BRIN Peringatkan Krisis Air Dampak El Nino dalam Enam Bulan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
BRIN Peringatkan Krisis Air Dampak El Nino dalam Enam Bulan Anggota TNI membantu petani menanam padi dalam Gerakan Percepatan Tanam Serentak di area persawahan Kelurahan Mulyorejo, Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (23/4/2026). Gerakan nan dilaksanakan serentak di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur pada musim tana( ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/YU)

PENELITI Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin mengingatkan akibat El Nino dalam enam bulan ialah krisis air dan gangguan pangan akibat penguatan kejadian El Nino. 

Berdasarkan pemantauan terbaru, indeks El Nino saat ini telah mencapai nomor 0,81 dan menunjukkan peningkatan nan cukup sigap dibandingkan beberapa pekan sebelumnya. 

Menurut Erma, kejadian tersebut mengindikasikan El Nino sedang mengalami percepatan dan berpotensi meningkat dari kategori lemah menjadi moderat pada Juni, lampau menguat pada Juli hingga memasuki kategori super El Nino dalam beberapa bulan berikutnya.

"Kalau kita bicara soal dampak, pertama pertanian, krisis air itu sudah pasti enam bulan ini kudu dipikirkan. Kemudian krisis daya juga lantaran waduk-waduk andaikan debitnya berkurang bakal berpengaruh terhadap pasokan listrik," kata Erma, Rabu (17/6). 

Menurut dia, periode Juni hingga November alias JJASON bakal menjadi fase nan perlu mendapat perhatian serius. Meski musim tandus tahun ini belum tentu jauh lebih panjang dibandingkan normal, kondisi atmosfer diperkirakan bakal jauh lebih kering dan lebih panas sehingga meningkatkan akibat kekeringan di beragam daerah.

Erma menjelaskan puncak akibat diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September. Pada periode tersebut, sejumlah wilayah berpotensi mengalami dry spell alias rentetan hari tanpa hujan nan berjalan lebih lama dari biasanya.

Pulau Jawa disebut menjadi salah satu wilayah nan paling rentan terdampak lantaran tingginya jumlah masyarakat serta kebutuhan air untuk rumah tangga, pertanian, dan industri. 

Sementara itu, sebagian besar Kalimantan juga diperkirakan bakal mengalami kondisi kering nan signifikan.

Selain menakut-nakuti sektor pertanian dan kesiapan air, penguatan El Nino juga berpotensi meningkatkan akibat kebakaran rimba dan lahan (karhutla), terutama di Kalimantan. 

"Kondisi cuaca nan lebih panas dan kering dapat mempercepat penyebaran api serta memperbesar akibat lingkungan nan ditimbulkan," ucapnya. 

Meski demikian, Erma menilai Indonesia tetap mempunyai kesempatan untuk mengurangi akibat kekeringan lantaran dikelilingi perairan nan dapat membantu pembentukan awan hujan. Ia memperkirakan hujan bakal mulai kembali turun secara lebih konsisten pada Desember mendatang.

Untuk itu, dia meminta pemerintah segera memperkuat langkah mitigasi, terutama memastikan kesiapan persediaan air dan mengoptimalkan pengisian waduk sebelum puncak musim tandus terjadi.

"Yang kudu dipikirkan sekarang adalah gimana mengamankan waduk-waduk dan stok air. Jangan sampai kelak terjadi kekeringan seperti nan pernah terjadi beberapa tahun lampau ketika sejumlah waduk mengalami penurunan debit nan sangat drastis," ujarnya.

Erma juga mendorong penguatan sistem irigasi, pengelolaan air tanah, serta pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca andaikan diperlukan untuk menjaga pasokan air bagi masyarakat dan sektor pertanian selama periode tandus tahun ini. (H-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia