Dampak Cuaca Panas dan Karhutla pada Kesehatan Mental dan Cara Mengatasinya

Sedang Trending 3 jam yang lalu
Dampak Cuaca Panas dan Karhutla pada Kesehatan Mental dan Cara Mengatasinya ilustrasi(Antara)

Cuaca panas berkepanjangan serta akibat kebakaran rimba dan lahan (karhutla) nan melanda sejumlah wilayah di Indonesia tidak hanya menakut-nakuti kesehatan fisik, tetapi juga berisiko mengganggu kesehatan jiwa masyarakat. Psikiater sekaligus personil Bidang Pengabdian Masyarakat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP-PDSKJI), dr. Lahargo Kembaren, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan hubungan sosial di tengah situasi musibah lingkungan ini.

Lahargo menjelaskan bahwa prinsip utama menghadapi dampak karhutla dan cuaca panas adalah meminimalkan paparan polusi dan suhu ekstrem. Ia menyarankan masyarakat untuk terus memantau info kualitas udara dan mengikuti pengarahan pemerintah.

"Kurangi aktivitas luar ruangan ketika asap pekat alias suhu sangat panas, serta usahakan berada di ruangan dengan udara lebih bersih dan sejuk. WHO juga menganjurkan hidrasi nan cukup dan menghindari aktivitas berat pada waktu terpanas," ujar Lahargo saat dihubungi, Jumat (4/9).

Kaitan Kondisi Fisik dan Regulasi Emosi

Kesehatan mental, menurut Lahargo, sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik. Tubuh nan mengalami kelelahan terus-menerus akibat cuaca ekstrem bakal membikin emosi seseorang menjadi lebih susah diregulasi. Oleh lantaran itu, pemenuhan kebutuhan dasar menjadi kunci utama.

"Jaga kebutuhan dasar tubuh dengan cukup minum, makan teratur, tidur semaksimal mungkin, dan jangan memaksakan aktivitas fisik," tambahnya.

Selain menjaga fisik, masyarakat diminta untuk konsentrasi pada hal-hal nan tetap berada dalam kendali pribadi. Meskipun kejadian alam seperti El Niño alias intensitas hujan berada di luar kuasa manusia, masyarakat tetap bisa mengendalikan penggunaan air, perlindungan terhadap asap, agenda aktivitas, pola tidur, hingga langkah mengelola stres.

Pentingnya Dukungan Sosial dan Batasi Informasi

Dalam menghadapi situasi musibah nan berkepanjangan, support sosial menjadi pilar krusial ketahanan psikologis. Lahargo mengingatkan agar masyarakat tidak menghadapi situasi ini sendirian dan tetap terhubung dengan orang lain.

"Saling mengecek kondisi keluarga, tetangga, lansia, dan golongan rentan sangat penting. Jangan lupa untuk membatasi paparan info nan membikin semakin cemas. Tetap ikuti perkembangan dari sumber resmi seperti BMKG alias pemerintah, namun tidak perlu memantau buletin jelek sepanjang hari," jelasnya.

Untuk merawat kesehatan mental secara mandiri, masyarakat dapat mempraktikkan teknik izin stres sederhana, seperti:

  • Mengatur napas secara perlahan.
  • Melakukan relaksasi dan grounding.
  • Melakukan aktivitas spiritual.
  • Berbicara dengan orang nan dipercaya.
  • Tetap melakukan aktivitas menyenangkan nan tetap memungkinkan dilakukan.

Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?

Masyarakat juga perlu mengenali tanda-tanda peringatan kapan support ahli diperlukan. Jika kecemasan, kesedihan, kemarahan, alias gangguan tidur sudah terasa berat dan mengganggu kegunaan pekerjaan serta hubungan sosial, segera cari support tenaga kesehatan.

Tanda ancaman lainnya meliputi munculnya serangan panik, peningkatan penggunaan alkohol alias unsur terlarang, hingga munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri alias mengakhiri hidup.

Terakhir, Lahargo menekankan bahwa mitigasi musibah tidak boleh hanya berfokus pada pemadaman api alias penanganan kekeringan secara fisik. Pemerintah juga kudu menjamin kesiapan air bersih, udara aman, pelayanan kesehatan, dan support ekonomi sebagai bagian dari perlindungan kesehatan jiwa masyarakat.

“Kita mungkin tidak bisa mengendalikan cuaca, tetapi kita tetap bisa mengendalikan gimana menjaga tubuh, pikiran, dan satu sama lain," pungkasnya. (E-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia