Liputan6.com, Jakarta - Waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB. Aktivitas di kandang ayam petelur Desa Cikahuripan, Klapanunggal, Bogor, Jawa Barat, sudah sibuk. Di dalam gedung beratap seng, bunyi ayam saling bersahutan. Telur-telur bergulir perlahan di sela kandang bambu.
Kandang-kandang tersusun memanjang. Ribuan ayam berada di dalamnya. Berjajar rapi di setiap sekat. Aroma pakan bercampur dengan bunyi kipas angin dan gesekan bambu nan menjadi lantai kandang.
Beberapa pekerja memeriksa pakan dan tempat minum satu per satu. Di ujung kandang, seorang pekerja dengan sepatu bot hijau tampak telaten memungut telur nan baru keluar. Telur itu lampau dimasukkan ke ember hijau. Tangannya bergerak lincah.
Peternakan ayam petelur ini merupakan bagian dari unit upaya Desa Cikahuripan. Dari papan nan terpampang di depan kandang, upaya tersebut dikelola untuk mendukung program ketahanan pangan masyarakat.
Direktur BUMDes Cikahuripan, Minta mengatakan, peternakan ayam petelur mulai dijalankan sejak program ketahanan pangan 2025 digulirkan pemerintah dan dikelola melalui BUMDes.
“Untuk Desa Cikahuripan, kita memilih peternakan ayam petelur. Total ada 1.500 ekor ayam nan mulai masuk sejak September tahun lalu,” kata Minta saat berbincang dengan Liputan6.com, Sabtu (15/5/2026).
Peternakan tersebut sudah melangkah sekitar delapan hingga sembilan bulan. Perkembangan upaya ternak itu cukup baik dan hasilnya mulai dirasakan masyarakat.
Dia mengatakan, peternakan ayam petelur dengan jumlah lebih dari seribu ekor tetap tergolong baru di wilayah Klapanunggal. Karena itu, upaya tersebut diharapkan bisa menjadi salah satu penopang ekonomi desa ke depan.
Program peternakan ayam itu juga menjadi bagian dari pengembangan desa setelah Cikahuripan mengikuti program Desa BRILian pada 2025 batch ketiga. Menurut Minta, argumen desa mengikuti program tersebut untuk meningkatkan kapabilitas pengurus desa dan BUMDes, terutama dalam pengelolaan upaya dan pelaporan administrasi.
“Di situ kita belajar soal pembukuan dan pelaporan BUMDes nan sesuai dengan patokan Kemendes,” jelasnya.
Pelatihan dilakukan secara hybrid melalui kerja sama dengan universitas. Selama beberapa minggu, peserta mengikuti training daring, kemudian dilanjutkan pembinaan langsung di desa.
“Kemarin kerja sama dengan Universitas Airlangga. Setelah masuk 15 besar, ada training offline juga. Tutornya langsung turun ke desa untuk membina UMKM dan BUMDes,” ujar Minta.
Selain peternakan ayam petelur, Desa Cikahuripan juga mempunyai upaya kerajinan nan tetap memperkuat hingga sekarang. Salah satunya kerajinan sangkar burung nan dibuat dari limbah kayu bekas.
Usaha tersebut mulai berkembang sejak awal 2000-an dan menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat. Meski bukan sangkar premium, produk buatan penduduk tetap mempunyai pasar sendiri.
Di sisi lain, kerajinan anyaman bakul alias boboko juga tetap dipertahankan warga. Kerajinan tradisional itu sudah ada sejak lama dan dulu nyaris dikerjakan di setiap rumah.
“Kalau dulu nyaris setiap rumah bikin bakul. Sekarang memang sudah berkurang,” katanya.
Sebagian besar pengrajin anyaman saat ini merupakan penduduk berumur di atas 50 tahun. Sementara generasi muda mulai jarang tertarik melanjutkan pekerjaan tersebut.
Meski begitu, Minta menilai kerajinan anyaman tetap mempunyai nilai ekonomi jika dikelola dengan serius. Karena itu, BUMDes berupaya tetap menjaga usaha-usaha lokal agar tidak hilang.
Layanan Internet Desa
Selain upaya peternakan dan kerajinan, BUMDes Cikahuripan juga mengembangkan jasa internet desa nan mulai melangkah sejak 2023. Program itu dibuat untuk menyediakan akses internet dengan nilai lebih terjangkau bagi warga.
Saat ini, jasa internet desa sudah menjangkau ratusan pengguna dengan tarif sekitar Rp 150 ribu per bulan untuk kecepatan 10 Mbps. Pengembangannya dilakukan berjenjang lantaran memerlukan biaya prasarana nan cukup besar.
“Internet desa ini juga membuka pekerjaan dan membantu masyarakat mendapatkan jasa nan lebih murah,” katanya.
Meski belum mempunyai sektor wisata, Desa Cikahuripan mencoba menggali potensi ekonomi dari upaya penduduk dan UMKM rumahan, terutama di area perumahan nan terus berkembang.
Menurut Minta, pendampingan dari program Desa BRILian cukup membantu desa dalam memahami pengelolaan upaya dan kesempatan ekonomi nan bisa dikembangkan.
“Bukan hanya dari BRI, tapi juga ada pendampingan dari universitas. Kita dibimbing soal pemasaran, pembukuan, sampai memandang kesempatan upaya di desa,” ujarnya.
Dia mengaku bangga lantaran Desa Cikahuripan sukses masuk 15 besar nasional dalam program Desa BRILian. Baginya, pencapaian itu menjadi motivasi bagi desa untuk terus berkembang.
“Alhamdulillah, tentu bangga. Walaupun batch, tapi bisa masuk 15 besar nasional itu sudah jadi kebanggaan buat kami,” kata Minta.
Desa Cikahuripan Mulai Go Digital
Program digitalisasi di Cikahuripan juga mulai melangkah seiring keikutsertaan dalam program Desa BRILian. Pemerintah desa perlahan membangun sistem pelayanan berbasis digital untuk mempermudah manajemen masyarakat.
Sekretaris Desa Cikahuripan, Encin mengatakan, digitalisasi desa menjadi salah satu konsentrasi nan dijalankan pemerintah desa sesuai visi kepala desa dan arah pengembangan dari Pemerintah Kabupaten Bogor.
“Alhamdulillah sekarang mulai berjalan,” kata Encin.
Menurutnya, pendampingan dalam program Desa BRILian ikut mendorong desa untuk mulai menata pelayanan dan manajemen secara lebih tertib dan modern. Salah satunya melalui pemanfaatan website desa sebagai pusat jasa administrasi.
Melalui sistem tersebut, beragam kebutuhan manajemen penduduk seperti surat pengantar dan pelayanan lainnya mulai diarahkan agar lebih sigap dan terintegrasi.
“Kalau dulu pelayanan mungkin agak lambat, sekarang dengan digitalisasi bisa lebih cepat, terutama untuk penyuratan dan manajemen warga,” ujarnya.
Saat ini, Desa Cikahuripan telah mempunyai website desa nan mulai digunakan untuk menghubungkan pelayanan administrasi, info kependudukan, hingga kebutuhan pengelolaan desa lainnya.
Meski begitu, Encin mengakui penggunaan jasa digital di masyarakat tetap melangkah bertahap. Pemerintah desa tetap terus melakukan sosialisasi agar penduduk lebih terbiasa menggunakan sistem digital.
“Websitenya sudah berjalan, tapi memang masyarakat belum semuanya terbiasa lantaran tetap proses sosialisasi,” katanya.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam digitalisasi desa bukan hanya soal teknologi, tetapi juga pemahaman masyarakat terhadap penggunaan jasa digital.
Ke depan, pemerintah desa berencana terus mengembangkan sistem digital nan sudah ada. Website desa bakal dimanfaatkan tidak hanya untuk pelayanan administrasi, tetapi juga mendukung pengembangan UMKM dan aktivitas desa lainnya.
Desa BRILian Dorong UMKM Naik Kelas
Kepala Unit Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cileungsi, Luki Perdana mengatakan, pendampingan dalam program Desa BRILian difokuskan pada digitalisasi dan penguatan pengelolaan upaya desa. Mulai dari pelaporan finansial hingga transaksi usaha.
“Tujuannya agar desa tidak tertinggal dari perkembangan zaman. Jadi pelaporan BUMDes, transaksi, sampai pengelolaan upaya mulai diarahkan ke sistem digital, tidak manual lagi,” kata Luki.
Melalui program tersebut, perangkat desa, pengurus BUMDes, hingga pelaku UMKM mendapat training mengenai pembukuan usaha, pengelolaan administrasi, hingga pemanfaatan sistem digital dalam menjalankan usaha.
Menurut Luki, pendampingan dilakukan berbareng perguruan tinggi, salah satunya Universitas Airlangga, nan ikut memberikan pembinaan langsung kepada peserta program.
Selain pengelolaan usaha, program Desa BRILian juga membuka ruang komunikasi nan lebih dekat antara desa dan pihak perbankan. Warga nan sebelumnya belum memahami akses pembiayaan upaya sekarang mulai mengetahui prosedur dan pendampingan nan tersedia.
“Dulu banyak nan mau mengusulkan pinjaman tidak tahu kudu ke mana. Setelah ada Desa BRILian, masyarakat jadi tahu alurnya dan tahu kudu konsultasi ke siapa,” ujarnya.
Menurutnya, akibat nan paling terasa sejauh ini terlihat dari meningkatnya pemahaman pelaku UMKM terhadap akses pembiayaan usaha, khususnya Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Luki mengatakan, sebelumnya tetap banyak pelaku upaya mini nan lebih memilih meminjam ke lembaga nonformal lantaran merasa segan datang ke bank. Namun setelah adanya sosialisasi dan pendampingan, masyarakat mulai terbiasa mengakses jasa perbankan.
“Yang tadinya belum kenal bank alias tetap malu datang ke bank, sekarang jadi lebih terbiasa,” katanya.
Program Desa BRILian juga diharapkan membantu UMKM desa berkembang lebih luas. Tidak hanya memperkuat di pasar lokal, tetapi juga mempunyai kesempatan memperluas pemasaran ke luar daerah.
Salah satu potensi nan dimiliki Desa Cikahuripan berada pada upaya peternakan ayam petelur, kerajinan sangkar burung, dan anyaman bakul alias boboko nan sudah lama menjadi upaya warga.
“Kalau dikembangkan dan dipasarkan lebih baik, usaha-usaha itu bisa lebih besar lagi,” ujarnya.
Dia menilai salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan Desa BRILian adalah membangun kerjasama antara perangkat desa dan masyarakat. Menurutnya, program tidak bakal melangkah maksimal jika hanya dijalankan sebagian pihak saja.
“Harus ada respons dan kemauan dari desa maupun warganya. Kalau tidak kompak, program bakal susah berkembang,” kata Luki.
Dia mencontohkan Desa Cikahuripan menjadi salah satu desa nan cukup aktif selama mengikuti program Desa BRILian. Mulai dari melengkapi manajemen hingga mengikuti pendampingan dilakukan secara sigap dan responsif.
“Cikahuripan cukup antusias. Ketika diminta melengkapi info alias ikut pendampingan, responsnya cepat,” ujarnya.
Karena itu, komunikasi antara pihak BRI dan pemerintah desa tetap terus melangkah hingga sekarang. Pendampingan dilakukan melalui forum-forum desa, sosialisasi, hingga obrolan rutin berbareng masyarakat.
Menurut Luki, keberlanjutan program menjadi perihal krusial agar pengetahuan dan pendampingan nan sudah diterima desa tidak berakhir setelah program selesai.
“Harapannya pengetahuan nan didapat bisa terus diterapkan dalam aktivitas sehari-hari dan pengelolaan upaya masyarakat,” katanya.
Syarat dan Proses Jadi Desa BRILian
Masuk ke program Desa BRILian bukan hanya soal mempunyai potensi desa alias upaya nan berjalan. Ada tahapan dan penilaian nan kudu dilalui desa sebelum akhirnya terpilih mengikuti program pendampingan dari BRI tersebut.
Luki menjelaskan, setiap desa nan mau mengikuti program Desa BRILian kudu bersedia mengikuti seluruh proses pembinaan dan training nan telah disiapkan.
“Yang krusial desa bersedia mengikuti tahapan-tahapannya. Ada seleksi juga,” kata Luki.
Desa nan mengikuti program bakal dinilai dari kesiapan pengelolaan BUMDes, keberadaan UMKM, hingga komitmen pengurus desa dalam mengikuti training dan pendampingan.
Selama program berjalan, perangkat desa, pengurus BUMDes, hingga pelaku UMKM diwajibkan mengikuti training daring dan pendampingan langsung. Dari proses tersebut, peserta juga mendapatkan penilaian.
“Setelah pelatihan, mereka kudu bisa menerapkan materi nan didapat ke aktivitas sehari-hari di desa. Itu jadi bagian penilaian,” ujarnya.
Luki menjelaskan, materi nan diberikan tidak hanya soal pengelolaan usaha, tetapi juga administrasi, pembukuan, digitalisasi, hingga pengembangan potensi desa.
Minta menambahkan, ada sejumlah syarat manajemen nan kudu dipenuhi sebelum desa bisa mengikuti program Desa BRILian. Salah satunya adalah legalitas BUMDes nan sudah mempunyai arsip resmi, termasuk SK dan pengesahan Kemenkumham. Selain itu, desa juga kudu mempunyai upaya nan aktif melangkah serta pengurus nan aktif.
“BUMDes kudu sudah punya legalitas dan memang ada upaya nan berjalan,” kata Minta.
Menurutnya, proses seleksi juga melibatkan rekomendasi dari Kementerian Desa. Karena itu, tidak semua desa bisa langsung mengikuti program tersebut.
“Untuk wilayah Klapanunggal, kebetulan baru Desa Cikahuripan nan ikut,” ujarnya.
Bagi Minta, program Desa BRILian memberi banyak faedah bagi desa, terutama dalam penguatan kapabilitas pengurus desa dan BUMDes. Dia mendorong desa lain agar ikut memanfaatkan kesempatan serupa jika terbuka di kemudian hari.
“Kalau ada kesempatan ikut Desa BRILian, saya sarankan ikut. Banyak pengetahuan nan didapat, mulai dari manajemen, pengelolaan BUMDes, sampai pembinaan UMKM,” kata Minta.
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·