Daftar Fenomena Langit Mei 2026 yang Bisa Dilihat di Indonesia

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

JAKARTA – Memasuki bulan Mei 2026, para pecinta astronomi dan pengamat langit di Indonesia bakal dapat menyaksikan beragam pagelaran alam nan menakjubkan. Bertepatan dengan mulainya transisi menuju musim tandus di sebagian besar wilayah tanah air, kondisi langit nan condong lebih cerah, menjadikannya layar besar untuk menyaksikan benda-benda langit.

Berdasarkan info astronomis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan sumber-sumber lainnya, berikut adalah daftar kejadian langit nan tidak boleh Anda lewatkan sepanjang Mei 2026:

1. Puncak Hujan Meteor Eta Aquariid (5-6 Mei)

Salah satu pagelaran utama bulan ini adalah hujan meteor Eta Aquariid. Fenomena ini berasal dari puing-puing Komet Halley nan legendaris. Puncaknya diperkirakan terjadi pada awal hari tanggal 5 dan 6 Mei 2026.

Di Indonesia, waktu pengamatan terbaik adalah mulai pukul 02.00 WIB hingga menjelang subuh. Meteor-meteor ini bakal tampak seolah-olah memancar dari rasi bintang Aquarius. Beruntungnya, pada tanggal tersebut bulan sudah terbenam lebih awal, sehingga langit nan gelap bakal memudahkan kita memandang guratan meteor dengan mata telanjang.

2. Okultasi Antares oleh Bulan (22 Mei)

Fenomena langka nan patut dinantikan adalah okultasi bintang Antares. Okultasi terjadi ketika Bulan bergerak tepat di depan bintang Antares, sehingga bintang paling terang di rasi Scorpio tersebut bakal tampak menghilang sejenak di kembali piringan Bulan.

Fenomena ini dapat diamati di sebagian besar wilayah Indonesia pada malam hari tanggal 22 Mei 2026.

Durasi hilangnya Antares berjuntai pada letak pengamat, namun umumnya berjalan selama sekitar satu jam sebelum Antares muncul kembali dari sisi lain Bulan.

3. Fenomena "Blue Moon" (31 Mei)

Mei 2026 menjadi bulan nan spesial lantaran mempunyai dua kali fase Bulan Purnama. Bulan Purnama pertama telah terjadi pada tanggal 1 Mei, dan Bulan Purnama kedua bakal menyusul pada 31 Mei 2026.

Dalam istilah astronomi populer, purnama kedua dalam satu bulan almanak nan sama disebut sebagai "Blue Moon". Meski namanya "Blue Moon", Bulan tidak bakal betul-betul berwarna biru; dia tetap bakal tampak bercahaya dengan warna perak keemasan seperti biasanya, namun kejadian ini cukup jarang terjadi (rata-rata setiap 2,5 tahun sekali).

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com