Setiap akhir pekan, area car free day alias CFD ramai dipadati masyarakat. Ada nan datang untuk berolahraga, berjalan-jalan, berkumpul berbareng keluarga, hingga berburu sarapan.
Di tengah keramaian itu, para pelaku UMKM turut mengambil kesempatan dengan membuka lapak dan menawarkan beragam makanan, minuman, hingga produk lainnya.
Bagi pelaku UMKM, ramainya visitor CFD bukan sekadar pemandangan akhir pekan. Orang-orang nan datang silih berganti menjadi kesempatan untuk memperluas pasar, mengenalkan produk, sekaligus menambah pemasukan.
Hal itu dirasakan Lutfiah Salsabila, pedagang nan rutin berdagang di area CFD Gelora Bung Karno alias GBK. Selain CFD, dia juga membawa dagangannya ke beragam lokasi, mulai dari sekolah, kampus, hingga sejumlah acara.
Menurut Lutfiah, berdagang di CFD cukup membantu mendongkrak penjualan. Pasalnya, visitor nan datang mempunyai latar belakang dan usia nan beragam sehingga pasar nan bisa dijangkau pun lebih luas.
“Selama saya jual beli di sini, itu sangat mendongkrak. Karena dari segala usia, market-nya juga berbeda-beda. Jadi kita juga bisa mencari kesempatan nan lebih besar di CFD,” kata Lutfiah saat ditemui kumparan di CFD GBK, Minggu (23/8).
Lutfiah menjajakan sejumlah makanan seperti takoyaki mozarella, takoyaki original, kebab, hingga minuman seperti saribuah mangga. Ragam menu tersebut menjadi langkah untuk menjangkau selera visitor nan datang dari beragam golongan usia.
Namun, menurut Lutfiah, potensi penjualan di CFD tetap berjuntai pada tingkat keramaian. Karena itu, dia biasanya mempertimbangkan karakter aktivitas dan jumlah peserta sebelum menentukan strategi berjualan.
“Karena kita juga dari event, kita lihat pesertanya berapa, jadi kita bisa perkiraan ramai alias tidak. Kita lihat dari event-nya,” ujarnya.
Dengan persiapan sejak awal hari, Lutfiah dan tim mulai menyiapkan lapak sekitar pukul 04.30 WIB. Dagangannya biasanya sudah lenyap terjual sekitar pukul 11.00 WIB.
Peluang serupa juga dimanfaatkan Ningsih, pedagang pecel dan gorengan nan berdagang di Eco Foodcourt Plaza Timur GBK.
Dalam kesehariannya, Ningsih berdagang di kantin. Namun setiap Minggu, dia turut membuka lapak di area CFD lantaran jumlah visitor nan lebih ramai.
“Kalau untuk penjualan meningkat di sini. Karena di sini kan lebih ramai,” ujar Ningsih.
Ningsih mulai berdagang sekitar pukul 06.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB. Ia mengaku hasil berdagang saat CFD cukup membantu kondisi keuangannya.
Ningsih mengungkapkan pendapatan dari berdagang di kantin dapat digunakan untuk memutar modal. Namun demikian, sebagian hasil penjualan saat CFD apalagi bisa disisihkan untuk ditabung.
“Alhamdulillah, intinya jika di kantin kita bisa buat muter. Ini sisanya buat ditabung,” katanya.
Bagi UMKM, kesempatan tersebut bukan hanya soal berapa banyak dagangan nan terjual dalam satu pagi. CFD juga menjadi ruang untuk berjumpa langsung dengan konsumen, memperkenalkan produk, dan membuka kesempatan pengguna baru.
Pada akhirnya, saat sebagian orang mengakhiri Minggu pagi dengan berolahraga, CFD juga menjadi salah satu titik perputaran ekonomi bagi UMKM setiap akhir pekan.
20 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·