Bukan Sekadar Pengalih Perhatian, Musik Terbukti Ampuh Redakan Rasa Sakit

Sedang Trending 7 jam yang lalu
Bukan Sekadar Pengalih Perhatian, Musik Terbukti Ampuh Redakan Rasa Sakit Ilustrasi(MI/AI)

BANYAK orang menyalakan musik favorit saat merasa tidak nyaman alias kesakitan, dengan dugaan alunan nada bakal mengalihkan pikiran dari rasa sakit tersebut. Namun, temuan ilmiah terbaru menunjukkan bahwa pengaruh musik terhadap tubuh manusia rupanya jauh lebih kompleks.

Sebuah ulasan terhadap 57 penelitian nan diterbitkan dalam jurnal *PAIN Reports* mengungkapkan bahwa musik tidak sekadar mengalihkan perhatian, melainkan memengaruhi langkah otak memproses dan merespons sinyal rasa sakit.

"Temuan dari studi kami membantu menjelaskan kenapa musik dapat menjadi pendekatan nan efektif dan berisiko rendah untuk penanganan rasa sakit, serta gimana kita dapat memaksimalkan potensinya," ujar Joke Bradt, PhD, Profesor dan Direktur Program PhD Creative Arts Therapies di Drexel University.

Mengapa Teori Pengalihan Perhatian Tidak Cukup?

Selama ini, teori umum menyebut bahwa musik bekerja hanya dengan menyita perhatian pendengarnya. Namun, para peneliti menemukan beberapa bukti nan mematahkan dugaan tersebut.

Pertama, musik nan tidak disukai alias bunyi sumbang tetap menyita perhatian pendengar, tetapi kandas meredakan rasa sakit. Bahkan dalam sebuah eksperimen, musik nan tidak menyenangkan justru meningkatkan persepsi rasa sakit.

Kedua, dalam beberapa pengujian, musik nan diputar sebelum rasa sakit dimulai, bukan saat rasa sakit terjadi, tetap bisa mengurangi intensitas rasa sakit nan dirasakan setelahnya. Hal ini membuktikan bahwa pengaruh pereda nyeri tetap bekerja meski tidak ada kejuaraan perhatian secara langsung saat rangsangan sakit datang.

Tiga Kunci Utama Efektivitas Musik

Penelitian ini mencatat tiga aspek utama nan menentukan seberapa efektif musik dalam meredakan rasa sakit:

  • Kenikmatan Musik (Pleasantness): Musik nan betul-betul disukai dan dinikmati oleh pendengar memberikan pengaruh pereda nyeri nan signifikan. Rasa senang secara emosional memegang peranan kunci dalam menekan sensasi tidak menyenangkan dari rasa sakit.
  • Kebebasan Memilih (Choice): Orang nan memilih sendiri musik nan mau mereka dengarkan merasakan penurunan rasa sakit nan lebih besar dibandingkan mereka nan tidak diberi pilihan. Rasa mempunyai kendali atas apa nan didengar membantu meningkatkan rasa percaya diri dalam mengelola rasa sakit.
  • Partisipasi Aktif dan Ritme: Mengetuk jarum, mengetuk drum sesuai irama, hingga menyanyi berbareng terbukti memberikan pengaruh pereda nyeri nan lebih kuat daripada sekadar mendengarkan secara pasif. Dalam sebuah studi, aktivitas menyanyi lagu pilihan apalagi mengungguli pengaruh mendengarkan pasif maupun berdiam diri.

"Dalam pekerjaan klinis saya, saya lebih sering menggunakan pembuatan musik secara aktif, seperti bernyanyi, improvisasi vokal, dan memainkan instrumen, lantaran saya memandang ini jauh lebih efektif untuk nyeri kronis dibandingkan hanya mendengarkan musik," kata Bradt.

Apa nan Terjadi pada Otak?

Melalui pencitraan otak (brain imaging), para peneliti memandang bahwa musik bekerja pada dua tingkatan sistem saraf sekaligus. Musik bisa mengurangi aktivitas akibat rasa sakit pada area nan menerima sinyal langsung dari sumsum tulang belakang, sekaligus mengubah aktivitas di prefrontal cortex, bagian otak nan mengatur respons kognitif dan emosional.

"Studi pemindaian otak menemukan bahwa musik dapat memengaruhi pemrosesan nyeri tahap awal di otak serta respons kognitif dan emosional tingkat tinggi terhadap nyeri," jelas Bradt.

Temuan menarik juga terlihat pada penderita fibromyalgia, suatu kondisi nyeri kronis. Setelah mendengarkan musik pilihan mereka, pola jaringan otak nan mengatur pikiran konsentrasi pada diri sendiri (self-focused thought) berubah menjadi lebih mirip dengan pola otak orang sehat. Ini mengindikasikan bahwa musik berpotensi meredam pemikiran berulang nan sering kali memperburuk rasa sakit kronis.

Catatan Peneliti

Meskipun hasilnya menjanjikan, para peneliti memberi catatan bahwa sebagian besar studi nan diulas tetap berbasis laboratorium pada sukarelawan sehat dengan rangsangan nyeri jangka pendek (seperti mencelupkan tangan ke air es). Selain itu, kebanyakan penelitian tetap menggunakan musik rekaman.

Meski demikian, penelitian ini menegaskan bahwa musik merupakan modalitas terapi nan aman, minim risiko, dan berpotensi besar untuk dioptimalkan dalam manajemen rasa sakit. (Earth/z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia