Bukti OTT Kasus BNPB: Uang Rp3,3 M, Ratusan Gram Emas, Aset Kripto

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengamankan sejumlah peralatan bukti saat melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) di lingkungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Selasa (13/10).

Ketua KPK Setyo Budiyanto mengatakan peralatan bukti nan diamankan adalah duit Rp3,3 miliar, emas seberat ratusan gram, hingga aset kripto.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jumlahnya bukan lagi Rp1,4 ya. Tapi lebih kurang sekitar Rp3,3 miliaran. Itu dari beberapa pihak," kata Setyo kepada wartawan, Rabu (14/10).

Setyo mengatakan mengenai aset kripto, KPK tetap mendalami siapa pemiliknya.

"Kalau nggak salah mata uang digital itu nilainya satu digit di M ya. Satu digit saja gitu. Cuman saya detailnya lupa. Kripto itu kan nggak bisa kita bunyikan langsung begitu saja bahwa pasti sekian alias pemiliknya siapa, si A, si B, dan segala macam. Pasti kelak kami pastikan kembali siapa nan mempunyai itu, sehingga kelak tidak kemudian menjadi apa, membingungkan alias bias terhadap status kepemilikan daripada pemilik kripto," katanya.

Setyo menjelaskan, ada dua klaster dugaan korupsi dalam perkara ini. Pertama mengenai tumbukan kepentingan dalam pengadaan dan kedua soal suap.

"Dari biaya siap pakai itu kan melibatkan ada perusahaan-perusahaan swasta. Ini nan sedang kemudian didalami, nan terindikasi bahwa ada kerja sama, ada semacam pengkondisian, ya terutama dalam penyaluran anggaran, kemudian pemanfaatan, penggunaannya, nan sebagian disalahgunakan oleh beberapa oknum untuk untung dirinya sendiri," ujarnya.

Total ada lima tersangka dalam kasus itu.

Kelimanya adalah Kasubdit Pengelolaan Bantuan dan Kedaruratan BNPB sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Gabriel Purwaka Sigit; Tenaga Ahli Kepala BNPB Letjen Suharyanto, Bima Setiawan dan Richard Erlangga; serta pihak swasta berjulukan Gery Prasetiawan dan Syifa Nrika.

Bima diketahui adalah adik dari Kepala BNPB Letjen Suharyanto.

(yoa/fra)

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional
↑