Bukan Cuma Pengguna, UMKM RI Berpeluang Jadi Pemenang Era AI

Sedang Trending 1 jam yang lalu
NUS Business School. Foto: Dok. NUS

Banyaknya sektor industri di Indonesia dinilai menjadi kesempatan besar bagi Tanah Air untuk unggul di era kepintaran buatan (AI). Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) disebut sebagai salah satu sektor nan berpotensi besar mengambil peran tersebut.

Indonesia mempunyai sekitar 65 juta UMKM nan menyumbang 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional serta menyerap 97 persen tenaga kerja. Adopsi AI pun tercatat kian pesat di beragam sektor, mulai dari manufaktur, jasa keuangan, kesehatan, logistik, hingga konsumsi.

Assistant Dean (Digital Operations) di National University of Singapore (NUS) Business School, Tan Hong Ming, memaparkan bahwa nilai ekonomi digital Indonesia nan saat ini mencapai USD 100 miliar diproyeksikan terus tumbuh pesat, apalagi berpotensi menembus nomor USD 65 miliar.

Menurutnya, besarnya jumlah UMKM di Indonesia justru bisa mempercepat laju pertumbuhan tersebut, seiring dengan meningkatnya pemahaman pelaku upaya soal AI di beragam industri. Apalagi secara birokrasi, UMKM lebih mudah, tidak seperti di perusahaan besar.

"Indonesia nggak perlu copy AI negara lain lantaran tiap negara kondisinya berbeda seperti Singapura. Tapi Indonesia unggul di komoditas, sumber daya alam, dan UMKM nan justru bisa jadi pemenang dalam era ini," katanya dalam obrolan dengan media di Jakarta, Selasa (18/8).

Terpisah, Profesor Teo Chung Piaw, Dekan NUS Business School, mematahkan dugaan bahwa UMKM di Indonesia hanya menjadi pengguna AI semata. Dia justru optimistis sektor UMKM berpotensi menjadi salah satu kisah sukses mengambil AI di tanah air.

"UMKM itu dinamis. Mereka bisa bereksperimen dengan cepat, beradaptasi lebih lincah dibandingkan dengan korporasi besar, dan memanfaatkan AI untuk menjangkau lebih banyak pengguna tanpa biaya operasional nan membengkak. AI memberikan kesempatan bagi upaya skala mini untuk menghasilkan akibat besar dengan sumber daya nan efisien," pungkas Teo.

Meski demikian, dia mengingatkan bahwa mengambil AI kudu melangkah selaras dengan pengembangan kualitas SDM. "Setiap proyek AI wajib menyertakan rencana pengembangan SDM di samping rencana penerapan teknologinya. Perusahaan jangan lagi memandang mengambil AI dan pengembangan SDM sebagai dua perihal terpisah. Keduanya kudu melangkah beriringan," ungkap Teo.

Optimisme ini didukung info Microsoft Work Trend Index 2026, nan mencatat 33 persen ahli Indonesia masuk kategori pengguna AI mahir (advanced), dua kali lipat rata-rata dunia nan berada di kisaran 16 persen, ditopang penetrasi internet sekitar 81 persen.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan