Kegiatan liputan Reporter Cilik Media Indonesia ke PT Dirgantara Indonesia, Bandung, pada Senin (24/8).(MI/Permana)
Pagi itu, sebelum mengikuti aktivitas Reporter Cilik (Repcil) 2026, saya sudah lebih dulu mengejar pesawat. Bukan untuk menaikinya, tetapi untuk memotretnya. Perkenalkan, saya Lionel, seorang plane spotter, ialah orang nan mempunyai kegemaran mengawasi dan memotret pesawat.
Pagi itu, saya berangkat lebih awal menuju Bandara Husein Sastranegara untuk mencoba mendapatkan foto pesawat Citilink dengan registrasi PK-GQG. Pesawat tersebut mempunyai livery khusus, ialah kreasi alias hiasan pada badan pesawat nan menunjukkan identitas maskapai. Aku sangat senang ketika sukses memotretnya.
Namun, hari itu saya tidak hanya memandang pesawat dari luar. Aku mendapat kesempatan untuk memandang lebih dekat tempat pesawat dirancang, dibuat, dan dikembangkan, ialah PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Pada 24 Agustus 2026, saya berbareng peserta Repcil 2026 mengunjungi PT DI dalam rangkaian aktivitas HUT ke-50 PT DI.
Bagi seorang plane spotter sepertiku, kunjungan ini sangat spesial lantaran saya bisa memandang beragam pesawat dari jarak dekat, apalagi masuk ke salah satu kokpitnya.
Kegiatan dimulai dengan registrasi di Auditorium B. J. Habibie. Di depan gedung tersebut terdapat sebuah mobil dengan pelat nomor N 250. Nomor itu langsung menarik perhatianku lantaran mengingatkanku pada N-250, pesawat rancangan Indonesia nan dikembangkan oleh IPTN, nama PT DI sebelum menjadi PT Dirgantara Indonesia.
N-250 merupakan pesawat turboprop nan menggunakan teknologi fly-by-wire. Prototipe pertamanya, nan dikenal sebagai Gatotkaca, mempunyai kapabilitas 50 penumpang dan melakukan penerbangan perdana pada 10 Agustus 1995. Keberhasilan penerbangan perdana N-250 kemudian menjadi salah satu peristiwa nan melatarbelakangi penetapan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional.
Melihat pesawat nan menjadi bagian krusial dalam sejarah industri dirgantara Indonesia membuatku semakin penasaran dengan apa nan bakal kutemukan di dalam PT DI.
Setelah sambutan dari perwakilan PT DI dan Media Indonesia, rombongan Repcil mulai berkeliling menggunakan Bandros. Di sepanjang perjalanan, saya memandang beragam jenis pesawat dan helikopter.
Dalam bumi penerbangan, pesawat dapat dibedakan antara lain menjadi fixed-wing dan rotary-wing. Fixed-wing adalah pesawat nan mempunyai sayap tetap, sedangkan rotary-wing, seperti helikopter, menghasilkan style angkat melalui bagian nan berputar.
Di PT DI terdapat beragam produk dan pesawat, antara lain CN235, NC212, N219, helikopter, serta sistem nirawak alias drone.
Salah satu pengalaman nan paling membuatku senang adalah ketika mendapat kesempatan masuk ke kokpit CN235. Dari dalam kokpit, saya bisa memandang beragam instrumen nan digunakan untuk membantu pengoperasian pesawat. Melihatnya dari dekat membuatku membayangkan gimana rasanya menjadi bagian dari awak pesawat tersebut.
Setelah itu, kami memandang beragam miniatur pesawat dan drone sebelum melanjutkan perjalanan menuju final assembly line, ialah area tempat perakitan akhir pesawat.
Di tempat inilah saya mendapat kesempatan melakukan wawancara dengan Bapak Teguh nan bekerja di bagian production planning and control. Dari Teguh, saya mengetahui bahwa pembuatan pesawat memerlukan perencanaan dan pengendalian produksi nan sangat teliti.
Salah satu pesawat nan menarik perhatianku adalah CN235 untuk misi patroli maritim. CN235 memang mempunyai jenis nan digunakan untuk pengawasan laut. Pesawat tersebut dapat dilengkapi dengan beragam perangkat untuk membantu mendeteksi dan memantau objek di laut, termasuk radar dan sensor elektro-optik alias inframerah.
Aku juga mendapat penjelasan mengenai mesin pesawat. CN235 menggunakan dua mesin General Electric CT7-9C. Sementara itu, untuk NC212i nan saat ini diproduksi PT DI, mesin nan digunakan adalah Honeywell TPE331.
Selain pesawat-pesawat tersebut, saat berada di area PT DI saya juga memandang pesawat Hercules L100 nan sedang melakukan latihan terjun payung. Sebagai seorang plane spotter, memandang beragam pesawat dari jarak dekat di satu tempat tentu menjadi pengalaman nan sangat menyenangkan.
Kegiatan kemudian ditutup dengan pesan dari Direktur Produksi dan Keuangan PT DI. Ada satu kalimat nan paling kuingat, “Tidak ada cita-cita nan terlalu besar untuk diwujudkan.”
Kalimat tersebut terasa sangat dekat denganku lantaran saya mempunyai cita-cita nan berangkaian dengan bumi penerbangan.
Dunia penerbangan bukan hanya tentang pilot dan pesawat. Di kembali sebuah penerbangan, ada banyak orang nan bekerja bersama. Pilot memerlukan ATC untuk berkomunikasi, petugas di darat membantu beragam proses di bandara, sedangkan para teknisi dan pekerja industri dirgantara memastikan pesawat dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Hari itu saya datang sebagai seorang plane spotter. Aku pulang dengan pengalaman baru sebagai seorang Reporter Cilik nan dapat membagikan pengalaman berhargaku ini kepada orang lain.
Bagiku, PT DI bukan hanya tempat pesawat dibuat. Di sana saya memandang gimana pengetahuan pengetahuan, teknologi, kerja sama, dan cita-cita dapat berjumpa untuk menghasilkan karya anak bangsa.
Dan suatu hari nanti, saya mau menjadi bagian dari bumi penerbangan itu sendiri.
Terima kasih, PT DI dan Media Indonesia. (X-6)

English (US) ·
Indonesian (ID) ·