Buka Pameran Filateli, Menbud Ajak Publik Baca Sejarah Lewat Arsip

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta -

Menteri Kebudayaan RI (Menbud) Fadli Zon membujuk masyarakat untuk membaca dan memahami sejarah bangsa melalui arsip filateli nan merekam beragam peristiwa krusial dalam perjalanan Indonesia.

Ajakan tersebut disampaikannya dalam Orasi Publik Filateli berjudul 'Membaca Sejarah Bangsa Melalui Arsip Filateli' di Gedung Oudetrap, Kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah (Jateng).

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pameran filateli 'Dalam Cengkeraman Saudara Tua: Jejak Pendudukan Jepang di Indonesia dalam Arsip Filateli (1942-1945)' nan diselenggarakan untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai filateli sebagai arsip sejarah dan kebudayaan bangsa.

Dalam orasinya, Fadli menegaskan filateli merupakan arsip sejarah nan merekam beragam peristiwa krusial dalam perjalanan bangsa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Fadli, prangko, surat, dan arsip pos menyimpan jejak perubahan sosial, politik, dan kebudayaan nan dapat membantu masyarakat memahami suatu periode sejarah secara lebih mendalam.

Fadli menilai pameran filateli menjadi medium nan efektif untuk mendekatkan masyarakat dengan sejarah melalui sumber-sumber nan autentik dan mudah dipahami.

"Melalui arsip filateli, kita dapat memandang beragam tanda era nan merekam perubahan sosial, politik, dan kebudayaan dalam perjalanan bangsa. Prangko, surat, dan arsip pos bukan sekadar barang koleksi, tetapi juga sumber pengetahuan nan membantu kita membaca sejarah secara lebih utuh," ujar Fadli, dalam keterangan tertulis, Senin (1/6/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Fadli turut membujuk masyarakat untuk memandang periode pendudukan Jepang di Indonesia sebagai salah satu bagian sejarah nan krusial dan kompleks.

Menurut Fadli, masa pendudukan Jepang tidak hanya menghadirkan beragam corak penderitaan dan penindasan, tetapi juga menjadi bagian dari dinamika sejarah dunia nan pada akhirnya membuka jalan bagi lahirnya kemerdekaan Indonesia.

"Sejarah tidak selalu datang dalam corak hitam dan putih. Karena itu, generasi masa sekarang perlu memandang beragam dinamika nan terjadi pada masa tersebut secara kritis, berasas kebenaran dan sumber-sumber sejarah nan dapat dipertanggungjawabkan," kata Fadli.

Orasi Publik Filateli diselenggarakan oleh Kemenbud bekerja sama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang, Pengurus Pusat Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI), dan Rumah PoHan.

Kegiatan ini menjadi ruang perbincangan antara pemerintah, akademisi, organisasi filateli, pegiat sejarah, pelaku budaya, serta masyarakat umum untuk membangun kesadaran berbareng mengenai pentingnya arsip sebagai bagian dari memori kolektif bangsa.

Mengusung tema 'Filateli sebagai Arsip Kebudayaan dan Medium Membaca Sejarah Indonesia', aktivitas ini bermaksud memperluas pemahaman publik mengenai nilai sejarah nan terkandung dalam arsip filateli, mendorong pemanfaatannya sebagai sumber penelitian dan media edukasi, serta memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian arsip dan memori sejarah bangsa.

Menutup orasinya, Fadli berambisi pameran dan obrolan ini dapat memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai sejarah Indonesia melalui arsip dan filateli.

"Semoga aktivitas ini dapat memberikan edukasi, terutama kepada generasi muda, tentang sejarah kita. Arsip, prangko, dan beragam budaya material nan ditampilkan dapat membantu masyarakat memahami perjalanan bangsa Indonesia secara lebih dekat dan nyata," kata Fadli.

Selain penyampaian orasi publik, dalam aktivitas ini juga dilakukan penandatanganan dua sampul peringatan oleh Fadli berbareng Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng.

Penandatanganan tersebut meliputi Sampul Peringatan 479 Tahun Kota Semarang dan Sampul Peringatan Pameran Filateli 'Dalam Cengkeraman Saudara Tua: Jejak Pendudukan Jepang di Indonesia dalam Arsip Filateli (1942-1945)'.

Penandatanganan sampul peringatan tersebut menjadi simbol kerjasama dalam upaya pelestarian sejarah dan penguatan memori kolektif bangsa melalui arsip filateli, sekaligus mendukung pengembangan filateli sebagai medium edukasi publik dan pengarsipan peristiwa krusial dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Fadli juga meresmikan pameran filateli 'Dalam Cengkeraman Saudara Tua: Jejak Pendudukan Jepang di Indonesia dalam Arsip Filateli (1942-1945)' nan diselenggarakan di Rumah PoHan, Kawasan Kota Lama Semarang.

Pameran ini menampilkan beragam arsip filateli nan merekam dinamika kehidupan masyarakat Indonesia pada masa pendudukan Jepang periode 1942-1945 melalui prangko, surat, arsip pos, dan beragam material sejarah lainnya.

Melalui pameran ini, masyarakat diajak untuk memahami sejarah Indonesia melalui perspektif arsip filateli nan selama ini sering dipandang sebagai barang koleksi semata.

Walkot Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengapresiasi penyelenggaraan pameran filateli tersebut. Menurut Agustina, aktivitas ini memberikan nilai tambah bagi Kawasan Kota Lama Semarang nan terus berkembang sebagai pusat aktivitas budaya dan sejarah.

"Pameran ini memperkaya Kota Lama Semarang. Kehadiran beragam koleksi dan arsip berhistoris menjadi daya tarik sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat untuk semakin mengenal sejarah bangsa," ujar Agustina.

Sebagai informasi, aktivitas ini turut dihadiri oleh Executive Vice President Kantor Regional IV Jateng dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) PT Pos Indonesia Agus Aribowo; Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perkumpulan Filatelis Indonesia Mahpudi; Tim Percepatan Pembangunan Kota Semarang; jejeran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng, Pemkot Semarang, Pemkot Yogyakarta, Pemkot Salatiga, dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman; serta unsur organisasi filateli, akademisi, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Hadir mendampingi Fadli, Direktur Warisan Budaya Agus Widiatmoko; Direktur Sejarah dan Permuseuman Agus Mulyana; Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Jawa Barat (Jabar) Retno Raswaty; Kepala BPK Wilayah Jateng Nahar Cahyandaru; serta BPK Wilayah DIY Riris Purbasari.

Simak juga Video: Buku Sejarah Baru RI Bisa Diakses Publik Akhir Februari 2026

(akd/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News