Dari Opini ke Cerita Anak: Tantangan Baru Seorang Penulis

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi menulis. Foto: PreciousJ/Shutterstock

Menulis cerita anak adalah sebuah tantangan baru bagi saya. Selama ini, tulisan saya lebih sering bertema non fiksi. Baik berupa opini maupun kebenaran sejarah.

Tugas untuk menulis cerita anak ini pertama saya dapatkan dari kantor, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X. Tugas itu baru diberikan pada tahun 2025. Tentu saja tugas ini bukan tugas perseorangan melainkan tim.

Kala itu ada embel – embel, bahwa cerita anak nan ditulis, bukan cerita anak biasa. Ini disebabkan cerita tersebut adalah terbitan dari kantor. Jadi kudu mempunyai memiliki pesan nan positif.

Sebenarnya saya penasaran mendengar penjelasan tersebut. Lantas terjadi percakapan singkat untuk menanyakannya. Maksudnya, saya menanyakan model cerita terbitan instansi itu seperti apa? Jawabannya adalah cerita nan mempunyai pesan dan makna positif bagi anak anak pembacanya. Sebuah jawaban nan masuk akal, mengingat siapa sih nan mau anaknya terinspirasi melakukan bandel dari sebuah kitab cerita.

***

Tugas menulis cerita anak kembali saya dapatkan di tahun ini. Berbeda dengan tahun sebelumnya, saya hanya terlibat saat proses pengambilan data. Tahun ini saya terlibat secara penuh sebagai penulis.

Jadi saya betul – betul menulis cerita untuk anak – anak. Sesuatu perihal nan bagi saya susah tentunya. Dari nan semula biasa menulis data, kebenaran dan interpretasi. Beralih menjadi tulisan fiksi, nan biasa berasal dari imajinasi.

Pada fase inilah saya mencoba menghindari penggunaan bahasa laporan nan serius dan panjang. Kebetulan saya tetap menjumpai penggunaanya —yang disertai ilustrasi untuk anak — pada sejumlah terbitan kantor. Bagi saya, model semacam itu bukanlah cerita untuk anak.

Bacaan masa mini berupa majalah anak – anak (seperti Bobo, Mentari dan Kuncup), novel karya Enid Blyton dan kitab cerita lainnya, memang bisa menjadi inspirasi tentang referensi anak. Tapi memang tidak semudah itu menulis fiksi. Apalagi jika inspirasinya adalah warisan budaya.

***

Bacaan untuk anak di Indonesia dewasa ini memang sedang mengalami krisis. Khususnya di bagian middle grade. Bacaan untuk anak praremaja, sekitar usia 8 – 13 tahunan. Bacaan nan menjembatani antara cerita bergambar ke novel untuk remaja.

Kita nan menjalani masa praremaja pada akhir 90-an hingga awal 2000 sebenarnya sudah mengalaminya. Jarang ada referensi nan berasal dari sastrawan Indonesia saat itu. Tidak heran jika banyak nan beranjak ke novel terjemahan, seperti karya Enid Blyton. Secara kebetulan karya tersebut diterjemahkan dengan apik oleh Agus Setiadi (Ayah dari Hilmar Farid, mantan Dirjen Kebudayaan (2015-2024). Meski berlatar Inggris pertengahan abad 20, novel ini menjadi referensi favorit penulis, apalagi hingga kini. Ada banyak lagi karya nan mengisi masa itu, termasuk komik komik dari penulis Jepang seperti Detektif Conan dan Kung Fu Boy.

Sementara majalah nan saya sebut di atas tadi sejumlah karya penulis lokal nan menemani masa mini hingga praremaja sebagian anak Indonesia. Dari majalah Bobo, ada cerpenis Widya Suwarna nan karyanya sangat menarik. Dari majalah Mentari ada cerita bergambar Hamindalid nan lucu.

***

Belajar dari penugasan dari instansi itu, saya semakin memahami, bahwa bukan perkara mudah untuk menulis cerita anak. Menulis alur cerita nan menarik, bisa diterima dan sesuai untuk anak, rupanya sulit. Apalagi memberi pesan nan positif dalam sebuah cerita. Saya sendiri lebih suka jika pesan positif nan diberikan kepada pembaca itu disampaikan secara tersirat dan tidak dipaksakan. Pesan positif nan disampaikan secara tersurat, terkadang bisa merusak alur cerita.

Lihat saja tulisan dari Enid Blyton, semuanya selalu menceritakan sisi nakalnya anak anak praremaja tersebut. Meski di akhir cerita pasti ada pesan nan disampaikan. Namun itu tidak pernah merusak alur cerita.

Kehadiran referensi untuk anak, khususnya untuk kelas middle grade di Indonesia memang sangat diperlukan. Ini adalah salah satu upaya untuk mendukung momen tumbuh kembang dari anak. Agar tidak ada fase nan lenyap dari masa tumbuh kembang. Dari fase membaca cerita bergambar, novel / referensi middle grade dan barulah novel teenlit.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan