SPBU di AS.(Al Jazeera)
KELUARGA Chris Bambury telah menjual bahan bakar di Sonoma Valley, California, selama lebih dari 100 tahun. Namun, sepanjang sejarah panjang upaya family tersebut, mereka belum pernah menghadapi situasi nilai seburuk saat ini.
Pekan lalu, nilai di dua stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) miliknya mencapai US$6,29 alias sekitar Rp109 ribu per galon untuk jenis reguler. Angka ini sebenarnya tergolong murah untuk wilayah California, mengingat info AAA (American Automobile Association) menunjukkan rata-rata nilai di wilayah tersebut mencapai US$6,36 per galon.
Margin Keuntungan nan Kian Menipis
Krisis ini menunjukkan bahwa pemilik SPBU mini sama menderitanya dengan konsumen. Mayoritas SPBU di Amerika Serikat adalah upaya kecil, bukan perusahaan minyak raksasa. Lonjakan nilai grosir (wholesale) telah memangkas margin untung mereka nan sudah sangat tipis.
Selain nilai beli BBM nan mahal, para pemilik upaya juga dihantam kenaikan biaya lainnya, seperti:
- Biaya transaksi kartu angsuran nan meningkat.
- Biaya pengiriman bahan bakar nan lebih tinggi.
- Upah tenaga kerja nan tetap tinggi sejak lonjakan nilai tahun 2022.
Bambury mengenang bahwa sebelum perang di Iran pecah pada akhir Februari lalu, dia tetap menjual bensin seharga US$4,79 per galon. "Kami tidak mau meningkatkan nilai terlalu sigap lantaran takut mengusir pelanggan. Kami selalu lebih suka nilai rendah lantaran pasar berkembang lebih baik dan pengguna lebih bahagia," ujarnya.
Ancaman Penutupan Bisnis
Kondisi serupa dialami Harry Singh di Nutley, New Jersey. Singh, nan mempunyai SPBU sejak 2009, sekarang mempertimbangkan untuk menghentikan penjualan bahan bakar dan hanya konsentrasi pada bengkel perbaikan mobil jika nilai terus melambung dalam dua hingga tiga bulan ke depan.
"Pelanggan nan biasanya mengisi tangki hingga penuh, sekarang hanya membeli US$20 alias US$30 (sekitar Rp500 ribuan)," kata Singh. Ia juga kudu bersaing dengan ritel besar seperti Costco nan bisa menjual dengan nilai jauh lebih murah.
Analisis Data: Menurut National Association for Convenience Stores, rata-rata selisih antara nilai grosir dan satuan sekitar 22 sen per galon. Namun, selisih ini kudu menutupi seluruh biaya operasional, sehingga pemilik SPBU sering kali hanya mencapai titik lunas (break-even) alias apalagi merugi.
Dilema Penurunan Harga
Jeff Lenard, ahli bicara asosiasi tersebut, menjelaskan bahwa meskipun nilai grosir nanti mulai turun, nilai satuan di tingkat konsumen bakal memerlukan waktu lebih lama untuk mengikuti. Hal ini karena pemilik SPBU perlu memulihkan kerugian nan mereka alami selama masa kenaikan harga.
Di Minneapolis, Lonnie McQuirter, nan berbisnis selama 21 tahun, merasakan tekanan arus kas nan berat. "Dalam sepekan terakhir, biaya grosir kami naik lebih dari 20 sen per galon. Ini sangat susah bagi arus kas kami," ungkapnya.
McQuirter mencoba menyeimbangkan antara biaya operasionalnya dengan keahlian bayar pelanggan. "Anda memahami bahwa masyarakat sedang berada di periode kesulitan, berjuang untuk mempertahankan style hidup dan bisa memperkuat hidup di tengah krisis ini," pungkasnya. (CNN/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·