DEN Kaji Swasta Bisa Danai Cadangan Penyangga Energi, Pakai Tangki yang Nganggur

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi kilang minyak dan gas. Foto: Rangsarit Chaiyakun/Shutterstock

Dewan Energi Nasional (DEN) menyebut pembangunan Cadangan Penyangga Energi (CPE) untuk meningkatkan kesiapan pasokan minyak mentah dan BBM di Indonesia bakal melibatkan peran swasta.

Anggota DEN, Satya Widya Yudha, mengatakan pemerintah berencana meningkatkan persediaan daya dari rata-rata 18-21 hari menjadi minimal 30 hari dengan pembangunan CPE.

Satya mengatakan, beberapa negara maju seperti Amerika Serikat (AS) mempunyai strategic petroleum reserve nan dapat diluncurkan saat kondisi krisis dan darurat berasas pengarahan unik presiden.

Saat ini Indonesia tetap berjuntai pada impor energi. DEN mencatat, impor minyak mentah nasional 38,7 persen dari kebutuhan intake kilang, impor BBM mencapai 34,2 persen dari konsumsi nasional, dan impor LPG sebesar 80,6 persen dari konsumsi domestik.

"Indonesia kudu menuju ke sana, kita kudu punya nan namanya persediaan penyangga energi," katanya saat Sarasehan Energi di IPB, Rabu (10/6).

Ditemui usai acara, Satya menjelaskan bahwa CPE ditargetkan dapat menampung 30 kali impor dalam sehari. Proyek ini diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) No 96 Tahun 2024 nan rencananya bakal dikaji kembali untuk melibatkan swasta.

"Kita lagi mereview Perpres nan ada, lantaran di dalam CPE itu kita pikirkan apakah keterlibatan swasta bisa alias tidak untuk membangun storage-nya. Itu nan sekarang lagi kita diskusikan, lantaran jika Perpres nan ada ini murni kekuatan APBN," jelasnya.

Satya menjelaskan, selain keterlibatan investasi swasta, DEN juga bakal mempersilakan CPE menggunakan tanki minyak mentah alias BBM nan sudah ada namun tidak digunakan namalain nganggur (idle).

"Kita lagi memikirkan mungkin tangki-tangki nan idle nan bisa dimaksimalkan, kan banyak tangki nan idle. Nah itu gimana kita convert misalkan dari gas menjadi tangki crude alias BBM itu nan lagi kita lihat.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha, saat Sarasehan Energi di Institut Pertanian Bogor (IPB), Rabu (10/6/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Dia menuturkan, salah satu tangki idle nan dibidik adalah milik Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) hulu migas nan tidak terpakai lantaran ada penurunan produksi. Hal ini dinilai bisa menekan biaya pembangunan.

"Termasuk nan di upstream, nan milik daripada K3S nan mungkin sudah depresiasi dan menjadi milik negara. Itu nan kita pikirkan. Karena itu nan paling tidak cost-nya tidak terlalu besar," tutur Satya.

Satya belum bisa menyebut tangki idle mana saja nan sudah dibidik. Sebab, sejauh ini DEN tetap mengupayakan revisi patokan untuk memasukkan klausul keterlibatan investasi swasta.

Kendati demikian, dia juga belum bisa memastikan apakah penanammodal nan terlibat dalam proyek CPE di Indonesia berasal dari negara lain. "CPE saat ini tetap didanai oleh APBN, maksudnya mayoritasnya APBN, dan itu kita bakal lihat gimana keterlibatan swasta ke depan," tutup Satya.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan proyek penyimpanan (storage) persediaan minyak mentah bakal dibangun oleh swasta, kerja sama perusahaan asing dan domestik.

Bahlil menegaskan, tidak ada strategi lain selain membangun storage, apalagi untuk mengakomodasi peralihan impor minyak mentah dari Timur Tengah menjadi Amerika Serikat (AS) nan juga bakal dieksekusi secara bertahap.

"Ya investasinya sudah ada, investornya sudah ada. Investasinya bisa di-blending antara dalam negeri dan dari luar, tapi bukan dari AS. Ya namanya bangun swasta lah," kata Bahlil.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan