Defisit Transaksi Berjalan RI Capai USD 12,5 Miliar, 3,3 Persen dari PDB

Sedang Trending 52 menit yang lalu
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso datang di Kompleks Parlemen, Senayan, Kamis (13/11/2025). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan transaksi melangkah mencatatkan defisit nan lebih tinggi pada triwulan II 2026, dipengaruhi oleh beberapa aspek nan diprakirakan berkarakter temporer.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan defisit neraca perdagangan migas meningkat akibat kenaikan impor minyak, sejalan dengan tingginya nilai minyak dunia.

“Surplus neraca perdagangan nonmigas juga tercatat lebih rendah dipengaruhi oleh peningkatan impor nonmigas untuk kebutuhan aktivitas ekonomi dalam negeri nan tetap tinggi,” ucap Ramdan melalui keterangannya, Jumat (21/8).

Selain itu, defisit neraca pendapatan primer meningkat sejalan dengan pembayaran pendapatan primer, sedangkan surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan dengan capaian pada triwulan I 2026.

Dengan kondisi tersebut, Ramdan mencatat defisit transaksi melangkah pada triwulan II 2026 sebesar USD 12,5 miliar alias 3,3 persen dari PDB, melebar dibandingkan dengan defisit pada triwulan sebelumnya sebesar USD 3,6 miliar alias 1,0 persen dari PDB.

Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II 2026 tetap terjaga, di tengah ketidakpastian dunia nan tetap tinggi.

“NPI pada triwulan II 2026 mencatat defisit 0,9 miliar dolar AS, jauh lebih mini dibandingkan dengan defisit pada triwulan I 2026 sebesar 9,1 miliar dolar AS,” ujar Ramdan.

Ia menyebut transaksi melangkah mencatat defisit nan lebih tinggi didorong oleh kenaikan defisit neraca perdagangan migas dan penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas.

“Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatat surplus ditopang oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio sehingga mendukung keahlian NPI nan tetap terjaga,” jelasnya.

BI mencatat posisi persediaan devisa pada akhir Juni 2026 tetap terjaga sebesar USD 145,6 miliar, setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor alias 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi persediaan devisa itu berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Kata Ramdan, transaksi modal dan finansial mencatat surplus nan didukung oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio sehingga dapat menopang NPI.

“Investasi langsung mencatat surplus nan lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya dipengaruhi oleh terjaganya persepsi positif penanammodal terhadap prospek perekonomian dan suasana investasi domestik,” sebut Ramdan.

Ia menambahkan, investasi portofolio juga mencatat surplus nan meningkat seiring dengan kenaikan imbal hasil instrumen finansial domestik. Sementara itu, investasi lainnya mencatat defisit nan lebih rendah.

video story embed

BI mencatat transaksi modal dan finansial mencatat surplus sebesar USD 12,0 miliar pada triwulan II 2026, setelah pada triwulan I 2026 mengalami defisit sebesar USD 4,8 miliar.

“Ke depan, prospek NPI diprakirakan tetap baik sehingga mendukung ketahanan eksternal. Defisit transaksi melangkah diprakirakan lebih rendah didukung perbaikan prospek ekspor sejalan kenaikan nilai komoditas global, termasuk nilai komoditas unggulan ekspor Indonesia, dan akibat positif penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat,” jelasnya.

Ramdan menuturkan, transaksi modal dan finansial juga diprakirakan tetap surplus, ditopang oleh berlanjutnya aliran masuk modal asing seiring dengan imbal hasil instrumen finansial domestik nan menarik dan prospek ekonomi Indonesia nan positif.

“Selain itu, sinergi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia juga terus diperkuat untuk menopang keahlian NPI 2026 di tengah ketidakpastian dunia nan tetap tinggi,” imbuh Ramdan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan