Densus 88: Radikalisme dan Ekstremisme Masih Jadi Tantangan bagi Keamanan Indonesia!

Sedang Trending 5 bulan yang lalu

JAKARTA - Densus 88 Antiteror Polri menegaskan bahwa intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme tetap menjadi tantangan nyata bagi keamanan Indonesia. Pasalnya, tahun 2025 sebagai titik kembali migrasi besar pola rekrutmen dan aktivitas terorisme dari bumi nyata ke bumi maya.

Demikian disampaikan Kepala Densus 88 AT Polri Irjen Sentot Prasetyo nan diwakili Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana, saat menghadiri aktivitas “World Terrorism Index: Peluncuran dan Diskusi WTI 2025” di Gedung IASTH U, Kampus Salemba, Rabu (11/2/2026).

Mayndra menjelaskan, tren rekrutmen terhadap anak dan pelajar meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga memerlukan kewaspadaan ekstra dari seluruh komponen masyarakat.

‘’Indonesia dinilai mempunyai karakter kebijakan kontra-teror nan adaptif dan dinamis, nan terbukti efektif mengendalikan situasi,’’ujarnya.

Hal ini ditunjukkan dengan capaian Zero Attack alias nihil serangan teror selama tiga tahun berturut-turut.

‘’Meski demikian, Densus 88 tetap aktif melakukan penegakan norma di sejumlah wilayah sebagai langkah preventive strike guna menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat,’’pungkasnya.

pemerintah

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut, pentingnya info berbasis riset guna mempertajam Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE).

‘’Hal ini agar kebijakan negara tetap relevan di tengah dinamika ancaman nan terus berubah,’' ujar Kepala BNPT Eddy Hartono nan diwakili Brigjen Pol Mochamad Rosidi.

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia Nababan, menekankan membaca WTI 2025 sebagai sinyal kebijakan, bukan sekadar nomor peringkat.

‘’Kami membujuk publik dan pemangku kepentingan memahami parameter nan diukur, tren pergerakannya, serta keterbatasannya agar obrolan berfokus pada mitigasi akibat berbasis bukti,’’tandasnya.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com