Jakarta, CNBC Indonesia — Indonesia pernah menjadi kiblat pendidikan di Asia Tenggara, apalagi sampai diminta negara tetangga untuk membantu mencerdaskan warganya.
Kisah tersebut terjadi pada akhir 1960-an, saat Malaysia meminta Indonesia mengirim pembimbing untuk mengajar di Negeri Jiran. Kala itu, kualitas pendidikan Indonesia dinilai jauh lebih maju dibanding Malaysia nan tetap baru membangun sistem pendidikan nasional setelah merdeka pada 1957.
Di Indonesia, perguruan tinggi dan sekolah pencetak pembimbing sudah berkembang cukup pesat. Banyak kampus menghasilkan lulusan sarjana hingga ahli di beragam bidang. Kondisi ini membikin Indonesia mempunyai tenaga pengajar nan relatif melimpah dan berkualitas.
Sebaliknya, Malaysia menghadapi tantangan besar di sektor pendidikan. Pemerintah saat itu tengah melakukan reformasi pendidikan untuk memperluas akses sekolah bagi etnis Melayu nan selama masa kolonial Inggris mengalami keterbatasan pendidikan.
Pada era kolonialisme Inggris, pendidikan modern lebih banyak diperuntukkan bagi orang Eropa dan golongan tertentu. Akibatnya, masyarakat Melayu tertinggal dari sisi pendidikan dan kualitas sumber daya manusia.
Situasi tersebut membikin pemerintah Malaysia memerlukan banyak tenaga pengajar dalam waktu singkat. Pilihan kemudian jatuh kepada Indonesia.
Harian Kompas (31 Mei 1967) melaporkan, permintaan itu disampaikan langsung Menteri Pendidikan Malaysia, Mohamed Khir Johari, saat berjamu ke Jakarta.
Pemerintah Indonesia menyambut baik permintaan tersebut. Selain dianggap sebagai pengakuan atas kualitas pendidikan nasional, kerja sama itu juga menjadi bagian dari upaya memperbaiki hubungan diplomatik kedua negara setelah sempat memanas akibat Konfrontasi Indonesia-Malaysia pada masa Presiden Soekarno.
Setelah kesepakatan dicapai, Indonesia mulai mengirim pembimbing ke Malaysia pada 1969. Jumlahnya berbeda tiap tahun, berkisar antara 40 hingga 100 orang.
Harian Angkatan Bersenjata (8 Agustus 1974) mencatat, kebanyakan pembimbing Indonesia nan dikirim mengajar mata pelajaran pengetahuan pasti seperti matematika, fisika, kimia, dan biologi. Mereka ditempatkan di sekolah menengah hingga perguruan tinggi.
Para pembimbing Indonesia tak hanya bekerja mengajar pelajaran akademik. Mereka juga membantu meningkatkan keahlian bahasa Melayu masyarakat Malaysia. Kedekatan bahasa Indonesia dan Melayu dianggap memudahkan proses pembelajaran di tengah kekuasaan penggunaan bahasa Inggris saat itu.
Peran tenaga pengajar Indonesia apalagi meluas hingga membantu penyusunan kurikulum pendidikan Malaysia. Hal ini terjadi lantaran keterbatasan tenaga mahir pendidikan nan dimiliki Negeri Jiran kala itu.
Sebab, dalam autobiografi tokoh pendidikan Indonesia, Imaduddin Abdulrahim (2002), disebutkan, pada periode tersebut Malaysia hanya punya tiga orang lulusan S2.
Selain mendatangkan pembimbing Indonesia, Malaysia juga mengirim banyak mahasiswa terbaiknya untuk belajar di kampus-kampus Indonesia. Mereka diharapkan kembali ke tanah air dengan membawa pengetahuan dan pengalaman untuk membangun sistem pendidikan nasional Malaysia.
Program pengiriman pembimbing Indonesia ke Malaysia berjalan hingga memasuki dasawarsa 1980-an. Setelah itu, Malaysia mulai dianggap bisa menjalankan sistem pendidikan secara berdikari dengan tenaga pengajar dan kurikulum nan semakin berkembang.
Di tengah beragam tantangan pendidikan Indonesia saat ini, kisah tersebut menjadi pengingat kualitas pendidikan nasional pernah begitu diperhitungkan di area Asia Tenggara.
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik nan menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa sekarang lewat relevansinya di masa lalu. Khusus mengenai bencana, naskah ini diharapkan bisa membangun kesadaran dan kewaspadaan terhadap mitigasi bencana.(mfa/mfa)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·