Bukan Rp 14.000, Segini Tarif Asli MRT Jakarta Lebak Bulus-Bundaran HI

Sedang Trending 59 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Tarif perjalanan MRT Jakarta nan dibayarkan penumpang saat ini disebut belum mencerminkan nilai ekonomi sebenarnya dari jasa sebuah transportasi massal. Nilai ekonomi satu perjalanan MRT Jakarta misalnya dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI apalagi disebut bisa mencapai nyaris Rp44.000.

Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta R. Samuel Ryan Pradipta Pranowo mengatakan tarif nan dibayarkan masyarakat saat ini jauh lebih rendah dibandingkan nilai ekonomi nan dihasilkan dari penggunaan MRT.

"Jadi jika misalnya dari Bundaran HI itu kan tarifnya Rp14.000, economic value-nya itu nyaris Rp44.000," kata Samuel dalam Fellowship MRT di Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Dia pun menjelaskan selisih tersebut menggambarkan besarnya faedah ekonomi nan dihasilkan transportasi publik. Manfaat tersebut tidak hanya berasal dari perjalanan penumpang, tetapi juga dari penghematan waktu, biaya, hingga aktivitas ekonomi nan muncul di sekitar jaringan transportasi.

Dengan tarif Rp14.000 dan nilai ekonomi nyaris Rp44.000, terdapat selisih sekitar Rp30.000 untuk setiap perjalanan. Kondisi ini menunjukkan bahwa faedah MRT bagi masyarakat jauh lebih besar dibandingkan nilai tiket nan dibayarkan.

Calon penumpang saat menaiki ke menaiki kereta MRT (Moda Raya Terpadu) di Stasiun MRT Blok M Jakarta, Senin (22/6/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Calon penumpang saat menaiki ke menaiki kereta MRT (Moda Raya Terpadu) di Stasiun MRT Blok M Jakarta, Senin (22/6/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Calon penumpang saat menaiki ke menaiki kereta MRT (Moda Raya Terpadu) di Stasiun MRT Blok M Jakarta, Senin (22/6/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Samuel menjelaskan, transportasi publik tidak semestinya hanya dilihat dari pendapatan tiket. Keberadaan MRT juga mendorong aktivitas ekonomi di area nan dilaluinya, terutama melalui pengembangan area berorientasi transit alias transit oriented development (TOD).

"Karena sebenarnya jika kita ngomongin transportasi publik itu jangan hanya ngomongin tarif, tapi economic value nan dihasilkan," ujarnya.

Menurut Samuel, faedah tersebut menjadi salah satu argumen kenapa pengembangan transportasi massal perlu dilihat sebagai investasi jangka panjang. Infrastruktur transportasi dapat meningkatkan aksesibilitas area sekaligus mendorong aktivitas upaya dan properti di sekitarnya.

Ia menilai semakin terintegrasinya transportasi publik dengan area komersial dan permukiman, semakin besar pula nilai ekonomi nan dapat tercipta. Karena itu, MRT Jakarta terus mengembangkan model upaya di luar pendapatan tiket.

"Jadi memang jika kita bicara upaya MRT, transport itu sebenarnya supporting business, core business-nya adalah property," kata Samuel.

(fys/wur) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News