Dari Lahan Rawan Terbakar Menjadi Kebun Nanas yang Menghidupi

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Dari Lahan Rawan Terbakar Menjadi Kebun Nanas nan Menghidupi Petani nanas di Desa Tabarano, Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur, Sulsel, mencincang daun sebagai bahan membikin kompos, nan merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat (PPM) PT Vale Indonesia, Tbk.(MI/Lina Herlina)

DULU, setiap musim tandus penduduk Desa Tabarano, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, selalu was-was. Lahan kering di perbukitan mudah terbakar dan ancamannya nyata hingga ke permukiman. Kini, di lahan seluas lima hektare nan sama, tumbuh ribuan pohon nanas. Bukan hanya mengubah wajah desa, tetapi juga membuka angan baru bagi ekonomi warga.

Empat tahun lalu, Rimal Manuk Allo, Kepala Desa Tabarano, Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur, tetap kudu menganggarkan biaya unik setiap tahun untuk mengantisipasi kebakaran lahan. “Itu rutin kami lakukan. Tapi sekarang ceritanya berbeda,” ujarnya.

Perubahan itu dimulai dari sebuah kegigihan. Nama Wasuponda sendiri dalam bahasa lokal berfaedah “nanas di atas batu”, berasal dari kata  wosu (batu) dan ponda (nanas).

Ironisnya, selama bertahun-tahun tidak ada kebun nanas di sana. Lahan nan ada justru kritis, berbatu, dan rawan api.

Rimal nekat memulai. Meski awalnya banyak nan meremehkan, dia meyakini nanas bisa tumbuh lantaran termasuk family kaktus nan tahan kekeringan. “Tidak disiram pun bisa tumbuh,” katanya.

Keyakinan itu berjumpa dengan support nyata. Sejak 2022, PT Vale Indonesia melalui Program Pengembangan Masyarakat (PPM) mulai mendampingi desa. Lahan seluas 5 hektare di area Gunung Tabor, sekitar 30 menit dari blok Sorowako, digarap menjadi proyek percontohan berjulukan Pineapple Pathways for Sustainability alias Ponda’ta, dari kata ponde dan ta’malolo nan berfaedah menanam dan tumbuh bersama.

PT Vale tidak hanya memberi bibit. Mereka juga menyediakan training teknis, support air, sistem drainase, embung kecil, hingga pembangunan rumah produksi. Hingga tahun 2025, biaya hibah nan mengalir mencapai Rp600 juta. Sebanyak 25 ribu pohon nanas sekarang tumbuh di lahan nan dulu mati.

Hasilnya Mulai Terlihat

Yohanis Gusti, Ketua Kelompok Pondata Desa Tabarano, mencatat sejak panen perdana 2024 hingga 2025 sudah empat kali masa panen. Dari dua hektare nan sudah produktif, omzet tahun ini mencapai Rp40 juta. “Kami targetkan 25 hektare ke depan, sesuai komitmen pemerintah daerah,” kata Yohanis.

Bahkan dari taman-tanaman gulma alias tanaman lain di sekitar kebun nanas, sekarang kita manfaatkan untuk membikin pupuk kompos, nan kelak hasilnya juga digunakan untuk perkebunan untuk menyuburkan nanas di sekitar sini.

"Bukan hanya kompos, kita juga mulai memelihara maggot, nan juga bisa menghasilkan pupuk organik nan sama, serta pembuatan nursery," serunya.

Perubahan paling nyata dirasakan penduduk seperti Siska Harianti. Ibu tunggal dengan tiga anak ini dulu hanya bekerja serabutan. Kini dia menjadi salah satu dari 11 pengelola kebun nanas nan aktif memproduksi dodol, keripik, dan asinan di rumah produksi berbareng golongan perempuan.

“Dulu lahan ini mati. Sekarang, saya bisa panen sampai 1,5 ton per hektare setiap musim,” ungkap Siska.

Hasil panen itu dia kelola menjadi jenis olahan nan dijual lokal. Lebih dari sekadar pendapatan, Siska sekarang bisa menabung untuk biaya sekolah anak-anaknya. “Ini bukan hanya soal gaji, tapi kehidupan nan layak.”

Akses Kerja bagi Kelompok Rentan

Lima orang menjadi petani utama, sepuluh lainnya pengelola. Saat panen raya alias produksi olahan, desa melibatkan orang tua tunggal, pengangguran, dan penduduk nan kehilangan mata pencaharian.

“Badan Permusyawaratan Desa pun ikut tanam nanas. Karena jika hanya melihat, tak bakal lahir rasa memiliki,” tambah Rimal.

Sinergi dengan pemerintah kabupaten pun menguat. Tahun 2025, total biaya pembangunan desa mendekati Rp4,9 miliar, termasuk Rp2 miliar dari Pemkab Luwu Timur melalui Bantuan Keuangan Khusus (BKK) berbasis potensi lokal. Bupati Irwan Bachri Syam meresmikan area ini sebagai Agrowisata Pondata Tabarano pada 2024.

Tidak hanya bertani, desa juga menyiapkan lahan enam hektare untuk ternak sapi dan kambing sebagai bagian dari siklus berdikari pembuatan kompos organik.

Limbah ban, sekam, dan material sisa dari PT Vale dimanfaatkan untuk memperkuat terasering, menggantikan semen. Produk UMKM sekarang dipamerkan hingga ke instansi pusat PT Vale dan mulai dijajaki untuk ekspor ke Jepang. PT Vale juga memberikan training digital marketing, pengurusan izin halal, dan BPOM.

Head of External Relations Sorowako & Outer Area PT Vale Indonesia, Yusri Yunus, menjelaskan bahwa support perusahaan merupakan bagian dari delapan pilar program pemberdayaan masyarakat, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga ekonomi kemandirian.

“Kami rutin berbareng pemerintah kabupaten melakukan evaluasi. Sinergitas ini tidak lepas dari support Pak Bupati sebagai pucuk ketua tertinggi di Luwu Timur,” ujarnya.

Kini, kebakaran lahan bukan lagi momok. Air nan dulunya sulit, sekarang mengalir hingga ke gunung. Rimal menegaskan, “Kami tidak lagi takut musim kemarau. nan ada sekarang semangat panen, semangat hidup.”

Dari lahan kritis dan berbatu, Desa Tabarano membuktikan bahwa keberlanjutan di wilayah tambang bukan sekadar wacana. Ia tumbuh dari kolaborasi, dirawat oleh warga, dan sekarang mulai menuai hasil nan berdikari serta berkelanjutan. (LN/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia