Liputan6.com, Jakarta - Ketidakpastian ekonomi dilihat dari beragam indikator, seperti melemahnya nilai tukar, banyaknya PHK, hingga tingkat inflasi, membawa akibat nan memukul kelas menengah Indonesia. Bahkan bahayanya sudah di taraf 'makan tabungan' nan terancam jadi 'makan utang'.
Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), mendefinisikan kejadian 'makan tabungan' ketika masyarakat semakin banyak menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan, lantaran keahlian mengakumulasi simpanan semakin terbatas.
Andjas, kelas pekerja Jakarta, menjadi salah satu nan saat ini mengalami kejadian makan tabungan, lantaran ketidakpastian ekonomi. Dirinya mengakui sudah beberapa kali memakai uang tabungannya untuk memenuhi kebutuhan.
"Sudah dua kali ambil duit tabungan nan jumlahnya lumayan," ujar Andjas kepada Liputan6.com, Kamis (20/8/2026).
Uang tabungan nan diambilnya digunakan untuk kebutuhan transportasi saat memasuki akhir bulan.
"Pernah pas di akhir bulan, saat budget buat transport ke instansi rupanya kurang," kata Andjas.
Andjas juga mengatakan, di tengah ketidakpastian ekonomi, dirinya mulai mengencangkan ikat pinggang dengan membatasi pengeluaran.
"Sekarang mulai membatasi pengeluaran, apalagi terpikirkan untuk lebih memilih beli lauk mateng daripada masak, soalnya beli bahan makanan mentah, misalnya cabe, bawang, ikan lebih mahal daripada beli makanan jadi," katanya.
Dia mengakui, pengeluarannya nan paling terasa menguras kantong adalah untuk kebutuhan sehari-hari, seperti makan dan transportasi.
Masih Bisa Menabung
Meski begitu, Andjas mengaku tetap bisa menabung meski nominalnya tidak sebesar dahulu. Namun, dia tetap mempunyai biaya darurat.
"Masih tapi nominalnya beda sama dulu sebelum apa-apa naik dan kerja masih WFH. Dulu bisa di atas Rp 1 juta. Dana darurat ada, tapi paling cukup buat 10 bulanan," katanya.
Menurut Andjas, jika duit tabungannya semakin menipis, mungkin bakal berdagang alias upaya lain nan tidak butuh biaya perjalanan, misalnya jual beli di rumah.
Dia pun mengaku cemas nantinya bakal lebih besar pasak daripada tiang, namalain lebih banyak pengeluaran daripada pendapatan. Sebab Andjas sampai saat ini tidak pernah mempunyai utang, menggunakan paylater, dan kartu kredit.
"Bakal lebih besar pasak daripada tiang, penghasilan alias penghasilan gak naik tapi biaya hidup harian naik signifikan. Dan jika sampai tahun depan situasi gak berubah, bakal cari tambahan penghasilan, misalnya freelance-freelance alias jualan," kata Andjas.
Uang Tabungan Berkurang
Sementara itu, Desi, seorang pekerja swasta berbareng suaminya juga mengakui duit tabungannya berkurang. Apalagi, kata dia, ada keperluan memenuhi kebutuhan sekolah dua anaknya.
"Belakangan ini nan berasa banget biaya serba serbi untuk menunjang pendidikan sekolah, seperti seragam, sepatu dan perlengkapan lainnya," cerita Desi.
Dia pun mengakui pernah beberapa kali terpaksa mengambil duit tabungannya untuk keperluan mendadak.
"Biasanya untuk kebutuhan mendadak, seperti salah satu personil family ada nan sakit, tapi itu juga ambil duit tabungannya gak terlalu sering," ucap Desi.
Meski begitu, dia dan suami tetap tetap bisa menabung lagi dari penghasilan keduanya. Desi juga mengaku tetap tetap mempunyai tabungan untuk biaya darurat. Karena Desi dan suami mempunyai prinsip untuk tidak meminjam duit kepada siapa pun, baik kawan alias kerabat juga tak memakai kartu kredit.
Meski demikian, Desi tetap meletakkan cemas terhadap kondisi ekonomi nan sekarang ini dirasakannya, nan apa-apa harganya serba naik dan mahal. Sebab baginya, pengeluaran nan paling susah ditekan adalah kebutuhan untuk biaya makan dan shopping mingguan.
"Jika terus memaksakan menggunakan tabungan, semakin lama semakin menipis dan cemas bakal merusak keadaan ekonomi keluarga," kata Desi. Jangan sampai dari makan tabungan, berubah jadi makan utang.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·