Kegiatan kunjungan pabrik Reporter Cilik Media Indonesia ke PT Dirgantara Indonesia, Bandung, pada Senin (24/8).(MI/Permana)
Awalnya, ada pengumuman seleksi pemilihan calon reporter cilik (Repcil) di sekolahku. Aku pun ikut mencoba dan sukses lolos. Namun, perjuangan belum selesai lantaran saya kudu mengunggah video ke Media Indonesia sebagai seleksi akhir.
Aku sangat berterima kasih ketika tahu bahwa saya dan tujuh temanku dari SD BPI dinyatakan lolos ke tahap selanjutnya. Kami berkuasa mengikuti training lewat Zoom dan melakukan kunjungan ke PT Dirgantara Indonesia (PT DI).
Setelah melakukan training jurnalistik melalui Zoom pada hari Sabtu, 22 Agustus, tibalah saat nan paling saya tunggu-tunggu. Hari kunjungan ke PT DI akhirnya tiba! Pada pagi hari, saya berbareng teman-teman dari SD BPI berangkat bersama-sama dari sekolah menuju Auditorium B.J. Habibie nan berada di dalam area PT DI.
Sesampainya di sana, kami dibagi menjadi tiga kelompok. Di golongan ini, saya berjumpa dengan banyak kawan baru nan belum saya kenal sebelumnya. Mereka adalah peserta dari beragam SD lain nan ada di Kota Bandung. Rasanya seru sekali bisa menambah kawan baru!
Tak lama setelah berkumpul, saya dan kelompokku diarahkan untuk menaiki bus Bandros menuju tempat kunjungan pertama, ialah Gedung Galeri Mock Up. Di dalam galeri tersebut, pandanganku langsung dimanjakan oleh beragam replika pesawat, roket, hingga rudal buatan anak bangsa.
Hebatnya lagi, saya mendapatkan kesempatan langka untuk masuk dan merasakan langsung berada di dalam ruang kemudi namalain kokpit pesawat N219. Aku merasa sangat kagum dan kagum. Di dalam hati, saya langsung membayangkan gimana serunya seorang pilot mengemudikan pesawat dari ruangan nan penuh dengan tombol-tombol canggih ini.
Petualangan kami tidak berakhir di situ. Menggunakan Bandros, kami kemudian diantar menuju hangar pesawat. Di hangar ini, saya bekerja melakukan wawancara langsung dengan salah satu tenaga kerja berjulukan Bapak Muhammad Harish Ramdani. Beliau bekerja di bagian Quality Inspector.
Aku pun memberanikan diri untuk bertanya tentang tugas sehari-hari nan beliau lakukan. Pak Harish tersenyum dan menjawab, “Pekerjaan Bapak sehari-hari adalah memeriksa apakah pesawat nan mau diterbangkan sudah betul-betul kondusif dan layak.”
Dari hasil wawancara itu, saya menjadi mengerti bahwa setiap tenaga kerja di PT DI mempunyai tugas dan tanggung jawab nan berbeda. Hebatnya, semua bagian mempunyai peran nan sangat krusial dan keren demi keselamatan penerbangan.
Setelah semua aktivitas di hangar selesai, kami kembali ke ruang auditorium. Tak lama kemudian, suasana menjadi riuh lantaran kehadiran Bapak Dena Hendriana selaku Direktur Produksi dan Ibu Dhias Widhiyati selaku Direktur Keuangan PT DI. Beliau berdua datang untuk memberikan pesan-pesan nan sangat membangun dan memotivasi anak-anak seusia kami.
Kami juga diberi kesempatan emas untuk bertanya langsung kepada kedua ketua PT DI tersebut.
Salah satu temanku bertanya, "Apa pesawat nan paling Bapak banggakan alias menjadi pesawat favorit Bapak?" Pak Dena dengan bangga menjawab, "Pesawat nan paling dibanggakan Bapak adalah pesawat CN235."
Mendengar jawaban itu, saya sadar bahwa pesawat CN235 bukan hanya kebanggaan Pak Dena, melainkan juga kebanggaan seluruh masyarakat Indonesia lantaran merupakan produk original buatan dalam negeri.
Seluruh rangkaian aktivitas kunjungan nan seru ini akhirnya ditutup dengan sesi foto bersama. Dengan berakhirnya sesi foto tersebut, berhujung pula rangkaian kegiatanku sebagai reporter cilik hari itu.
Aku merasa sangat senang dan bangga bisa mendapatkan pengalaman berbobot ini. Terima kasih SD BPI, terima kasih Media Indonesia, dan terima kasih PT Dirgantara Indonesia untuk kesempatan nan luar biasa ini. Terakhir, selamat ulang tahun nan ke-50 untuk PT Dirgantara Indonesia! Semoga terus terbang tinggi mendunia. (X-6)

English (US) ·
Indonesian (ID) ·