: Petugas menunjukkan vaksin Human Papillomavirus (HPV) dosis kedua di Kantor Balai Pengawasan Obat Makanan (BPOM) Manokwari, Papua Barat, Jumat (17/4/2026).(ANTARA FOTO/Chairil Indra/sgd/foc.)
NILAI tukar Rupiah nan melemah terhadap dolar Amerika Serikat menembus nomor di atas Rp18.000 per 1USD. Itu berakibat pada jasa kesehatan. Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengungkapkan ada lima potensi akibat kesehatan nan perlu diantisipasi akibat lonjakan nilai tukar USD tersebut. Dampak pertama dan nan paling terasa, kata dia, adalah potensi kenaikan harga obat-obatan.
"Sebagian besar bahan baku obat di Indonesia tetap berasal dari impor. Pemerintah saat ini tengah berupaya mengendalikan nilai melalui relaksasi pengadaan agar industri farmasi dapat mencari pasokan dari negara lain dengan nilai lebih terjangkau," ujar Tjandra dalam keterangannya, Selasa (9/6).
Dampak kedua, sambung dia, berangkaian dengan biaya diagnostik. Harga reagen, cartridge, hingga test strip untuk pemeriksaan laboratorium diprediksi bakal meningkat lantaran ketergantungan pada komponen impor. Hal ini disusul oleh akibat ketiga, ialah kenaikan biaya operasional alat-alat kesehatan canggih di rumah sakit nan kebanyakan didatangkan dari luar negeri.
Lebih lanjut, Prof Tjandra menyoroti akibat non-fisik sebagai poin keempat. Tekanan finansial akibat kenaikan USD dapat memicu stres dan gangguan kesehatan mental bagi masyarakat nan terdampak secara ekonomi.
"Dampak kelima adalah jangka panjang. Jika situasi ini tidak segera membaik, daya beli masyarakat terhadap makanan bergizi dan akses pelayanan kesehatan bakal menurun drastis," tambahnya.
Ia berambisi stabilitas ekonomi dapat segera pulih demi menjaga ketahanan kesehatan bangsa. "Situasi ekonomi nan membaik bukan hanya soal angka, tetapi juga tentang kesehatan seluruh rakyat Indonesia," pungkasnya. (H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·