BUMN Kelimpungan Cari Plastik Kemasan, Imbas Perang Makin Nyata!

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta -

Salah satu BUMN pangan, PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) alias ID FOOD, mulai merasakan akibat dari perang di Timur Tengah, ialah kesulitan mencari bungkusan plastik untuk mengemas produk mereka. Hal ini lantaran perang nan melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel tersebut mengakibatkan masalah pada pasokan biji plastik global, termasuk di Indonesia.

"Kami kesulitan nan sekarang lagi viral, bukan lagi viral, lagi terasa di pihak kami sebagai pemain pangan, ialah kesulitan kemasan. Jadi di semua pabrik-pabrik itu sudah mulai terasa kelangkaan biji plastik," kata Direktur Utama ID Food, Ghimoyo dalam Rapat Kerja berbareng Komisi IV DPR RI, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).

Menurutnya masalah pasokan ini sangat krusial mengingat sebagian besar produk pangan berjuntai pada bahan plastik untuk bungkusan mulai dari beras hingga minyak goreng, nan artinya masalah ini berpotensi menimbulkan gangguan pada rantai pasok pangan nasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena ini seluruh pangan, seluruh pupuk, seluruh beras itu menggunakan karung plastik. Lalu kemasan-kemasan kiloan, bungkusan minyak goreng juga menggunakan bahan nan sama," paparnya.

Tak hanya mengganggu rantai pasok pangan dalam negeri, kelangkaan pasokan bungkusan plastik ini juga berpotensi menimbulkan gangguan pada penyelenggaraan sejumlah program pemerintah nan ditugaskan kepada ID FOOD.

"Kami aktif mengelola dan mendistribusikan CPP (Cadangan Pangan Pemerintah), khususnya untuk enam komoditas strategis ialah daging ruminansia, daging ayam, telur, gula, minyak goreng, dan ikan kembung," terangnya.

"Kami juga aktif mendukung program pemerintah melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) berbareng Badan Pangan Nasional. ID Food menyuplai sekitar 420 titik penugasan dari total 1.900 titik Gerakan Pangan Nasional di tahun 2026," sambung Ghimoyo.

Sebagaimana diketahui, plastik sebagian besar berasal dari hasil pengolahan minyak bumi termasuk polyethylene (PE) dan polypropylene, dua jenis plastik nan paling banyak digunakan di dunia. Kenaikan nilai minyak akibat perang tidak hanya meningkatkan biaya produksi plastik, tetapi juga nilai bahan bakunya.

Terlebih area Timur Tengah merupakan pemasok utama bahan baku plastik global. Berdasarkan info S&P Global Energy, area ini menyumbang sekitar 25% dari ekspor polyethylene dan polypropylene dunia. Konflik nan terjadi pun secara otomatis mengganggu rantai pasok produk turunan minyak bumi tersebut.

Berdasarkan info Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia impor plastik dan peralatan dari plastik (HS 39) senilai US$ 873,2 juta alias setara Rp 14,78 triliun (kurs Rp 16.927) pada Februari 2026. Barang tersebut dipasok dari beragam negara.

Impor plastik dan peralatan dari plastik pada Februari 2026 paling banyak berasal dari China ialah US$ 380,1 juta. Kemudian disusul dari Thailand US$ 82,7 juta dan dari Korea Selatan (Korsel) US$ 66,7 juta.

Indonesia juga tercatat impor plastik dan peralatan plastik dari Amerika Serikat (AS) nan saat ini sedang bertempur dengan Iran. Tercatat impornya mencapai US$ 29,9 juta pada Februari 2026.

Kemudian Indonesia juga impor plastik dan peralatan plastik dari Arab Saudi senilai US$ 14,9 juta pada Februari 2026. Pemasok juga ada berasal dari Vietnam, Jepang, Singapura, Malaysia dan Taiwan.

Simak juga Video 'Menaker Izinkan Perusahaan Atur Jadwal WFH':

(igo/fdl)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance