Dampak Kadar Testosteron Rendah pada Pria: Ganggu Performa Kerja hingga Risiko Stroke

Sedang Trending 9 jam yang lalu
 Ganggu Performa Kerja hingga Risiko Stroke Ilustrasi, laki-laki mengalami kadar testosteron rendah.(Dok. Magnific)

KADAR hormon testosteron nan rendah dalam tubuh laki-laki rupanya tidak hanya berakibat pada masalah reproduksi pria, tetapi juga dapat memengaruhi performa kerja di instansi hingga keselarasan hubungan dengan pasangan.

Dokter ahli andrologi dari Eka Hospital BSD Tangerang, dr. Christian Christoper Sunnu, menjelaskan bahwa penurunan kadar hormon ini memicu beragam indikasi bentuk dan psikologis. Beberapa karakter laki-laki dengan testosteron rendah meliputi suasana hati nan berubah-ubah, depresi, penurunan antusiasme seksual, hingga disfungsi ereksi.

Selain itu, kondisi kadar testosteron rendah juga ditandai dengan kehilangan massa otot, peningkatan massa lemak, kesulitan berkonsentrasi dan mengingat, kelelahan kronis, penipisan rambut, penurunan kepadatan tulang, hingga gangguan tidur.

"Kadar testosteron nan rendah terasosiasi dengan masalah kesehatan sindrom metabolik seperti kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, obesitas, dan gula darah tinggi. Hal ini meningkatkan akibat terjadinya serangan jantung dan stroke," ujar dr. Sunnu di Tangerang, Rabu (29/7).

Fungsi Vital Testosteron

Hormon testosteron memegang peranan krusial dalam sistem reproduksi pria, terutama dalam pembentukan sel sperma nan menjadi tolok ukur utama kesuburan. Selain itu, hormon ini bertanggung jawab atas proses tumbuh kembang laki-laki, termasuk memberikan karakter maskulin seperti pertumbuhan rambut di wajah dan pembentukan otot.

Opsi Terapi dan Pengobatan

Bagi laki-laki nan mengalami masalah testosteron rendah, dr. Sunnu memaparkan beberapa opsi terapi penggantian testosteron (testosterone replacement therapy) menggunakan hormon buatan, di antaranya:

  • Suntikan: Hormon disuntikkan ke jaringan otot setiap 1-14 hari.
  • Gel alias Krim: Dioleskan setiap hari pada kulit lengan atas, bahu, alias paha untuk penyerapan perlahan selama 24 jam.
  • Obat Oral/Transmukosa: Diminum alias ditempelkan pada gusi alias pipi bagian dalam agar menyerap ke aliran darah.
  • Implan: Obat ditanam di bawah kulit area pinggul alias bokong, nan biasanya diganti setiap 3-6 bulan.

Meski tersedia beragam opsi medis, dr. Sunnu menekankan pentingnya style hidup sehat sebagai aspek pendukung. "Olahraga secara rutin dapat membantu meningkatkan kadar testosteron secara alami. Selain itu, pastikan untuk mendapatkan tidur nan cukup, minimal 6 hingga 8 jam setiap harinya," pungkasnya. (Ant/H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia