Suasana di instansi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Surya Karya Mandiri Susukan siang itu tampak hektik. Sejumlah pekerja mondar-mandir untuk mengangkut, memilah dan menimbang sayuran hingga buah-buahan.
Di depan instansi BUMDes, aktivitas bongkar muat berjalan tanpa henti. Dua mobil terparkir di pinggir jalan. Satu mobil bak berisi tumpukan sayur mayur dan buah-buahan baru tiba dari desa produsen, sementara kendaraan milik BUMDes bersiap untuk mengantarkan bahan makanan itu ke dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
Para pegawai bekerja dengan tenggat waktu dan prosedur nan ketat. Bahan-bahan nan baru tiba kudu segera disortir dan dikirim ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar kualitas makanan nan disajikan kepada penerima faedah tetap terjaga.
Aktivitas padat itu telah berjalan selama beberapa bulan terakhir sejak BUMDes Surya Karya Mandiri memainkan peran sebagai pemasok kebutuhan dapur MBG. Mulai dari sayuran, buah-buahan, telur, ayam hingga kebutuhan operasional dapur dikumpulkan dan didistribusikan setiap hari.
BUMDes Susukan memasok kebutuhan SPPG (Foto: Kanavino/detikcom)
Kontribusi tersebut membikin BUMDes berkembang signifikan menjadi salah satu penggerak ekonomi di Desa Susukan, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor.
Selain menjadi pemasok kebutuhan MBG, BUMDes Susukan sebelumnya juga sukses meraih predikat Desa BRILiaN Nasional 2025.
Direktur BUMDes Surya Karya Mandiri, Alek Salehudin, menjelaskan penghargaan tersebut tak lepas dari peran BUMDes nan aktif membantu UMKM dalam mengakses jasa perbankan BRI, seperti KUR, QRIS hingga EDC.
"Karena saya banyak mendevelop program BRI ke teman-teman UMKM. Itu awalnya, akhirnya mendapatkan perhatian," kata Alek.
Bagi Alek, Desa Susukan sebenarnya tidak mempunyai potensi ekonomi besar seperti letak wisata alias pasar induk. Namun, menurut Alek, kekuatan utama desa justru terletak pada masyarakatnya.
"Potensi utama nan bisa dilakukan oleh BUMDes dalam melakukan upaya alias pengembangan ekonomi adalah masyarakat itu sendiri. Bagaimana menciptakan daya beli, daya jual dari produk-produk masyarakat," kata Alek saat berbincang dengan detikcom beberapa waktu lalu.
Perjalanan BUMDes Susukan
BUMDes Susukan didirikan pada tahun 2021. Begitu resmi ditunjuk memimpin lembaga tersebut, salah satu langkah awal nan dilakukan Alek adalah membikin Bazar Desa Susukan nan melibatkan 350 UMKM.
Jalanan sepanjang 1,5 kilometer disulap menjadi lapak jualan warga. Program itu melangkah selama kurang lebih 2 bulan. Dari program tersebut, BUMDes mendapatkan info mengenai keahlian daya beli penduduk dan jenis ragam produk UMKM di Susukan.
BUMDes juga sempat mencoba upaya pengelolaan sampah dengan menggunakan insinerator rakitan sendiri. Namun program tersebut juga berakhir setelah menghadapi masalah operasional dan tingginya volume pembuangan sampah liar oleh masyarakat.
Setelah itu, BUMDes kembali konsentrasi ke sektor pemberdayaan UMKM lewat sistem konsinyasi alias sistem kerja sama penjualan. BUMDes menyediakan lapak dan tenaga kerja, sedangkan penduduk hanya perlu memproduksi barangnya di rumah.
"Masyarakat mau upaya apa pun juga, apalagi bisa ngutang, lapak kami siapkan, mereka hanya produksi saja. Jadi BUMDes buka upaya tidak berlawanan dengan kepentingan masyarakat, justru membantu masyarakat," kata Alek.
Dari pola upaya itu, BUMDes Susukan mulai dikenal sebagai pemasok bahan bagi kebutuhan warga. Pengalaman itulah nan kemudian menjadi modal saat program MBG diperkenalkan ke publik oleh pemerintah.
Pemasok Dapur MBG
Saat dapur MBG dibangun di sejumlah titik, Alek memandang kesempatan besar untuk pemberdayaan ekonomi desa. Ia lampau berkoordinasi dengan pengelola dapur agar pasokan bahan pangan untuk SPPG berasal dari BUMDes Susukan.
BUMDes Susukan mulai memasok kebutuhan SPPG sejak pertengahan 2025. Bahan nan disuplai meliputi beras, ayam, telur, sayuran, buah-buahan hingga kebutuhan operasional SPPG.
Alek menjelaskan BUMDes Susukan berkedudukan sebagai pemasok, bukan sebagai produsen. Karena itu, bahan pangan nan dikumpulkan berasal dari beragam desa tematik di Bogor dan sekitarnya.
"Kami bukan petani, bukan peternak. Kami itu pemasok. Semua produk kumpul di kami," ujar Alek.
Adapun proses pengiriman bahan biasanya dimulai dari asesmen dan penentuan menu mingguan oleh pihak SPPG. Setelah itu, pihak SPPG berkoordinasi dengan BUMDes untuk menyerahkan menu makanan tersebut.
Suasana di Depan BUMDes Susukan, Kabupaten Bogor Foto: Kanavino/detikcom
Dari daftar itu, BUMDes mencari bahan pangan nan dibutuhkan ke desa produsen. Biasanya bahan makanan bakal dikirim sehari sebelum pendistribusian MBG.
Setelah sampai di instansi BUMDes, tim melakukan penyortiran bahan-bahan mana saja nan layak untuk dikirimkan ke SPPG. Pengecekan dilakukan secara teliti untuk memastikan kualitas bahan tetap terjaga.
Dampak Usaha BUMDes
Usaha penyediaan kebutuhan SPPG ini berakibat besar bagi pendapatan BUMDes. Saat ini ada enam SPPG nan disuplai kebutuhannya oleh BUMDes Susukan, meski hanya tiga dapur nan aktif bekerja sama secara rutin.
Omzet nan dihasilkan dari upaya ini bisa mencapai Rp 1 miliar, dengan untung Rp 60-80 juta setiap bulannya. Dengan untung tersebut, BUMDes juga sekarang bisa menyewa instansi nan lebih representatif dengan biaya Rp 50 juta per tahun.
Selain itu, upaya nan dijalankan BUMDes ini juga membuka lapangan kerja bagi penduduk setempat. Ada 11 orang penduduk nan bekerja di BUMDes Susukan, mulai dari admin hingga pengemudi distribusi.
Secara eksternal, BUMDes bisa memberikan kontribusi positif terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes). BUMDes apalagi turut berkedudukan dalam mendukung beragam aktivitas nan memerlukan tambahan biaya di lingkungan desa.
"Terus ada acara-acara di desa, kami juga support. Rapat-rapat nan biasanya membebankan desa, kudu kami aja nan mengeluarkan biaya segala macam. Nah, itu sudah signifikan," kata Alek.
BUMDes juga terus memutar untung dari upaya penyediaan kebutuhan SPPG ini untuk memberdayakan UMKM. Saat ini ada sekitar 23 UMKM bimbingan BUMDes nan dibantu melalui penyediaan bahan baku, perangkat produksi hingga akses penjualan.
Manfaat dari meningkatnya upaya BUMDes juga dirasakan oleh Muhammad Nur. Pria nan bekerja sebagai Manajer Logistik BUMDes Susukan itu merupakan salah satu orang nan turut mendampingi Alek dari awal pendirian BUMDes.
Nur menceritakan, pada awal berdiri, BUMDes belum mempunyai pendapatan nan tetap dam para pegawai pun belum mendapatkan penghasilan nan sesuai. Selain itu, instansi juga kudu berpindah-pindah tempat.
"Dan alhamdulillah untuk honor, pendapatan kita, syukur alhamdulillah, sekarang boleh dikatakan kita sudah bisa tersenyum lebar," kata Nur menceritakan perjalanan BUMDes Susukan.
Ia berambisi program nan dijalankan BUMDes Susukan bisa terus berlanjut. Selain itu, perkembangan BUMDes Susukan juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk sama-sama berkembang.
"Susukan aja bisa kenapa desa nan lain enggak bisa? Gitu aja," ujar dia.
Dukungan BRI untuk UMKM dan Desa BRILiaN
Kepala Unit BRI Bojonggede Bogor, Saiful Rizka, menyambut positif Desa Susukan sebagai Desa BRILian. Dia lampau menjelaskan peran BRI dalam pemberdayaan UMKM dan BUMDes.
Menurut dia, ada tiga peran BRI dalam pemberdayaan UMKM. Pertama, akses pembiayaan nan meliputi KUR BRI, Kupedes dan Kredit Mikro, serta Pemberdayaan Ultra Mikro.
Kedua, BRI juga memberikan pendampingan non-finansial berupa Rumah BUMN, Link UMKM dan Klaster Usaha. Sedangkan nan ketiga adalah digitalisasi dan akses pasar nan meliputi BRIMo, BRILink hingga QRIS BRI.
Sedangkan peran BRI dalam Desa BRILiaN ada empat poin utama. Saiful menjelaskan BRI terlibat dalam pengembangan BUMDes melalui training pengurus mengenai tata kelola keuangan, digitalisasi pembukuan dan model bisnis. BRI juga mendorong digitalisasi desa agar produk-produk unggulan desa bisa dipasarkan di platform online.
Tak hanya itu, BRI juga memberdayakan desa agar programnya inovatif dan berkelanjutan. Dengan demikian, desa mempunyai produk unggulan nan menjadi karakter unik masing-masing.
Desa BRILiaN ini telah melangkah sekitar 5 tahun. Ribuan desa dari beragam penjuru Tanah Air telah masuk dalam program BRI tersebut.
"Sampai 2025, sudah ada 3.600+ Desa BRILiaN di seluruh Indonesia. Desa nan masuk program ini dikurasi, dilatih 3 bulan, lampau dimonitor. nan terbaik dapat penghargaan dan akses permodalan khusus," ujar Saiful kepada detikcom.
(knv/knv)
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·