Pemerintah menargetkan penurunan kemiskinan ekstrem melalui penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta Ekonomi Kreatif (Ekraf). Salah satu langkah utamanya adalah mendorong hingga 10 juta masyarakat masuk ke sektor umum alias menjadi pelaku upaya hingga tahun 2029.
Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin dalam bertemu pers usai Rapat Tingkat Menteri (RTM) di M Bloc Space, Jakarta Selatan, Senin (4/5).
“Caranya ada dua, kita mau mendorong sampai 2029 minimal ada 10 juta penduduk kita bekerja secara umum alias menjadi pelaku upaya dan pengusaha,” kata Cak Imin kepada wartawan.
Cak Imin menegaskan, kebijakan ini sejalan dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2025 nan menargetkan penurunan nomor kemiskinan hingga maksimal 5 persen pada tahun 2029.
Menurutnya, UMKM dan sektor ekonomi imajinatif menjadi kunci dalam menggerakkan ekonomi masyarakat secara masif.
Pemerintah juga terus mendorong aktivitas nasional untuk membeli produk UMKM dan ekraf sebagai bagian dari upaya memperkuat daya tahan ekonomi domestik.
“Melalui UMKM dan ekonomi imajinatif kita percaya bisa menggerakkan potensi nan tinggi di masyarakat untuk berkekuatan dan mandiri,” ujarnya.
Dalam kesempatan nan sama, Cak Imin menyoroti peran M Bloc Space sebagai contoh sukses kerjasama antara BUMN, komunitas, dan pemerintah dalam mengembangkan ekosistem UMKM dan ekonomi kreatif.
“M Bloc ini tempat nan sangat strategis dan telah berkontribusi banget sangat bagus bagi tumbuh kembangnya UMKM kita, sekaligus ekonomi imajinatif nan terus berkembang,” katanya.
Ia mendorong agar model serupa dapat diperbanyak di beragam wilayah di Indonesia, dengan memanfaatkan aset dan letak strategis nan dimiliki pemerintah maupun BUMN.
Sementara itu, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menekankan pentingnya mengaktifkan kembali ruang-ruang imajinatif di daerah, termasuk desa imajinatif dan creative hub nan sudah ada.
Menurutnya, banyak akomodasi serupa di wilayah nan belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, jika dihidupkan kembali melalui kerjasama lintas pihak, tempat-tempat tersebut bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi lokal.
“Bukan membangun baru, tetapi gimana kita mengaktivasi desa imajinatif nan sudah berkembang dan creative hub nan ada di daerah,” ujar Riefky.
Ia menambahkan, pengembangan ekonomi imajinatif tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri. Diperlukan kerjasama antara pemerintah, BUMN, komunitas, pelaku seni, hingga pemerintah daerah.
Model kerjasama seperti nan terjadi di M Bloc Space, lanjutnya, diharapkan dapat direplikasi hingga ke tingkat kecamatan, kelurahan, hingga desa.
“Ini bisa jadi contoh bahwa potensi ekonomi imajinatif di wilayah sangat besar, tinggal gimana kita mengaktivasi dan mengolaborasikannya,” ujar dia.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·