Musim tandus mulai mengubah langkah penduduk Cilandak mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Ada nan kudu menunggu beberapa menit hingga air sumur mengalir, memperpanjang waktu pengisian toren, sampai mendapati air sumurnya berubah keruh kemerahan.
Salah satunya dirasakan Dewi (39), penduduk Jalan Tridharma Utama V, RT6/RW12, Cilandak Barat. Ia mengatakan air dari sumur rumahnya sekarang tidak langsung mengalir ketika mesin dinyalakan.
“Biasanya dinyalakan, kerannya dibuka, langsung keluar air. Kalau ini, kerannya sudah dibuka dan mesin sudah menyala, hanya bunyi. Airnya menunggu beberapa menit baru keluar,” kata Dewi saat ditemui kumparan, Senin (14/9).
Menurut Dewi, kondisi tersebut sudah berjalan sekitar sebulan, sejak cuaca panas dan tandus pada Agustus. Ia mengaku, pernah menunggu hingga 10 menit sampai air keluar.
Karena cemas mesin menjadi panas, Dewi memilih mencabut colokan mesin dan menyalakannya kembali setelah beberapa menit.
“Kalau sudah keluar, saya penuhi semua bak-bak, termasuk untuk minum dan masak. Takutnya jika dinyalakan lagi airnya tidak keluar sama sekali. Bingung mencari air di mana,” beber Dewi.
Air sumur tersebut digunakan Dewi untuk nyaris seluruh kebutuhan rumah tangga, mulai dari minum, masak, mandi, hingga mencuci piring. Namun, menurut Dewi, sekarang debit airnya semakin kecil.
“Apalagi jika dinyalakan dua keran, pasti nan satunya kosong alias mati. Misalnya mesin cuci dan keran lain sama-sama menyala, airnya tidak keluar,” tutur Dewi.
Dewi juga mengaku pernah mendapati air sumurnya bercampur tanah hingga berwarna keruh. Meski kondisi itu hanya berjalan beberapa hari dan kembali normal, dia menyebut volume air sumur memang lebih mini saat musim kemarau.
“Pernah keluar tanah. Jadi airnya butek. Itu beberapa hari saja, tidak sampai seminggu alias dua minggu. Setelah itu normal lagi. Memang volume airnya sudah lebih mini (saat ini),” jelasnya.
Kondisi serupa dirasakan Nurhayati Senan (52), penduduk Jalan Wijayakusuma Raya Nomor 57A, RT 09/RW 04, Pondok Labu. Saat kumparan berkunjung, Nurhayati menunjukkan debit air nan mengecil dari shower bilik mandinya.
Ia mengatakan rumahnya belum mengalami kekeringan total, tetapi debit air sumur berkurang dibandingkan biasanya.
“Yang biasanya besar, sekarang keluarnya sedikit,” ucapnya.
Kata Nurhayati, pengurangan debit air itu membikin waktu pengisian toren menjadi lebih lama. Jika biasanya toren penuh sekitar pukul 06.00 WIB, sekarang pengisian bisa baru selesai sekitar pukul 07.00 WIB.
“Yang biasanya kita pakai toren, pagi biasanya kita ngisi sekitar jam 05.30, biasanya jam 06.00 sudah penuh. Sekarang lebih separuh jam, lebih satu jam. Jadi biasanya jam 07.00 baru penuh,” terang Nurhayati.
Menurut dia, kondisi tersebut mulai berakibat pada aktivitas keluarga. Nurhayati kudu menunggu air lebih lama sebelum memulai aktivitas pada pagi hari, termasuk menyiapkan anak-anak nan sekolah dan personil family nan bekerja.
“Ya itu, jadi nunggu airnya. Kita kan biasanya jam 05.30 sudah aktivitas, sudah siap, lantaran ada nan sekolah, ada nan kerja. Jadi sekarang lebih pagi lagi kita bangunin anak-anak,” ujarnya.
Ia menyebut, kondisi tahun ini lebih parah dibandingkan tahun sebelumnya. Jika biasanya toren diisi dua kali sehari, ialah pagi dan sore, sekarang pengisian bisa dilakukan tiga kali sehari lantaran air lebih sigap habis.
Namun, kondisi itu belum membikin Nurhayati untuk memperdalam sumurnya. Selama ini, dia mengandalkan jet pump dari sumur bor pribadi dengan kedalaman lebih dari 13 meter. Kata dia, pengeboran terakhir dilakukan sudah lama dengan biaya sekitar Rp 3 juta hingga Rp 4 juta.
Di sisi lain, Sutanti (57), penduduk Tridharma Utama Raya, RT 05/RW12, Cilandak Barat, menghadapi persoalan berbeda. Air sumur di rumahnya tetap tersedia, tetapi sejak sekitar dua minggu terakhir berubah menjadi keruh kemerahan, tampak seperti tercampur tanah.
“Kurang lebih sudah dua minggu ini airnya agak merah. Jadi kayak ada tanahnya,” ungkap Sutanti.
Ia kemudian sesekali menambahkan sitrun ke air nan ditampung di ember agar tampak lebih bening. Namun, kondisi tersebut hanya memperkuat sekitar dua hari sebelum air kembali berubah kuning kemerahan, sehingga tampungan air kudu lebih sering dibersihkan.
Sutanti menduga kondisi tersebut berangkaian dengan tandus panjang nan membikin debit air sumur berkurang, sehingga pompa kemungkinan menyedot tanah.
“Kemarau panjang mungkin. Mungkin bisa jadi sumurnya agak kurang airnya, jadi dia menyedot tanah mungkin,” sebutnya.
Karena air sumur tidak lagi layak digunakan untuk memasak dan minum, Sutanti mulai membeli air isi ulang. Dalam sepekan, dia menghabiskan sekitar enam galon dengan nilai Rp 7.000 per galon. Artinya, pengeluaran untuk air minum dan memasak mencapai sekitar Rp 42 ribu per minggu.
Kendati demikian, dia mengaku tetap menggunakan air sumur untuk mencuci lantaran membeli air dalam jumlah banyak dinilai terlalu mahal. Sementara untuk mandi, air terlebih dulu ditampung dan diberi sitrun agar warna merahnya tidak terlalu terlihat.
“Untuk mandi, biar enggak kelihatan. Geli jika mandi air merah begitu,” bebernya.
Sutanti mengatakan, kondisi air keruh juga dialami oleh tetangganya. Padahal, sebelumnya air sumur di rumahnya bening dan penduduk sekitar apalagi kerap meminta air kepadanya untuk memasak.
“Orang belakang sering minta untuk masak. Sekarang enggak minta lantaran keruh,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Sutanti berambisi ada support untuk membeli air bersih, meski tidak kudu dalam corak pengedaran air lantaran keterbatasan tempat penyimpanan.
“Ya, biar untuk beli air saja. Ada support untuk beli air bersih, bisa untuk minum sehari-hari alias masak,” ujarnya.
“Bantuan enggak kudu berbentuk air, bisa berbentuk duit agar kita bisa beli. Kalau support air, mau ditaruh di mana juga enggak bisa,” lanjut Sutanti.
Muhammad Nur (52), penduduk RT 09/RW 04, Kelurahan Pondok Labu, juga mulai mengantisipasi kemungkinan air sumur semakin susah didapat. Meski rumahnya belum mengalami kekeringan, dia memilih mengisi penuh bak mandi dan beberapa wadah penampungan air setiap kali mesin jet pump dinyalakan.
“Kalau bagi saya pribadi, misalnya pagi, kita narik. Kita narik isi penuh dulu di bak mandi, di bak air, apa segala macam. Kita beli beberapa bak agar diisi,” kata Nur.
Cara tersebut dilakukan agar mesin tidak perlu terlalu sering dinyalakan. Air nan telah ditampung kemudian digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sementara mesin kembali dihidupkan ketika persediaan air mulai habis.
“Paling banyak sehari dua kali, tapi paling minimal sehari sekali, lantaran kita ada penampungan air di bak mandi,” ujarnya.
Nur mengaku, kondisi serupa pernah terjadi pada tahun sebelumnya. Saat itu, mesin jet pump di rumahnya kudu diturunkan lantaran air semakin susah disedot. Saat ini, kedalaman jet pump di rumahnya sekitar 10 meter. Jika kondisi memburuk, mesin bisa diturunkan hingga 15–20 meter.
“Sempat, sempat terjadi begini juga, sampai-sampai mesin jet pump-nya itu kita turunkan ke bawah lagi lantaran memang air sudah betul-betul kering,” katanya.
Ia menyebut penurunan mesin jet pump memerlukan biaya lebih dari Rp 500 ribu hingga kurang dari Rp 1 juta, tergantung kedalaman dan pekerjaan nan dilakukan. Jika mesin kudu diturunkan lebih dalam, biayanya dapat semakin besar.
Nur turut mengimbau penduduk sekitar untuk menghemat penggunaan air dan menyiapkan tempat penampungan sebagai cadangan. Ia juga berambisi penduduk saling membantu andaikan ada tetangga nan kesulitan mendapatkan air.
“Cuma itu, saya berambisi misalnya kita sebagai penduduk ataupun tetangga juga saling mengimbau. Jika airnya sudah agak kering, agar lebih irit,” terangnya.
Selain itu, dia meminta pemerintah turun langsung meninjau kondisi sumber air di dalam permukiman warga, bukan hanya memandang wilayah di sekitar jalan utama alias area pembangunan.
“Jadi tolong ditinjau ke lokasi, ke warga-warga. Jangan hanya di depannya saja, di istilahnya lift depannya doang. Tapi jika untuk di dalam, penduduk itu kadang-kadang rumah juga berdempetan, segala macam, saluran air juga menghambat, segala macam itu. Nah, itu tolong perhatian dari pemerintah,” kata Nur.
5 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·