Dari Pemulihan Menuju Panen, Pemkab Pidie Percepat Penanganan Irigasi Sawah

Sedang Trending 4 jam yang lalu
Dari Pemulihan Menuju Panen, Pemkab Pidie Percepat Penanganan Irigasi Sawah Ilustrasi(Dok Istimewa)

Pemulihan lahan pertanian terdampak musibah di Kabupaten Pidie, Aceh, terus menunjukkan perkembangan. Program optimasi lahan seluas 287 hektare telah mencapai progres 90 persen dan sebagian petak sawah mulai memasuki masa panen. Pemerintah sekarang mempercepat penanganan sawah rusak berat sekaligus memprioritaskan pemulihan irigasi bagi 475 hektare lahan menjelang musim tanam rendengan.

Capaian optimasi lahan tersebut didukung pemetaan dan pendampingan teknis nan melibatkan akademisi Universitas Malikussaleh. Penyelesaian sisa pekerjaan terus didorong agar seluruh lahan rusak ringan dapat kembali produktif dan menopang pendapatan petani.

Ketua Tim Monitoring dan Evaluasi Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera di Kabupaten Pidie, Laksma TNI Nouldy Tangka, mengatakan pemulihan pertanian menunjukkan perkembangan nyata pada lahan dengan tingkat kerusakan berbeda.

"Keberhasilan pemulihan 90% lahan Opla ini adalah bukti nyata kehadiran negara. Instruksi dari pusat melalui Satgas PRR langsung kami eksekusi di lapangan agar dapur petani kembali mengepul dan ketahanan pangan wilayah terjaga," ujar Nouldy.

Penanganan juga bergerak pada 95 hektare sawah rusak berat melalui proyek percontohan nan didukung perangkat berat. Pekerjaan dilaksanakan di Gampong Blang Cut, Kecamatan Kembang Tanjong; Gampong Pante Beunot, Kecamatan Tiro; dan Gampong Blang Pandak, Kecamatan Tangse.

Percepatan turut dilakukan melalui penyesuaian pengelompokkan kerusakan berasas kondisi setiap petak sawah. Di Gampong Baruh Yaman, Kecamatan Mutiara, survei investigasi dan kreasi menemukan sejumlah lahan hanya tertutup sedimen tipis sehingga secara teknis dapat direklasifikasi dari rusak berat menjadi rusak sedang.

Hasil pemetaan tersebut membuka penyelenggaraan rehabilitasi 215 hektare sawah dengan support anggaran Kementerian Pertanian sebesar Rp3,225 miliar. Pemerintah juga merampungkan verifikasi manajemen bagi petani nan telah bergotong royong membersihkan lumpur agar biaya pekerjaan dapat diproses melalui skema swakelola.

Di tengah progres tersebut, banjir susulan pada 26–27 September 2026 merusak Bendung Daerah Irigasi Blang Kumot alias Babah Lueng Adan di Gampong Blang Kumot Tunong, Kecamatan Sakti. Bendung jebol, tembok saluran ambruk, dan dasar saluran tertutup endapan lumpur padat sehingga pasokan air menuju persawahan terhenti.

Berdasarkan kajian Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Pidie, kerusakan tersebut memengaruhi 475 hektare sawah di 13 gampong. Lahan itu terdiri atas 362 hektare di 11 gampong Kecamatan Sakti dan 113 hektare di dua gampong Kecamatan Mutiara. Apabila pengairan tidak segera dipulihkan, potensi kehilangan produksi dalam dua musim tanam diperkirakan mencapai 5.890 ton gabah senilai Rp44,76 miliar.

Pemkab Pidie telah meminta support Balai Wilayah Sungai Sumatera I berupa 2.000 unit kawat bronjong beserta material pengisi untuk penanganan darurat sepanjang 200 meter. Berdasarkan kalkulasi teknis daerah, perbaikan bendung dan saluran memerlukan anggaran sekitar Rp2,37 miliar.

Satgas PRR bakal mengawal koordinasi Pemkab Pidie dengan BWS Sumatera I agar penanganan darurat bendung dan pengerukan sedimen segera dilaksanakan. Dukungan pengairan juga diperkuat melalui alokasi 68 unit irigasi perpompaan senilai Rp10,82 miliar dan paket irigasi lumbung pangan senilai Rp35 miliar.(H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑