
Peningkatan kasus ISPA di rumah sakit terdampak karhutla. (Foto: Freepik)
JAKARTA – Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) mengakui adanya lonjakan pasien rawat jalan gangguan jangkitan saluran pernapasan (ISPA) di akomodasi jasa kesehatan terdampak kebakaran rimba dan lahan (karhutla).
Ketua Umum ARSSI, Iing Ichsan Hanafi menyampaikan, rumah sakit di bawah ARSSI selalu berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan organisasi pekerjaan di wilayah terdampak karhutla. Ia pun berkata, faskes telah melakukan tindakan preventif bagi para nakes di wilayah terdampak karhutla.
"Ada beberapa rumah sakit juga memberikan multivitamin ke para tenaga kesehatan, sehingga mereka juga bisa melindunginya, sehingga mereka juga bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat," tutur Iing saat ditemui di PB IDI, Jakarta Pusat, Sabtu (24/10/2026).

1. Peningkatan Pasien
Iing pun mengakui, ada peningkatan kunjungan pasien rawat jalan pengidap ISPA di wilayah terdampak karhutla. Namun, dia memastikan bahwa akomodasi pelayanan kesehatan tetap melangkah normal.
"Untuk tingkat kunjungan memang kita akui, kunjungan rawat jalan cukup banyak mengenai dengan kasus-kasus ISPA. Selama ini sih bisa diatasi seperti biasa. Jadi tidak terlalu signifikan untuk lonjakan-lonjakan," terang Iing.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Slamet Budiarto, memastikan jasa kesehatan di wilayah terdampak karhutla tidaklah terdampak. Hal itu dilandasi lantaran para nakes telah melakukan upaya preventif dari paparan asap karhutla.
"Karena kami kan bekerja, tenaga medis menggunakan masker N95. Kita melakukan tugas setiap hari melayani masyarakat dan di IDI cabang, IDI wilayah, kami IDI aktif membagi masker untuk masyarakat," ucap Slamet.
"Obatnya hanya satu: masker, gitu aja. Jadi jika masyarakat ada gangguan pernapasan, ya kudu secepatnya ke dokter," tambahnya.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·