Dari Jepang-Belanda, Akademisi Dunia Bertemu di Simposium Keraton Yogyakarta

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Sri Sultan Hamengku Buwono X membuka simposium internasional Keraton Yogyakarta dengan tema Architecture, Spatial Planning, and Territory of The Sultanate of Yogyakarta di Royyal Ambarrukmo Yogyakarta, Sabtu (11/4). Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti

Keraton Yogyakarta kembali menyelenggarakan simposium internasional nan menjadi ruang pertemuan akademisi dari dalam dan luar negeri. Simposium nan ke-8 ini digelar Sabtu (11/4) dan Minggu (12/4) di Royal Ambarrukmo Yogyakarta.

Simposium ini berjudul ‘International Symposium on Javanese Culture 2026: Architecture, Spatial Planning, and Territory of The Sultanate of Yogyakarta. Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X juga menghadiri dan membuka agenda tersebut.

Selain dihadiri secara luring, para peserta internasional juga mengikuti agenda tersebut melalui Zoom nan berasal dari Kolombia, Sudan, hingga Santiago.

Sejumlah peneliti internasional juga turut terlibat sebagai reviewer dalam simposium ini, seperti Koji Miyazaki dari Tokyo University, Dr Verena Meyer dari Leiden University Belanda, dan Dr. Hélène Njoto Feillard dari École Française d’Extrême-Orient (EFEO), France-Jakarta’s Office.

Penghageng Kawedanan Tandha Yekti dan Wakil Penghageng KHP Dhatu Dana Suyasa, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu dan Penghageng KHP Nitya Budaya, GKR Bendara (tengah). Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti

Penghageng Kawedanan Tandha Yekti dan Wakil Penghageng KHP Dhatu Dana Suyasa, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu, mengatakan seluruh proses seleksi dilakukan dengan standar akademik nan ketat. Simposium ini secara konsisten menghadirkan kombinasi akademisi internasional dan nasional.

Di saat nan sama, pihaknya juga mendorong partisipasi peneliti junior agar dapat berada dalam satu forum dengan para mahir di bidangnya, termasuk melalui kesempatan konsultasi dengan reviewer.

“Kami berupaya keras setiap tahun itu ada mix dari peneliti akademisi dari luar negeri nan memang sudah well established di bidangnya, lampau nan dari Indonesia juga,” kata GKR Hayu dalam konvensi persnya, Sabtu (11/4).

“Nah nan call for paper ini kami berupaya keras agar nan beginner, nan junior itu juga bisa untuk berperan-serta dan berada dalam satu panggung dengan mereka. Nanti ada konsultasinya, mereka mendapatkan kesempatan berkonsultasi langsung dengan expert,” tambahnya.

Ia menambahkan, seleksi dilakukan secara berlapis dengan mempertimbangkan sejumlah aspek, mulai dari orisinalitas buahpikiran hingga relevansi topik. Dari total 132 paper nan masuk, hanya 20 nan lolos tahap awal dan tetap kudu melalui proses lanjutan sebelum dapat dipresentasikan.

“Yang dilihat itu juga selain originalitas dari idenya sendiri, seberapa relevan dia, seberapa menarik, masuk akal. nan hanya 20, dari 132. Memang cukup strict,” tambahnya.

Keraton Yogyakarta menggelar simposium internasional ke-8 dengan tema Architecture, Spatial Planning, and Territory of The Sultanate of Yogyakarta di Royyal Ambarrukmo Yogyakarta pada 11-12 April 2026. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti

Sementara itu Penghageng KHP Nitya Budaya, GKR Bendara, menyampaikan bahwa menjaga konsistensi penyelenggaraan sekaligus menghadirkan tema nan relevan setiap tahun menjadi tantangan tersendiri bagi tim penyelenggara.

Dari tahun ke tahun, para peneliti muda turut berperan-serta dalam agenda simposium ini.

“Tentu dari tahun ke tahun kita selalu memandang partisipasi anak muda ini semakin banyak, tapi memang tergantung dengan tema-temanya. Karena ini temanya arsitektural, tata ruang. Selain menggandeng arsitektural, tata kota kita melibatkan mereka dalam pembukaan, undangan,” kata GKR Bendara.

“Dan mereka akhirnya menyebarkan warta ini juga untuk mereka bisa lihat datang ke pameran dan simposium. Tapi kita memandang bahwa signifikan dari anak-anak muda, nan saya maksud anak muda itu, dari milenial ke bawah ya. Kita tetap muda juga ya,” ujarnya.

Peserta terpilih nan mempresentasikan hasil penelitiannya pada tema History and Politics ialah Risky Ramadhani Satrio Wibisono nan merupakan sarjana arkeologi, Saifuddin Alif Nurdianto nan merupakan pembimbing dari Ponorogo, Jawa Timur, dan MB. Widyasastra Rajasa dari Keraton Yogyakarta.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan