Jakarta -
Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo mengapresiasi sosok Bripda Muhammad Putra Aulia, personil Polda Riau, nan mempunyai keahlian di bagian ketahanan pangan, dan mengedepankan prinsip green policing pada penemuan nan diciptakannya. Bripda Putra diketahui mengembangkan Fertiplus Harmoni Hijau, nan merupakan pupuk ramah lingkungan.
Dia telah memproduksi lebih dari 5,2 ton pupuk tersebut, dan didistribusikan ke seluruh polres dan polsek jejeran Polda Riau. Ia juga mengembangkan Densifur (disinfektan sulfur multifungsi) untuk sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. Inovasi Bripda Putra dinilai bentuk konkret Bhayangkara dalam mendorong produktivitas pertanian, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
"Inilah wajah Polri nan mau kita bangun. Anggota nan tidak berakhir belajar, bisa mengembangkan keilmuannya, kemudian mengimplementasikannya untuk kepentingan masyarakat," kata Komjen Dedi dalam keterangan pada Jumat (7/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kompetensi nan dimiliki setiap personel kudu menjadi kekuatan lembaga dalam mendukung program-program nasional, mulai dari ketahanan pangan, lingkungan hidup, kesehatan, teknologi, hingga pelayanan publik," lanjutnya.
Bripda Putra menyandang gelar akademik Sarjana Peternakan (S.Pt). Dia direkrut oleh Polri dari jalur bintara kompetensi unik (bakomsus).
Bripda Putra Ciptakan Pupuk Ramah Lingkungan Foto: (Dok istimewa)
Sebagai sarjana peternakan, Bripda Putra mempunyai kompetensi di bagian peternakan, teknologi hasil ternak, keamanan pangan, nutrisi ternak, teknologi pakan, biosekuriti, hingga pemberdayaan masyarakat berbasis pengetahuan pengetahuan. Dia menyelesaikan studi strata satu dengan di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau dengan raihan predikat cum laude, ialah IPK 3,80.
Saat ini Bripda Putra tengah menempuh pendidikan Magister Peternakan di Universitas Padjadjaran. Dia berfokus pada bagian Nutrisi Ternak.
Penelitian nan dikembangkannya berfokus pada penemuan feed additive berbasis masam amino untuk meningkatkan efisiensi Feed Conversion Ratio (FCR), produktivitas peternakan. Penelitiannya didasari semangat mendukung ketahanan pangan nasional.
"Pangkat bukan argumen ataupun penghalang untuk terus mengembangkan diri. Setiap personil Polri mempunyai kesempatan nan sama untuk belajar, meneliti, berinovasi, dan mengabdikan ilmunya bagi masyarakat. Passion terhadap pengetahuan pengetahuan kudu menjadi daya untuk menghadirkan solusi atas beragam persoalan bangsa," jelas Komjen Dedi.
Bripda Putra pernah menjadi Farm Manager Partnership di PT Charoen Pokphand Indonesia, sebelum memutuskan berasosiasi sebagai abdi negara. Kala itu dia diberi tanggung jawab mengelola peternakan broiler berkapasitas hingga 100.000 ekor, mengembangkan biosekuriti, nutrisi, sanitasi, feed additive, serta manajemen produksi peternakan modern.
Ia juga berilmu sebagai Farm Manager Quality Control di PT Malindo Feedmill Indonesia, nan tugasnya mengendalikan mutu produksi peternakan. Pun dia pernah bekerja sebagai Tenaga Ahli Quality Assurance pada industri air minum demineral, dengan tugas memastikan penerapan standar HACCP, GMP, BPOM, dan SNI.
"Kami mau membangun budaya organisasi nan menghargai pengetahuan pengetahuan. Siapa pun anggotanya, apa pun pangkatnya, ketika mempunyai gagasan, riset, dan penemuan nan berfaedah bagi masyarakat, maka kudu diberikan ruang untuk berkembang," tegas Komjen Dedi.
"Polri kudu menjadi rumah bagi penemuan sekaligus mitra strategis perguruan tinggi dalam melahirkan solusi bagi bangsa," imbuh dia.
Bripda Putra merupakan Siswa Terfavorit, Serdik Terinovatif, Satya Mitra Utama, selama menempuh pendidikan bintara, berkah kemampuannya menciptakan prodik-produk pertanian ramah lingkungan. Dia juga mendapatapresiasi langsung dari Kepala Pusdik Binmas Polri.
Produk nan dikembangkan Bripda Puyra juga sejalan dengan kebijakan Polda Riau, di bawah kepemimpinan Irjen Herry Heryawan, ialah Green Policing. Paa kesempatan terpisah, Irjen Heery menjelaskan Green Policing merupakan paradigma pemolisian nan menempatkan perlindungan lingkungan hidup sebagai bagian integral dari pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat.
Irjen Herry menganggap Ancaman terhadap lingkungan, seperti kebakaran rimba dan lahan, pembalakan liar, perambahan area hutan, pencemaran, hingga perubahan iklim, tidak hanya berakibat terhadap ekosistem, tetapi juga berpotensi memicu bentrok sosial, mengganggu aktivitas ekonomi, dan menakut-nakuti keselamatan masyarakat. Oleh karena itu Irjen Herry mengimplementasikan Green Policing melalui tiga pilar utama, ialah prevention, law enforcement, dan restoration.
(aud/zap)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·