Bursa Mineral Meluncur Tahun Depan, Namanya Icomex?

Sedang Trending 52 menit yang lalu

Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto berencana membentuk dan meluncurkan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis. Dalam pengumumannya pada Pidato Tahunan di DPR, bursa ini bakal dibesut berbareng Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Prabowo menargetkan Bursa Mineral dapat resmi beraksi pada 1 Januari 2027. Saat ini semua pihak sedang mempersiapkan pembentukan lembaga bursa tersebut sekaligus dasar hukumnya.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memberikan bocoran nama Bursa Mineral nan bakal meluncur tersebut. Nama bursa tersebut kemungkinan adalah Indonesia Commodity Exchange (Icomex).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ya kurang lebih, Indonesia Commodity Exchange alias Icomex," ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (17/8/2026).

Di Indonesia sendiri, sudah ada Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia alias Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX). Ini merupakan bursa umum swasta di Indonesia nan beraksi sejak tahun 2009 untuk memfasilitasi perdagangan perjanjian berjangka komoditas serta produk derivatif.

Ditanya apakah ICDX bakal terintegrasi ke dalam Bursa Mineral, Prasetyo enggan menjawab pasti. nan jelas, dia menekankan Bursa Mineral nan nantinya kemungkinan diberi nama Icomex bakal memberikan kedaulatan bagi komoditas-komoditas jagoan dari Indonesia.

"Makanya ini sedang proses untuk kelak diatur sedemikian rupa, intinya adalah bukan ada ini dan sebagainya, tidak. Tapi intinya adalah kedaulatan terhadap barang-barang nan kita miliki kudu kita nan menentukan. Selama ini kan nggak," kata Prasetyo.

"Nanti kita lihat ininya, bisa jadi kan mungkin bisa gabung, mungkin bisa sendiri," katanya melanjutkan ketika ditanya kembali apakah ICDX bakal terintegrasi dalam Icomex.

Bursa Mineral dan Komoditas Strategis sendiri merupakan petunjuk UU Nomor 4 Tahun 2026 tentang Perubahan atas UU Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).

Prasetyo juga sempat mengungkapkan beberapa komoditas kritis dari Indonesia, macam olahan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) hingga nikel dipertimbangkan masuk bursa tersebut.

Meski begitu, sampai sekarang pemerintah belum memutuskan secara resmi komoditas apa saja nan masuk Bursa Mineral dan Komoditas Strategis.

"Belum, belum diputuskan. nan pasti adalah komoditas-komoditas nan memang itu produksi kita nan paling utama. Misalnya CPO, nikel, batu bara," ujar Prasetyo.

(kil/kil)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance