Jakarta - Adelia Rifani (26) menjadi salah satu korban meninggal kecelakaan kereta api Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Pesan singkat Adelia ke sang ayah menjadi berita terakhir nan diterima keluarga.
Pesan itu berisi permintaan Adelia untuk dijemput di Stasiun Cibitung, tempat biasanya Adelia turun. Sang ayah, Haerusli, telah tiba di letak namun 30 menit menunggu, Adelia tidak kunjung datang.
"Dia bilang 'Yah, jemput. Adel udah di Kranji'. Nah, biasa kan saya ke Cibitung, Kranji ke Cibitung tuh nyaris berbarengan motor sama kereta. Paling lama beda 5 menit," kata Haerusli saat ditemui di kediamannya, Rabu (29/4/2026).
Seingat Rusli, chat terakhir Adel menunjukan pukul 20.27 WIB. Ternyata itu jadi chat terakhir Adel kepadanya. Rusli nan mulai panik bergegas mencari info ke petugas di peron stasiun. Tapi dia hanya mendapat jawaban 'gangguan' bukan kecelakaan.
Di Stasiun Cibitung, Rusli berbareng penduduk lain nan juga hendak menjemput ikut kebingungan. Mereka menanti berita pasti soal apa nan terjadi.
"Ada salah satu anaknya nan nelepon bapaknya nan ada di situ. Dia bilang keretanya kecelakaan. Kebetulan itu anak mungkin bukan di gerbong nan parah lah gitu," katanya.
Rusli segera menelpon Adelia untuk menanyakan berita terkini. Namun, panggilan itu tidak terjawab.
"Saya juga ngebel kan anak saya itu, beberapa kali tapi anak saya waktu dibel nggak diangkat-angkat itu. Saya juga wah, cemas kan. Berulang kali telepon saya nan masuk ke dia, berdering," ucapnya.
Rusli dan penduduk lain akhirnya memutuskan mendatangi Stasiun Bekasi Timur. Jalanan macet, sampai akhirnya dia mencapai peron dan memandang kegentingan di depan matanya.
"Kan ada berapa itu nan dievakuasi itu. Saya kan liat, bisa kenal, namanya jika bentuk anak mah udah biasa kenal lah. Tapi nggak ketemu waktu itu," ungkapnya.
Hingga tengah malam Rusli tak membuka ponselnya lantaran konsentrasi mencari Adel. Sampai akhirnya Rusli menerima telpon dari istri dan membagi tugas untuk mengecek ke setiap rumah sakit rujukan korban kecelakaan.
"Iya udah gitu kan punya anaknya nan nomor dua udah nikah ya, ada suaminya itu dia kan orang rumah sakit juga, suruh dia ngecek-ngecek tuh rumah sakit sekitaran Bekasi, pasien-pasien nan ada korban kereta lah gitu kan. Tapi nama Adel nggak ada," katanya.
Singkat cerita, menantu Rusli mengecek ke RS Mitra Keluarga dengan ciri-ciri bentuk dan busana baju pink dan celana hitam. Didapati ciri-ciri nan sama, mereka menuju RS Mitra.
Setiba di RS, Rusli sekeluarga diarahkan bukan ke IGD alias ruang perawatan. Mereka justru diarahkan ke ruang jenazah.
"Saya kaget kan, masuk ke ruangan, kan sunyi jika di rumah sakit ya, sepi. Ya udah lah saya masuk pas buka pintu itu udah di keranda itu. Hampir pingsan waktu pertama ketemu, emosi saya gimana," ungkap dia.
Seingat Rusli, waktu menunjukan pukul 2.00 WIB. Mereka mendapati Adel telah menghembuskan nafas terakhirnya.
Kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL nan sedang berakhir di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam. Peristiwa itu berasal dari taksi tertemper KRL di perlintasan nan tak jauh dari Stasiun Bekasi Timur.
Peristiwa taksi tertemper KRL itu mengakibatkan KRL di Stasiun Bekasi Timur menunggu lebih lama. KA Argo Bromo Anggrek kemudian datang dan menabrak dari belakang. Korban tewas kecelakaan kereta api tersebut mencapai 16 orang dan puluhan orang terluka.
(tsy/ygs)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·