Cegah Krisis Mental Remaja di Era Digital, Pemkot Tangsel Dorong Penguatan Literasi dan Moral

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Cegah Krisis Mental Remaja di Era Digital, Pemkot Tangsel Dorong Penguatan Literasi dan Moral ilustrasi(MI/Usman Iskandar)

DI tengah gelombang disrupsi digital nan bergerak cepat, tembok pertahanan utama bagi generasi muda bukan lagi sekadar pagar bentuk di rumah, melainkan ketahanan mental serta fondasi karakter nan kokoh. Hal tersebut menjadi perhatian utama Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Tangerang Selatan, TB Asep Nurdin, saat membedah kompleksitas tantangan psikologis remaja di era modern.

Asep memaparkan bahwa lanskap pergaulan remaja saat ini mengalami pergeseran drastis. Ketergantungan terhadap gawai (gadget) telah mengubah pola hubungan sosial dari komunikasi tatap muka nan hangat menjadi hubungan artifisial di ruang digital.

Perkembangan teknologi info memang membuka akses pengetahuan tanpa batas, namun di sisi lain, dia juga membawa kerentanan psikologis nan serius jika tidak diimbangi dengan literasi digital nan matang. Tekanan sosial dari media sosial, paparan info negatif, hingga pergeseran nilai etika menjadi ancaman nyata bagi stabilitas mental remaja.

"Nah, anak-anak sekalian, kesehatan mental ini sangat berpengaruh untuk masa depan kalian dan ini kudu dijaga banget," ujar Asep, Jumat (28/8).

Dalam pemaparannya, Asep menyoroti sebuah ironi kontemporer nan kerap luput dari perhatian publik: kedekatan bentuk nan justru terasa sunyi di dalam rumah. Remaja hari ini dinilai lebih memilih meluapkan isi hati, mencari pengesahan instan, alias mencurahkan keluh kesah kepada sesama pengguna di bumi maya daripada membuka ruang perbincangan dengan personil family terdekat nan duduk tepat di sebelah mereka.

Kondisi ini, lanjut Asep, memperlebar lembah komunikasi antargenerasi dan memicu alienasi emosional. Ketika masalah individual diserahkan kepada algoritma alias lingkungan maya nan salah arah, dampaknya sering kali berujung pada kekhawatiran berlebih, stres, hingga perilaku menyimpang akibat salah pergaulan.

Sebagai langkah mitigasi preventif, Diskominfo Tangsel berbareng Dinas Kesehatan terus mendorong pentingnya penanaman nilai moral (character building). Asep mengingatkan agar para remaja tidak membiarkan diri mereka terombang-ambing tanpa arah di tengah arus info dunia nan bebas tanpa filter etika.

"Dalam diri generasi muda kudu punya nilai. Jangan menjadi kertas kosong nan tidak punya nilai," tegas Asep, menekankan pentingnya internalisasi nilai-nilai luhur seperti kejujuran, kedisiplinan, etika bermedia, kepatuhan kepada orang tua, serta rasa hormat kepada pembimbing di sekolah.

Ia juga mengingatkan para remaja agar bisa menjadi pemasok perubahan bagi diri sendiri dengan berani menjauhi segala corak potensi kekerasan, penyalahgunaan senjata tajam, serta lingkaran pergaulan bebas nan merusak masa depan. Setiap pilihan hidup, kata Asep, berada di tangan remaja itu sendiri.

"Pilihan bukan ada di ibu kamu, pilihan bukan ada di orang tua kamu, pilihan bukan ada di pemerintah kota, tapi ada di diri sendiri untuk jadi orang bernilai. Jadi ingat ya, pilih keputusan dengan baik," ujarnya.

Asep menegaskan bahwa perlindungan kesehatan mental dan karakter remaja tidak bisa dibebankan kepada satu lembaga semata. Diperlukan sinergi nan solid dan berkepanjangan antara orang tua di lingkungan keluarga, tenaga pendidik di sekolah, serta intervensi kebijakan strategis dari pemerintah daerah.

"Antara orang tua, guru, dan Pemerintah Kota kudu dalam satu kesatuan nan utuh menjaga anak dari kesehatan mental ini," ujar Asep.

Melalui beragam program edukasi berkelanjutan, Pemkot Tangsel berkomitmen menghadirkan ekosistem digital nan kondusif guna mencetak sumber daya manusia nan tangguh, adaptif, dan berintegritas tinggi. (P-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia