Bulan Menjauh 3,8 Sentimeter per Tahun, Ini Dampaknya bagi Bumi

Sedang Trending 5 hari yang lalu
Bulan Menjauh 3,8 Sentimeter per Tahun, Ini Dampaknya bagi Bumi Ilustrasi: Fenomena bulan purnama jagung terlihat di langit Kota Depok, Jawa Barat.(ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)

BULAN rupanya perlahan terus menjauh dari Bumi dengan kecepatan rata-rata sekitar 3,8 sentimeter per tahun. Pergerakan ini terjadi akibat hubungan gravitasi dan style pasang surut antara Bumi dan Bulan. 

Meski perubahan jaraknya sangat kecil, proses tersebut secara perlahan memengaruhi rotasi Bumi dan membikin lama satu hari bertambah panjang. 

Fenomena ini telah dapat diukur secara presisi menggunakan laser nan dipantulkan dari cermin nan ditempatkan di permukaan Bulan oleh misi antariksa dan astronaut.

Mengapa Bulan Menjauh?

Menurut laporan Space.com, Bulan terus menjauh dari Bumi akibat style pasang surut. Gravitasi Bulan menarik lautan Bumi dan membentuk tonjolan pasang nan sedikit bergeser di depan posisi Bulan akibat rotasi Bumi. 

Tonjolan ini memberikan tarikan gravitasi tambahan nan membikin Bulan memperoleh momentum dan bergerak ke orbit lebih jauh, sementara sebagian momentum rotasi Bumi beranjak ke orbit Bulan sehingga rotasi Bumi perlahan melambat.

Jarak Bulan Terus Bertambah

Jarak rata-rata Bulan dari Bumi saat ini sekitar 385.000 kilometer, tetapi nilainya berubah sepanjang orbit lantaran lintasannya tidak berbentuk lingkaran sempurna. 

Meski begitu, terdapat tren jangka panjang bahwa Bulan menjauh sekitar 3,8 sentimeter per tahun, nan dapat diukur secara jeli menggunakan laser nan dipantulkan dari reflektor di permukaan Bulan untuk menghitung waktu tempuh sinar pulang-pergi ke Bumi.

Durasi Hari di Bumi Perlahan Bertambah Panjang

Ketika Bulan memperoleh momentum orbital, Bumi kehilangan sebagian momentum rotasinya. Akibatnya, kecepatan rotasi Bumi sedikit menurun dan lama satu hari bertambah panjang.

Efeknya sangat mini sehingga tidak dapat dirasakan manusia dalam kehidupan sehari-hari. 

Menurut Space.com, perubahan jarak sekitar 3,8 sentimeter per tahun jika dibandingkan dengan jarak Bumi-Bulan hanya sekitar 0,00000001 persen per tahun. 

Karena itu, manusia tetap bakal mengalami hari dengan lama sekitar 24 jam dan menikmati pasang surut serta eklips selama jutaan tahun ke depan.

Pergerakan Bulan juga membantu menjelaskan kenapa panjang hari di Bumi berubah sepanjang sejarah. 

Ketika Bulan baru terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu, posisinya diperkirakan jauh lebih dekat dengan Bumi.

Bukti dari fosil cangkang kerang menunjukkan bahwa sekitar 70 juta tahun lalu, ketika dinosaurus tetap hidup, satu hari di Bumi berjalan sekitar 23,5 jam. 

Temuan tersebut sejalan dengan prediksi astronomi mengenai perlambatan rotasi Bumi akibat hubungan dengan Bulan.

Apakah Bulan Akan Meninggalkan Bumi?

Meski terus menjauh, Bulan tidak bakal segera lepas dari gravitasi Bumi.  Jika proses ini berjalan hingga puluhan miliar tahun, rotasi Bumi secara teori dapat melambat hingga mencapai kondisi tidally locked, ketika periode rotasi Bumi sama dengan periode orbit Bulan. 

Namun, skenario tersebut kemungkinan tidak tercapai lantaran dalam sekitar satu miliar tahun Matahari diperkirakan semakin terang dan dapat memengaruhi lautan serta style pasang surut, sebelum akhirnya beberapa miliar tahun kemudian berkembang menjadi raksasa merah nan kemungkinan mengakhiri keberadaan Bumi dan Bulan.

Bulan nan terus menjauh merupakan proses alami nan sangat lambat.  Dampaknya adalah perlambatan rotasi Bumi dan perubahan panjang hari, sudah terjadi tetapi belum terasa dalam kehidupan sehari-hari. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa sistem Bumi-Bulan terus berubah akibat hubungan gravitasi selama miliaran tahun.

(Space/P-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia