Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan (Menkeu) Republik Indonesia, Purbaya Yudha Sadewa mengungkapkan perang di Timur Tengah telah menjadi ujian berat bagi ketahanan pasar negara berkembang.
Hal ini dipaparkannya dalam "G20 1st Finance Ministers and Central Bank Governors (FMCBG) Meeting" di sela-sela IMF-World Bank Spring Meetings 13-17 April 2026.
Purbaya mengungkapkan bahwa bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, kekhawatiran utama mengenai ketidakseimbangan eksternal terletak pada potensi risiko, termasuk volatilitas arus modal, tekanan inflasi, dan akibat spillover dari sistem finansial global. Selain dampaknya pada sektor keuangan, salah satu nan juga memberatkan adalah kenaikan nilai daya akibat perang di Timur Tengah.
Di tengah krisis ini, Purbaya memastikan APBN Indonesia tetap menjalankan fungsinya sebagai shock absorber untuk melindungi daya beli masyarakat. Pemerintah berkomitmen menjaga disiplin fiskal tetap di bawah pemisah defisit 3% PDB.
Meskipun terjadi arus keluar devisa sebesar US$ 1,8 miliar dan depresiasi rupiah akibat guncangan eksternal, tetapi Purbaya menegaskan bahwa stabilitas makro Indonesia tetap terjaga.
"Kredibilitas ini memungkinkan Indonesia untuk menyerap nilai daya nan lebih tinggi tanpa mengorbankan support bagi golongan rentan alias melanggar pemisah defisit fiskal Indonesia," ujar Purbaya.
Konflik nan sedang berjalan di Timur Tengah menjadi pengingat bahwa efisiensi proses dan perizinan merupakan kunci ketahanan energi.
Dalam perihal ini, Indonesia mempercepat reformasi dengan menyederhanakan perizinan, membentuk task force de-bottlenecking, serta mengurangi halangan dalam impor energi.
Dia pun optimis dapat mencapai sasaran pertumbuhan tahun 2026 sebesar 5,4% - 6% di tengah ketegangan dunia nan sedang berlangsung. Optimisme tersebut berasal dari pedoman ekonomi Indonesia nan solid seperti posisi eksternal nan kuat nan ditandai dengan surplus perdagangan selama 70 bulan berturut-turut hingga awal tahun 2026.
Selain itu, optimisme juga terlihat dari perekonomian domestik Indonesia nan handal nan ditopang dari konsumsi rumah tangga nan kuat, pertumbuhan stabil, inflasi terkendali, defisit fiskal nan terkelola, rasio utang terhadap PDB nan rendah, dan kebijakan hilirisasi nan berkelanjutan.
Purbaya menambahkan bahwa pemerintah bakal tetap waspada terhadap dinamika di Timur Tengah dan potensi dampaknya terhadap nilai daya global. Pemerintah telah memprioritaskan pembentukan fiscal buffer untuk menyerap guncangan nilai dan memastikan bahwa bahan bakar bersubsidi tetap stabil untuk melindungi daya beli masyarakat.
"Respons kebijakan pemerintah ialah dengan efisiensi pengeluaran negara dan transformasi struktural jangka panjang dengan mempercepat inisiatif hilirisasi," ujarnya.
(haa/haa)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·