Campak dan Fenomena Immune Amnesia

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi Virus. Sumber: Pixabay.com (TheDigitalArtist)

Belakangan ini, di tengah mewabahnya kasus campak, cukup banyak kalangan masyarakat nan mempercayai bahwa orang-orang tidak memerlukan vaksin. Sebagian golongan masyarakat ini menganggap bahwa andaikan seseorang terinfeksi campak, maka orang tersebut bakal dapat pulih dengan normal secara berdikari tanpa intervensi apa pun.

Argumen-argumen seperti ini memang sudah biasa beredar di masyarakat nan tetap meragukan vaksin alias belum mengetahui pengaruh samping dari jangkitan balang secara jangka panjang. Terutama gimana sistem jangkitan balang serta respons imunologi nan dihasilkan pasca jangkitan tersebut.

Secara umum, memang betul andaikan seseorang dalam keadaan sehat dan mempunyai sistem imun nan baik, penyakit jangkitan dapat diatasi secara alami oleh tubuh dan tidak menimbulkan indikasi penyakit nan parah. Akan tetapi, beberapa patogen mempunyai keahlian unik nan bisa untuk mengotak-atik keahlian sistem imun tubuh manusia. Dalam kasus virus campak, keahlian unik tersebut disebut sebagai immune amnesia.

Secara teoritis, ketika tubuh mengalami jangkitan pertama kali, sistem imun dapat mengenali patogen tersebut dan membentuk memori tentang gimana struktur, langkah kerja, serta sistem efektif dalam mengeliminasi patogen tersebut. Peran penyimpanan memori ini diperankan oleh dua sel dalam tubuh, ialah sel T dan sel B memori.

Jadi, saat mengalami jangkitan dengan patogen nan sama untuk nan kedua kali alias seterusnya, sistem imun dapat mengatasi jangkitan dengan lebih sigap tanpa menimbulkan penyakit nan parah lantaran sudah mempunyai sel T dan sel B memori nan merekam pengalaman tubuh dalam menghadapi patogen tersebut sebelumnya.

Namun, ketika seseorang terkena campak, keahlian sistem imun untuk menyimpan memori ini menghilang. Virus balang mempunyai keahlian untuk mengeliminasi sebagian dari sel dan sel B memori nan dimiliki tubuh. Sehingga, ketika seseorang mengalami infeksi, orang tersebut menunjukkan indikasi nan parah seakan-akan itu adalah jangkitan primer nan dialaminya pertama kali. Meskipun secara riwayat penyakit, orang tersebut sebenarnya sudah pernah terkena jangkitan nan sama sebelumnya.

Ibarat seorang tentara berilmu di medan perang nan semestinya bisa memenangkan perang dengan mudah, namun kalah di medan perang lantaran secara mendadak dia lupa dengan skill nan dia miliki. Persis seperti afinitas tentara tersebut, hilangnya memori dari sistem imun inilah nan disebut sebagai immune amnesia.

Adanya fenomena immune amnesia inilah nan membikin balang menjadi berbahaya. Seseorang mungkin bisa saja sembuh dari indikasi demam dan ruam nan ditimbulkan oleh campak, tetapi pengaruh samping dan jangka panjang akibat jangkitan tersebut adalah tubuh menjadi lebih rentan untuk terkena jangkitan sekunder/lanjutan pasca sembuh.

Inilah kenapa andaikan kita memandang laporan pada anak-anak nan terkena campak, penyebab kematian nan paling sering ditemui justru bukan lantaran indikasi demam alias ruam akibat jangkitan campak. Melainkan lantaran adanya jangkitan lanjutan seperti pneumonia nan menyerang organ paru-paru serta encephalitis nan menyerang organ otak.

Kedua jangkitan sekunder tersebut tingkat akibat keparahan penyakit serta kematiannya jauh lebih tinggi dialami pada anak-anak nan belum mendapatkan vaksin sebelumnya. Contoh kasus nyata dari kejadian ini dapat kita lihat pada kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) balang nan terjadi di Madura pada tahun 2025 lampau serta outbreak balang di Jawa Barat pada tahun 2026 ini.

Mengapa outbreak penyakit seperti balang ini kembali muncul? Sebab, cakupan vaksinasi anak di Indonesia pasca pandemi COVID-19 memang mengalami penurunan. Ada beberapa argumen kenapa penurunan ini dapat terjadi seperti konsentrasi tenaga kesehatan nan terpecah akibat menghadapi pandemi, keengganan orang tua untuk membawa anak ke akomodasi kesehatan lantaran takut terinfeksi COVID-19, halangan akses geografis, hingga realokasi prioritas anggaran imunisasi untuk program kesehatan lain seperti Cek Kesehatan Gratis (CKG) alias Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dalam pengetahuan epidemiologi, terdapat konsep nan disebut sebagai basic reproducibility number (R0). Angka ini menggambarkan seberapa sigap reproduksi dan tingkat penuarlaralaran suatu patogen. Khusus untuk campak, nomor R0 adalah sebesar 12-18. Artinya, satu orang nan terinfeksi balang dapat menginfeksi 12 hingga 18 orang nan sehat. Sebagai perbandingan, nomor balang ini apalagi lebih besar dari virus SARS CoV-2 jenis omicron nan hanya mempunyai nomor R0 sebesar 8-9 saja.

Semakin tinggi nomor R0 dari suatu patogen, maka tingkat cakupan vaksinasi nan diperlukan untuk mencegah outbreak penyakit juga semakin tinggi. Untuk campak, tingkat cakupan vaksinasi nan direkomendasikan oleh WHO adalah sebesar 95%. Sementara, tingkat vaksinasi komplit untuk anak di Indonesia di tahun 2025 kemarin baru mencapai nomor 80% saja.

Bukan hanya Indonesia nan menghadapi tantangan dalam menghadapi outbreak penyakit ini. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, serta Australia di tahun lampau juga mengalami perihal serupa. Padahal negara-negara tersebut sebelumnya mempunyai tingkat penyakit nan rendah alias apalagi bebas campak. Penyebabnya juga sama: turunnya cakupan vaksinasi.

Dari kasus di Indonesia dan contoh beberapa negara di luar negeri tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa andaikan tingkat cakupan vaksinasi di satu tempat menurun, maka akibat outbreak penyakit bakal semakin tinggi. Lebih lanjut lagi, pengaruh kerentanan dan outbreak penyakit di satu letak dapat menyebar dalam skala domestik maupun dunia ke tempat lain melalui mobilitas manusia.

Tentu saja, outbreak penyakit seperti balang ini sejak awal tidak perlu terjadi jika tingkat vaksinasi kita sudah baik. Namun, tren penurunan tingkat vaksinasi nan terjadi secara dunia membikin penyakit-penyakit nan semestinya dapat dicegah seperti campak, polio, difteri, pertusis, dan seterusnya kembali muncul.

Karena masyarakat tidak memandang penyakit-penyakit tersebut setelah sekian lama, maka orang-orang mulai menganggap bahwa penyakit tersebut tidak ada dan oleh karenanya tidak memerlukan vaksin. Tanpa menyadari bahwa ketiadaan penyakit tersebut sejak awal adalah berkah adanya vaksinasi. Dalam perihal ini, ironisnya vaksin menjadi korban atas keberhasilannya sendiri. Orang seakan-akan mengalami amnesia atas akibat negatif dari munculnya penyakit-penyakit tersebut di masa lalu.

Maka dari itu kembali pada kasus campak, untuk mencegah pengaruh samping dan jangka panjangnya, vaksin diperlukan untuk melatih sistem imun tubuh dalam membentuk memori terhadap jangkitan tanpa akibat mengalami immune amnesia. Ibarat sebuah helm bagi pembalap MotoGP, memakai helm tidak menjamin seseorang 100 persen terhindar dari kecelakaan.

Namun, helm secara signifikan meminimalisir akibat gegar otak alias trauma fatal saat pembalap jatuh dan mengalami tumbukan kepala. Memilih untuk tidak divaksin dan mengandalkan kesembuhan alami seumpama memilih mengikuti balapan MotoGP tanpa memakai helm dengan angan kepala kita cukup kuat jika terbentur dengan aspal saat terjadi kecelakaan.

Kita perlu menyadari bahwa vaksinasi bukan sekadar pilihan medis pribadi, melainkan sebuah kesepakatan sosial untuk menjaga kesehatan publik secara kolektif. Di tengah kemudahan akses informasi, literasi sains menjadi semakin penting. Memahami imunologi secara tepat dan betul bakal membantu masyarakat dalam mengambil pilihan nan betul serta berakhir bertaruh dengan kesehatan anak-anak kita sendiri.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan