Niko Prayoga
, Jurnalis-Jum'at, 07 Agustus 2026 |06:30 WIB

Clarissa Tanoesoedibjo Ungkap Konsep Unik My Chef in Crime nan Beda dari Series Crime Lain. (Foto: Okezone)
JAKARTA – Clarissa Tanoesoedibjo, CEO V+Short sekaligus Executive Producer series My Chef in Crime mengungkapkan pembeda utama series tersebut dengan drama pidana lain nan marak di pasar nasional.
Meski sama-sama mengusung aliran investigasi, crime, dan thriller, namun My Chef in Crime mempunyai pembeda lantaran konsep kuliner autentik Nusantara nan diusungnya di dalamnya.
“Yang bikin My Chef in Crime menjadi unik adalah lantaran kasus dalam series ini diselesaikan lewat kuliner Indonesia,” tutur Clarissa saat ditemui di Lippo Mall Nusantara, Semanggi, Jakarta Selatan, pada 5 Agustus silam.
Ia menjelaskan bahwa setiap bagian dalam serial ini bakal menyoroti hidangan tradisional nan berbeda-beda. Awal cerita series ini misalnya, menghadirkan menu unik ikan patin.
Clarissa Tanoesoedibjo Ungkap Konsep Unik My Chef in Crime nan Beda dari Series Crime Lain. (Foto: Okezone)
“Nanti setiap bagian bakal ada hidangan tradisional nan berbeda. Ini menjadi kesempatan untuk kita memperkenalkan makanan Indonesia ke kancah global. Bahwa kuliner Nusantara rupanya tak hanya rendang,” ujarnya.
Clarissa Tanoesoedibjo berharap, series My Chef in Crime tak sekadar menjadi tontonan segar, namun juga bisa menjangkau demografi penonton nan lebih luas, baik laki-laki maupun wanita, serta menjadi standar alias referensi nan dapat diadaptasi negara lain.
Disutradarai Sondang Pratama, series My Chef in Crime hadir dalam delapan bagian dengan lama rata-rata 35 menit. Serial ini menyajikan perpaduan unik antara misteri pembunuhan, investigasi, drama keluarga, hingga dinamika romansa slow-burn.
Kisah series ini berpusat pada Rama (Roy Sungkono), seorang chef berbakat nan dituduh sebagai tersangka utama pembunuhan rivalnya. Demi membersihkan nama baiknya, Rama mengandalkan skill kulinernya untuk menguak kasus tersebut.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·