Tulisan ini dibuat lantaran penulis sering memandang banyak wanita di media sosial, terutama di Threads, mempertanyakan satu perihal nan sama: kenapa sesama wanita justru sering lebih keras menghakimi wanita lain. Banyak wanita mengeluhkan gimana komentar tentang tubuh, wajah, langkah berpakaian, pilihan hidup, apalagi urusan hubungan sering kali datang dari sesama wanita dan terasa lebih menyakitkan dibanding penilaian dari laki-laki.
Fenomena ini sebenarnya bukan terjadi begitu saja. Cara wanita memandang sesama wanita dibentuk oleh budaya patriarki nan sudah ditanamkan sejak kecil. Banyak anak wanita dibesarkan dengan tuntutan untuk menjadi “perempuan baik-baik”. Mereka diajarkan untuk sopan, lembut, tidak boleh terlalu berani, tidak boleh terlalu vokal, kudu menjaga penampilan, dan kudu diterima lingkungan sosial. Sementara anak laki-laki lebih sering diberi ruang untuk bebas, aktif, dan dianggap wajar ketika melakukan kesalahan tertentu.
Perempuan sering dibesarkan dengan beragam patokan nan berasosiasi dengan tubuh dan penampilannya. Mereka diajarkan kudu berpakaian tertentu, tidak boleh terlalu terbuka, kudu tertutup, tidak boleh memakai make up berlebihan, tidak boleh menggunakan minyak wangi nan dianggap terlalu mencolok, hingga dilarang pulang malam lantaran dianggap bisa “mengundang” laki-laki. Sementara dalam banyak situasi, beban untuk mengontrol perilaku laki-laki justru lebih jarang dibicarakan.
Pengawasan sosial seperti itu membikin banyak wanita tumbuh dengan tekanan untuk selalu menjaga gambaran diri di depan orang lain. Tubuh dan penampilan wanita terus dijadikan objek penilaian moral oleh lingkungan sekitar. Akibatnya, banyak wanita takut dianggap tidak baik, tidak pantas, tidak feminin, alias tidak cukup sesuai dengan standar sosial nan berlaku. Artinya, sejak awal wanita sudah dibiasakan memandang dirinya melalui penilaian orang lain. Rasa berbobot mereka akhirnya sering berjuntai pada gimana lingkungan memandang penampilan, sikap, dan perilaku mereka. Dari situ budaya saling membandingkan antarsesama wanita mulai terbentuk.
Pemikiran ini bisa dijelaskan melalui teori Simone de Beauvoir dalam The Second Sex. Beauvoir menjelaskan bahwa wanita dalam budaya patriarki selama ini diposisikan sebagai “the Other” alias pihak kedua dalam masyarakat. Perempuan tidak dilihat sebagai manusia utuh nan bebas menentukan dirinya sendiri, tetapi lebih sering dinilai berasas standar sosial nan dibentuk lingkungan. Karena itu, wanita sejak mini didorong untuk menjadi “perempuan baik-baik” sesuai angan masyarakat, bukan menjadi dirinya sendiri secara bebas.
Sejak remaja hingga dewasa, wanita mulai dihadapkan pada standar kecantikan nan semakin kuat di lingkungan sosial. Perempuan perlahan diajarkan bahwa penampilan mempunyai pengaruh besar terhadap gimana mereka diperlakukan dan dihargai. Dari situ muncul tekanan untuk selalu terlihat menarik, rapi, cantik, dan sesuai dengan gambaran ideal nan dibentuk masyarakat. Tidak sedikit wanita akhirnya merasa bahwa diterima alias tidaknya mereka dalam pergaulan sering berjuntai pada penampilan fisik.
Standar kecantikan itu pun terus berubah mengikuti tren, tetapi tekanannya tetap sama. Kulit kudu putih, tubuh kudu langsing, wajah kudu mulus, rambut kudu rapi, dan penampilan kudu sesuai standar sosial nan sedang populer.
Karena sejak mini wanita sudah dibiasakan memandang nilai dirinya melalui penilaian orang lain, banyak wanita akhirnya merasa kudu memenuhi standar kecantikan nan dianggap ideal oleh lingkungan sosial tersebut. Perempuan pun tanpa sadar terbiasa saling membandingkan satu sama lain. Mereka nan dianggap paling mendekati standar tersebut biasanya mendapat lebih banyak perhatian dan pengakuan sosial. Kondisi itu akhirnya membikin banyak wanita berlomba-lomba mengejar standar kecantikan nan sama agar tidak dianggap kurang menarik alias tertinggal dibanding wanita lain.
Contohnya terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Banyak wanita rela mengeluarkan banyak duit untuk skincare, kosmetik, alias perawatan tubuh demi mendapatkan standar elok nan dianggap ideal oleh masyarakat. Di media sosial pun, standar seperti body goals, kulit cerah, dan wajah sempurna terus dipromosikan seolah menjadi ukuran utama nilai perempuan. Sementara di sisi lain, laki-laki umumnya tidak mendapat tekanan standar bentuk nan seketat itu.
Fenomena ini juga terlihat dalam langkah wanita memandang penggunaan skincare, make up, dan produk kecantikan lainnya. Di satu sisi, ada wanita nan merasa standar elok kudu dipenuhi melalui perawatan diri dan penampilan fisik. Akibatnya, wanita nan tidak mengikuti standar tersebut sering dijadikan bahan komentar seperti dianggap kurang merawat diri, kulitnya gelap, tidak menarik, alias kurang layak untuk diperhatikan. Penampilan akhirnya dijadikan ukuran utama untuk menilai nilai diri perempuan.
Namun di sisi lain, wanita nan sejak mini mempertahankan nilai bahwa wanita tidak boleh memakai make up berlebihan dan kudu menjaga gambaran agar terlihat “baik” juga sering ikut mengomentari wanita lain nan terlalu memperhatikan penampilan. Tidak sedikit nan mengatakan “make up-nya menor”, “buat apa dandan berlebihan”, alias “nanti malah mengundang laki-laki”. Akibatnya, wanita berada dalam posisi nan serba salah. Ketika tidak mengikuti standar kecantikan mereka dianggap kurang menarik, tetapi ketika mengikuti standar tersebut pun tetap mendapat penilaian negatif.
Akibatnya, tubuh dan penampilan wanita terus menjadi bahan penilaian sosial. Apa pun pilihan nan diambil, wanita tetap mudah mendapat komentar dan penghakiman dari lingkungan sekitar, termasuk dari sesama perempuan.
Situasi itu juga terlihat dalam relasi percintaan saat remaja. Di lingkungan sekolah misalnya, perhatian dari laki-laki nan dianggap terkenal sering dijadikan simbol status sosial. Tidak jarang wanita akhirnya saling membandingkan penampilan, style bicara, hingga langkah berbaur demi mendapatkan pengakuan di lingkungan pertemanan. Secara tidak langsung, kedekatan dengan laki-laki tertentu kemudian dianggap sebagai tanda bahwa seorang wanita lebih menarik dan lebih layak mendapat perhatian dibanding wanita lain.
Dalam kondisi seperti itu, lingkungan sosial secara tidak langsung juga mendorong wanita untuk bersaing dengan sesama wanita demi mendapatkan perhatian laki-laki nan dianggap populer. Perempuan nan sukses dekat dengan laki-laki tersebut sering dianggap lebih cantik, lebih menarik, alias lebih unggul dibanding nan lain. Akibatnya, banyak wanita mulai merasa perlu menjaga penampilan, langkah berbicara, dan gambaran diri agar tetap dianggap menarik dan mendapat pengakuan dari lingkungan sekitar.
Di lingkungan akademik pun wanita tetap terus dibandingkan dan ditempatkan sebagai objek visual dengan maraknya kejadian “kampus cantik”. Saat ini banyak konten media sosial nan menjadikan mahasiswi sebagai objek visual dengan label “kampus banyak wanita cantik”, “mahasiswi tercantik”, alias konten serupa. Sepintas mungkin terlihat seperti intermezo biasa, tetapi sebenarnya budaya ini mempertegas bahwa wanita tetap dinilai dari penampilan fisiknya.
Yang lebih disayangkan, wanita sendiri sering ikut terlibat dalam budaya tersebut. Ada nan ikut membandingkan, ikut menentukan siapa nan lebih cantik, apalagi menjadikan penampilan sebagai ukuran nilai seseorang. Akibatnya, kampus nan semestinya menjadi ruang intelektual berubah menjadi ruang penilaian visual.
Mahasiswi nan memenuhi standar kecantikan tertentu bakal lebih mudah mendapat perhatian, sementara wanita lain sering merasa tidak cukup menarik. Padahal semestinya bumi kampus menjadi tempat adu gagasan, adu prestasi, dan pengembangan keahlian akademik, bukan tempat memperlombakan penampilan.
Karena itu, wanita sering kali menjadi pihak nan paling aktif mengomentari dan menjaga standar tersebut tetap hidup. Tidak sedikit wanita nan dengan mudah mengomentari tubuh wanita lain, membandingkan wajah, menilai langkah berpakaian, alias merendahkan wanita nan dianggap tidak memenuhi standar kecantikan tertentu. Kalimat seperti “kok sekarang gemukan?”, “kulitnya gelap”, “cewek harusnya feminim”, alias “cewek elok itu nan begini” sering justru datang dari sesama perempuan.
Penghakiman terhadap sesama wanita juga terlihat jelas dalam kasus pelecehan seksual. Tidak sedikit korban justru mendapat pertanyaan dan komentar nan menyalahkan dirinya sendiri, apalagi dari sesama perempuan. Kalimat seperti “makanya pakai baju nan sopan”, “ngapain keluar malam”, “kenapa pergi ke tempat seperti itu”, alias “pasti ada alasannya” sering muncul ketika membahas korban pelecehan seksual.
Cara berpikir seperti ini menunjukkan gimana wanita sejak mini dibentuk untuk selalu menjaga norma dan gambaran diri. Akibatnya, ketika ada wanita nan dianggap keluar dari standar alias patokan sosial nan diyakini lingkungan, sebagian wanita lain justru lebih mudah menghakimi dibanding memandang posisi korban secara utuh. Fokus pembicaraan akhirnya bukan lagi pada tindakan pelaku, tetapi bergeser pada gimana korban berpakaian, pergi, alias bersikap.
Padahal langkah pandang seperti itu justru memperkuat budaya victim blaming dan memperparah kondisi korban. Korban nan semestinya mendapat support malah merasa takut disalahkan, dipermalukan, alias tidak dipercaya. Akibatnya banyak korban memilih tak bersuara lantaran cemas bakal mendapat penghakiman sosial, termasuk dari sesama perempuan.
Kalau mau dibuat afinitas nan lebih mudah dipahami, coba lihat kejadian istilah “pelakor”. Label itu langsung melekat ke wanita nan dianggap merebut pasangan orang lain. Kata tersebut punya nada nan sangat menyalahkan, apalagi sering membikin wanita menjadi sasaran hujatan massal di media sosial.
Sekarang coba dibandingkan, apakah ada istilah untuk laki-laki nan dampaknya sekuat dan sepopuler “pelakor”? Memang ada beberapa julukan untuk laki-laki nan melakukan perihal serupa, tetapi penggunaannya tidak sebesar dan setajam istilah pelakor. Dalam banyak kasus, laki-laki justru lebih sering dimaklumi, dianggap “namanya juga laki-laki”, alias kesalahannya tidak dibahas sebesar wanita nan terlibat.
Ketika ada masalah dalam relasi, wanita sering lebih sigap dijadikan pusat penilaian moral. Fokus masyarakat akhirnya bergeser bukan pada situasi secara utuh alias tanggung jawab kedua pihak, melainkan pada satu wanita nan dianggap paling bersalah.
Yang lebih ironis, penghakiman itu sering datang dari sesama wanita nan tanpa sadar ikut menjaga standar moral dan sosial nan sudah lama dibentuk lingkungan. Karena terlalu lama hidup dalam tekanan standar tersebut, banyak wanita akhirnya terbiasa memandang wanita lain melalui ukuran moral nan sama.
Sementara dalam konteks nan sama, laki-laki tidak selalu mendapat tekanan sosial dan moral nan seketat perempuan. Akibatnya, budaya saling menghakimi antar laki-laki tidak muncul sekeras nan terjadi pada perempuan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa wanita nan menghakimi sesama wanita bukan muncul begitu saja secara alami. Cara pandang itu terbentuk dari bangunan sosial nan sudah ditanamkan sejak masa kecil. Perempuan tumbuh dalam lingkungan nan terus memberi standar tentang gimana wanita “seharusnya” bersikap, tampil, dan hidup. Mereka dibiasakan untuk mengejar pengakuan sosial, memenuhi ekspektasi lingkungan, dan tanpa sadar terus membandingkan dirinya dengan wanita lain.
Pemikiran ini sejalan dengan teori Simone de Beauvoir dalam The Second Sex nan menjelaskan bahwa wanita selama ini dibentuk untuk memandang dirinya melalui perspektif pandang masyarakat patriarki. Perempuan akhirnya lebih sering dinilai berasas penampilan, citra, dan penerimaan sosial dibanding sebagai perseorangan nan bebas menentukan dirinya sendiri. Karena itu, standar sosial terhadap wanita terus diwariskan dan dijaga apalagi oleh sesama wanita tanpa disadari.
Akibatnya, ketika ada wanita nan dianggap lebih cantik, lebih sukses, lebih menarik, alias justru dianggap keluar dari norma nan ada, penilaian dan penghakiman lebih mudah muncul. Perempuan akhirnya tidak hanya menjadi korban standar sosial patriarki, tetapi juga ikut menjaga dan meneruskan standar itu kepada sesama perempuan.
Karena itu, memandang wanita saling menghakimi tidak cukup dipahami hanya sebagai persoalan perseorangan alias sifat individual semata. Ada budaya patriarki nan panjang dalam membentuk langkah wanita memandang dirinya sendiri dan wanita lain. Selama wanita tetap terus ditempatkan dalam standar nan sempit dan terus dibandingkan satu sama lain, budaya saling menjatuhkan bakal tetap terus berulang di beragam corak kehidupan sosial.
57 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·