
Olahraga. (Foto: Freepik)
DENYUT jantung menjadi salah satu parameter nan dapat digunakan untuk memandang respons tubuh ketika berolahraga. Saat aktivitas bentuk meningkat, jantung bakal berdebar lebih sigap untuk memompa darah dan oksigen ke seluruh tubuh.
Kini, degub jantung juga semakin mudah dipantau melalui smartwatch alias perangkat wearable. Namun, nomor nan muncul pada layar tetap perlu dipahami dengan tepat dan tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan untuk menentukan kondisi kesehatan jantung.

1. Cara Hitung Denyut Jantung
Dokter Umum dari Rumah Sakit Harapan Bunda, dr. Andi Sitti Tandina, dalam aktivitas Morning Zone nan tayang di Youtube Okezone menjelaskan degub jantung adalah jumlah debar jantung dalam satu menit. Angka ini dapat berubah tergantung aktivitas nan dilakukan.
Ketika tubuh sedang beristirahat, degub jantung biasanya lebih rendah. Sebaliknya, saat melangkah cepat, berlari, alias melakukan olahraga dengan intensitas tinggi, degub jantung bakal meningkat. Peningkatan tersebut merupakan respons normal tubuh terhadap kebutuhan oksigen dan daya nan lebih besar.
dr. Andi menjelaskan, salah satu langkah sederhana nan dapat digunakan untuk memperkirakan degub jantung maksimal adalah dengan rumus 220 dikurangi usia. Sebagai contoh, seseorang nan berumur 20 tahun mempunyai perkiraan degub jantung maksimal sekitar 200 degub per menit.
“Nah itu jika mau dirumuskan, rumusnya itu 220, dikurang usia kita,” ujar dr. Andi.
“Kalau misalkan umurnya 20 tahun, berfaedah maksimal heart ratenya adalah 200 heart rate per menit,” lanjutnya.
Namun, rumus tersebut hanya merupakan perkiraan dan tidak dapat digunakan sebagai patokan absolut untuk semua orang. Kondisi kesehatan, tingkat kebugaran, obat-obatan, serta aspek lainnya dapat memengaruhi degub jantung seseorang.
2. Smartwatch Bisa Membantu Memantau Denyut Jantung?
Smartwatch sekarang mempunyai fitur nan memungkinkan pengguna memantau degub jantung ketika melakukan aktivitas fisik. Menurut dr. Sitti, fitur tersebut sebenarnya cukup membantu, terutama untuk mengetahui apakah degub jantung sudah meningkat tinggi ketika berolahraga.
“Sebenarnya jika dengan nan arloji itu sebenarnya membantu,” jelas dr. Sitti.
Dengan memandang nomor degub jantung, seseorang dapat mengetahui respons tubuh terhadap intensitas olahraga. Ketika degub jantung sudah mendekati pemisah maksimal, intensitas olahraga dapat dikurangi.
“Jadi maksimal kita bisa lihat tuh, oh degub jantung saya udah segitu. Nah harusnya udah dibatasi, misalnya degub jantungnya maksimal di 180. Kalau udah sampai 180, mulai kurangin tuh intensitas olahraganya,” tuturnya.
Meski bermanfaat, smartwatch tetap mempunyai keterbatasan. Angka degub jantung nan muncul pada layar tidak secara otomatis menunjukkan bahwa jantung seseorang dalam kondisi sehat.
dr. Sitti menjelaskan bahwa perangkat tersebut pada dasarnya hanya membantu menghitung alias memantau jumlah degub jantung. Menurutnya, smartwatch juga tidak dapat memastikan apakah seseorang mengalami gangguan irama jantung tertentu.
“Tapi kelemahannya, itu kan hanya bisa ngitung aja. Nggak bisa lihat ini iramanya normal alias nggak,” jelas dr. Sitti.
“Ini betul-betul nggak ada masalah di irama jantung, itu nggak bisa dilihat. Hanya bisa memandang degub jantungnya aja,” lanjutnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·