Defisit APBN Hampir 1 Persen pada Kuartal I-2026, Wamenkeu: Ini Memang By Design

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Rohman Wibowo , Jurnalis-Kamis, 07 Mei 2026 |12:22 WIB

 Ini Memang By Design

Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, menjelaskan bahwa defisit APBN pada kuartal I-2026 nan mencapai 0,93 persen. (Foto: Okezone.com/Kemenkeu)

JAKARTA – Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, menjelaskan bahwa defisit APBN pada kuartal I-2026 nan mencapai 0,93 persen merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan shopping negara. Menurut Juda, konsumsi pemerintah pada triwulan I-2026 tumbuh 21,81 persen sehingga mendorong pelebaran defisit fiskal.

"Kita tahu di triwulan satu, konsumsi pemerintah tumbuh cukup tinggi, 21,81 persen, sehingga defisitnya 0,93 persen. Ini memang by design. Pemerintah mau pertumbuhan ekonomi itu bukan di akhir tahun," kata Juda dalam aktivitas Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat nan dilangsungkan secara daring, Kamis (7/5/2026).

Menurut Juda, pemerintah menargetkan peningkatan perekonomian sejak awal kuartal. Dengan demikian, akumulasi intervensi fiskal bakal terlihat pada akhir tahun nan merepresentasikan pertumbuhan ekonomi. "Kalau pola-pola biasanya, itu shopping baru meningkat di triwulan empat. Nah, sekarang ini mulai triwulan satu juga sudah mulai kita dorong," kata dia.

Dia menyatakan defisit fiskal nan nyaris menyentuh 1 persen dari PDB pada kuartal awal tahun ini tidak serta-merta bakal tembus lebih dari 3 persen pada akhir 2026 alias melampaui periode pemisah ketahanan finansial negara sebagaimana diamanatkan undang-undang. Sejumlah langkah sedang diproses pemerintah untuk menekan defisit sembari memastikan instrumen fiskal tidak mempengaruhi secara signifikan postur APBN.

"Dari sisi pembiayaan defisitnya, kami juga tetap on track, tetap terjaga dengan baik. Pembiayaan utangnya sudah mencapai 31,1 persen ialah Rp258 triliun. Defisit fiskal kami bisa kita jaga di bawah 3 persen," kata dia.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com