah rumah sakit nan mempunyai jasa jantung terpadu, termasuk RS Lira Medika, menyediakan pemeriksaan hingga pertimbangan kebutuhan pemasangan perangkat pacu jantung sesuai kondisi masing-masing pasien.

(Lira Medika/H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia